.

 

 

(Opini Redaksi Situs Tetangga)

CAIRO (voa-islam.com) – Belum pernah ada  sepanjang sejarah umat manusia, terjadi penjatuhan hukuman massal oleh pengadilan seperti di Mesir. Di mana pengadilan militer Mesir menjatuhi hukuman mati terhadap hampir 600 anggota Jamaah Ikhwan dan pendukung Presiden Mohammad Mursi. Mereka dituduh melakukan pembunuhan. (Padahal) Semua tidak pernah dilakukan oleh anggota Ikhwan maupun pendukung Presiden Mursi.

Satu-satunya kesalahan dan kejahatan mereka yang dijatuhi hukuman mati itu, hanyalah (karena) mereka menjadi anggota dan pemimpin Ikhwan. Tidak ada yang lain. Junta militer Mesir bertujuan ingin menghancurkan Jamaah Ikhwan sampai ke akar-akarnya. Ikhwan sudah menjadi  ancaman yang sangat berbahaya dan menakutkan bagi rezim di negara-negara Arab dan Teluk.

Tindakan rezim junta militer Mesir yang dipimpin oleh Marsekal Abdul Fattah al-Sissi sangat biadab, brutal, tidak berperikamanusiaan, menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan, dan melanggar hak-hak dasar kehidupan manusia. Belum pernah ada bandingan kejahatan yang dilakukan oleh rezim junta militer Mesir dengan rezim manapun di dunia. Bahkan, kejahatan kemanusiaan di Rwanda pun, masih belum berbanding dengan kejahatan yang dilakukan oleh Marsekal al-Sissi.

Junta militer Mesir bukan hanya mambantai Muslim  Mesir secara brutal dan biadab terhadap ribuan pendukung Presiden Mursi, tetapi juga  menangkapi puluhan ribu anggota Ikhwan, dan memasukkan mereka ke dalam penjara militer, menyiksa mereka secara keji. Inilah langkah militer Mesir, sesudah mereka menggulingkan Presiden Mohammad Mursi.

Semua bermula, ketika Jamaah Ikhwanul Muslimin  memenangkan pemilihan parlemen dan presiden Mesir pada tahun 2012. Kemenangan Ikhwan sangat menakutkan Zionis- Israel dan negara-negara Barat. Tentara Mesir dan kaum liberal terlalu takut. Karena Ikhwan dikhawatirkan akan mengakhiri penjarahan asset negara melalui kekuasaan mereka sejak tahun 1952.

Tentara dan kaum liberal takut nasib mereka diberangus, saat kaum Islamis berkuasa dipimpin oleh Mursi. Kalangan liberal selama ini membiarkan tentara berkuasa dengan sangat korup dan menjarah asset negara melalui kekuasaan  mereka, dan membiarkan kehormatan bangsa Mesir terinjak-injak oleh kepentingan asing.

Ketika pemerintahan Gamal Abdel Nasser yang  terdiri dari sejumlah perwira tentara, kemudian dilanjutkan oleh Kolonel Anwar Sadat, dan  Marsekal Hosni Mubarak, tentara Mesir  menguasai lebih dari 60 persen  ekonomi Mesir. Banyak mantan perwira militer menduduki jabatan-jabatan strategis di sektor publik dan swasta .

Namun, akibat revolusi Arab (Arab Spring) tampaknya semua ini akan berubah. Pemilihan umum yang bebas diselenggarakan untuk pertama kalinya dalam sejarah negara di Mesir. Ikhwan  menang mayoritas di parlemen , Dewan Syura dan pemilihan presiden.

Sebuah konstitusi yang disusun oleh parlemen dan Dewan Syura telah disetujui oleh mayoritas rakyat dalam referendum yang bebas dan adil. Inilah sebuah perjuangan terbesar yang dilakukan oleh Jamaah Ikhwan, dan berhasil mengubah konstitusi Mesir, dan menjadikan Syariah Islam sebagai sumber hukum tertinggi dalam undang-undang di Mesir.

Terlepas dari kemenangan yang sudah dicapai oleh Jamaah Ikhwan ini, tetapi masih sangat jauh dari pengusaan terhadap “Negara”. Kekuatan lama  (rezim Mubarak) masih  mengontrol dan memerintah negara Mesir. Peradilan masih didominasi oleh hakim yang dipilih oleh Presiden Hosni Mubarak.

Presiden Mohammad Mursi dan pemerintahannya tidak memiliki kontrol  atas tentara, polisi dan  intelijen. Sementara kaum liberal  dan tentara yang didukung kekuatan asing melakukan intervensi, terutama Amerika Serikat, Israel, Arab Saudi dan negara Teluk, mendukungnya (untuk) penggulingan Presiden Mohammad Mursi.

Kemudian, Israel tahu bahwa  Ikhwan  satu-satunya kekuatan yang telah berperang melawan milisi teroris Yahudi pada tahun 1948, sebaliknya  tentara Arab membantu orang-orang Yahudi atau berdiri diam.

Penguasa negara-negara Arab dan  Teluk meyakinkan para jenderal tentara Mesir  dengan dukungan politik dan keuangan mereka secara penuh. Mereka khawatir bahwa para raja, pengeran dan perdana menteri  dan keluarga mereka, sangat takut dan cemas, serta merasa terancam, jika Ikhwan mengakar  di Mesir.

Satu-satunya jalan, Ikhwan harus dimusnahkan dari bumi Mesir, dan memberikan dukungan tanpa batas kepada rezim junta militer Mesir, membantai secara massal pendukung Mursi dan membantai mereka serta memenjarakan mereka.

Tentara Mesir menggulingkan Presiden Mursi,  membunuh ribuan demonstran pendukung Mursi di Rabi’ah al-Adawiyah,  ribuan anggota dan pemimpin Ikhwan , termasuk Presiden Mursi dimasukkan ke dalam penjara, mereka dengan  tuduhan makar dan terorisme.  Sangat luara biasa tindakan rezim militer Mesir terhadap Ikhwan.

Pada 25 Desember tahun lalu , Mesir menyatakan Ikhwan  sebagai  “organisasi teroris”. Sekarang anggota Ikhwan di dalam dan luar negeri ditangkap, terutama di negara-negara Teluk  dengan tuduhan  sebagai “terorisme”.

Pengadilan Mesir  melangkah lebih jauh dan menyatakan Hamas, Gerakan Palestina yang menguasai Jalur Gaza , sebagai organisasi “teroris”. Tentu, Zionis-Israel sangat senang dengan perkembangan di Mesir.

Para pemimpin Israel secara terbuka mengungkapkan kegembiraan mereka atas perkembangan di Mesir dan  menyatakan bahwa Israel merasa aman dan pemimpin Israel dapat tidur dengan nyenyak.  Benar-benar tentara Mesir dan Marsekal Abdul Fattah al-Sissi merupakan ‘budak’ Israel. Junta militer Mesir seperti ‘Dajjal’ yang nyata sekarang?

Kejahatan Zionis-Israel terhadap bangsa Palestina masih belum sebanding dengan kejahatan yang dilakukan rezim junta militer Mesir. Rezim militer Mesir bukan hanya membantai  Muslim, tetapi menghancurkan asset yang paling penting bangsa Mesir, yaitu Jamaah Ikhwan.  Tetapi, Dunia Islam dan gerakan-gerakan Islam di seluruh dunia, tidak ada yang bersuara atas kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Mesir. Wallahu a’lam.

voa-islam.com/ Jum’at, 27 Jumadil Awwal 1435 H / 28 Maret 2014 14:09 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 556 kali, 1 untuk hari ini)