(Masalah Sesatnya Tarekat Naqsyabandi Haqqani dan Khabar Baiatnya Tokoh Penyanyi)

Hasil penelitian LPPI (Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam) Pusat Jakarta di antaranya mengemukakan bukti adanya ajaran shalat palsu dari Hisham Kabbani grandshaikh Tarekat Haqqani, yang shalat itu tidak sesuai sama sekali dengan Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Membuat shalat palsu tapi atas nama Islam itu berarti dia sama dengan nabi palsu.

Inilah kutipan dari tulisan LPPI:

Penodaan Terhadap Syariat Islam

Di dalam Jurnal Ahl Haq Koleksi I, edisi Maret-Juni 2005,yang diterbitkan oleh Yayasan Haqqani Indonesia, Hisham Kabbani bercerita di bawah judul,“Wanita Inggris Itu,” isinya adalah sebagai berikut, Seorang wanita masuk ke ruang pertemuan. Berbusana cantik dan tidak berkerudung. “Apakah beliau yang bernama Syaikh Abdullah QS?” Tanya si wanita itu. Maka mereka pun menjawab, “Ya!” Maka wanita itu pun menghampiri Grandsyaikh, lalu memeluk, dan mencium beliau, dan kemudian dia menangis. Para ulama yang hadir mulai berbisik-bisik, “Pemandangan macam apa ini? Dari mana asal wanita itu?”

Grandsyaikh berkata, “Oh anakku, apa yang Nabi SAW katakan padaku saat ini, aku akan sampaikan kepadamu. Jika Nabi SAW muncul saat ini (bukan secara spiritual, tetapi secara nyata bagi semua orang), maka beliau akan memerintahkan kamu persis seperti apa yang akan aku sampaikan kepadamu. Ini semua dari beliau, jika kamu tetap menjaga di jalan itu, maka kamu akan mampu bertemu dan melihat Nabi SAW. Jangan melihat seorang muslim, kamu tidak ada urusan dengan mereka. Siapa pun yang ingin menjadi seorang muslim, harus mengikuti tiga kewajiban ini, dan jika kamu menerimanya, maka kamu akan bersama Nabi SAW dan para auliyanya, dan jangan dengarkan yang lain!”

  1. Begitu kamu membuka mata saat bangun pagi, ucapkan, Asyhadu an laa ilaaha illalllaah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah (Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah SWT dan Muhammad SAW adalah utusan-Nya). Kemudian minta ampun kepada Allah SWT dan bacalah berulangkali astagfirullah, sebagai pelindung bagimu sepanjang hari agar tidak terjatuh ke dalam dosa!
  2. Kamu hanya perlu mengetahui ibadah 5 kali, yaitu sebelum matahari terbit, siang hari, satu atau dua jam sebelum matahari tenggelam, ketika matahari tenggelam, dan satu jam setelah matahari tenggelam. Kerjakan 5 kali sujud saja, satu kali setiap ibadah. Ucapkan, “Allahu Akbar” dan bersujudlah. Ketika sujud katakan “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hamba-Muaku beriman kepada-Mu, beriman kepada semua utusan-utusan-Mu, dan beriman kepada utusan-Mu Muhammad SAW.” Hanya itulah yang perlu kamu ucapkan, tidak perlu membaca yang lain. Lakukan hal ini pada setiap ibadah 5 kali sehari!”
  3. Sebelum kamu tidur, katakan di depan tempat tidurmu, “Ya Allah, ampunilah apa pun yang telah aku perbuat sepanjang hari ini. Dan siapa pun yang menyakitiku sepanjang hari ini aku memaafkan mereka semua.” Lalu ucapkan lagi syahadat3 kali dan astagfirullah 3 kali. Inilah yang aku ajarkan kepada seorang wanita di Bombay tentang ibadah selain mengajarinya tentang spiritualitas. Jika engkau terus mengamalkan hal ini, maka akan dicatat sama dengan melakukan shalat 5 waktu seperti yang dilakukan oleh semua muslim. Jangan bertanya kepada ulama, jangan dengarkan kata mereka! Wanita itu menjawab, “Baik Syaikh!” (Ahl Haq Koleksi 1, edisi bulan Maret- Juni 2005, hal. 29, 30, 31).

Penulis (LPPI) menilai bahwa cara beribadah yang diajarkan seperti yang telah ditulis oleh Syaikh Hisham Kabbani yang telah kami cantumkan kutipannya di atas sangat menyimpang dan sesat serta menyesatkan. Syariat Islam telah menjelaskan bahwa kewajiban melaksanakan ibadah shalat telah termaktub di dalam Al-Qur`an dan tata caranya telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Tidak ada tata cara shalat selain apa yang telah Nabi Muhammad SAW ajarkan kepada para sahabatnya dan termaktub di dalam hadits-hadits beliau.

Membuat tata cara shalat baru dan mengajarkannya kepada orang lain adalah sebuah bentuk penodaan terhadap ajaran Islam dan penghinaan terhadap Allah dan Rasul-Nya, serta pengingkaran terhadap syariat Islam.

Demikian penilaian LPPI terhadap Tarekat Naqsyabandiyah Haqqani mengenai  Penodaannya Terhadap Syariat Islam.

Perlu disadari, bagaimanapun, shalat adalah pokok dalam Islam, bahkan merupakan rukun Islam yang kedua dari lima rukun Islam. Ketika ada yang membuat shalat palsu, berarti telah memalsu Islam, membuat syari’at sendiri namun diatas namakan Islam. Itu sama dengan nabi palsu.

Bukan hanya membuat shalat palsu, namun juga membela  orang kafir dan mengingkari ayat Al-Qur’an serta menghina Nabi.

  1. Membela orang kafir dan mengingkari ayat Al-Qur’an

Di dalam hal. 16 di dalam buku karangan Mawlana Syaikh Muhammad Hisham Kabbani QS yang berjudul Rahasia Tiga Cahaya – Rahasia Di Balik Bilangan Tiga, Hisham Kabbani menulis, “Mawlana berkata, ‘Jika Allah mengutuk orang-orang kafir, Dia tidak akan menjadi Tuhan, karena semuanya diciptakan dari Cahaya Ilahi, dari cahaya Rasulullah SAW, dan dari cahaya Adam AS. Bagaimana mungkin Dia mengutuk mereka? Tidak mungkin mengutuk mereka. “

Syaikh tarekat itu membela orang kafir dan mengingkari ayat Al-Qur’an:

{إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا } [الأحزاب: 64]

“Sungguh, Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. Al-Ahzab [33] : 64)

  1. Penghinaan terhadap Nabi

“Tiga sifat hewan-hewan (keledai, anjing, babi) ini milik para Nabi dan Aulia. Bila seorang manusia tidak memiliki sifat-sifat ini, dia bukanlah seorang nabi yang membawa semua beban dunia, menerima semua bentuk penyiksaan, dan masih menjaga utuh keyakinan akan Tuhannya dan kesabaran bagi semua. (buku karangan Mawlana Syaikh Muhammad Hisham Kabbani QS yang berjudul, Rahasia Tiga Cahaya – Rahasia Di Balik Bilangan Tiga, pada hal. 82 dengan sub judul “Tiga Karakter Auliya).

Menurut peneliti dari LPPI Jakarta, tulisan syaikh tarekat itu adalah bentuk penghinaan yang jelas-jelas nyata yang ditujukan kepada pada nabi, khususnya Nabi Muhammad SAW sebagai insan mulia yang mendapat bimbingan langsung dari Allah SWT. Apakah layak kita menganggap bahwa seorang nabi harus memiliki 3 sifat dari 3 jenis hewan yang telah dijelaskan dalam Al-Qur`an? Misalnya sifat seekor keledai, anjing dan babi.
Allah SWT berfirman,

{مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} [الجمعة: 5]

“Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalahseperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Jum’ah [62] : 5)

{وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ} [الأعراف: 176]

“Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.”(QS. Al-A’raf [7] : 176)

{ إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [البقرة: 173] 

“Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah,daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”(QS. Al-Baqarah [2] : 173)

· Ajaran Yaqzah

Syeh tarekat ini mengaku berjumpa dengan Nabi saw dalam keadaan jaga (melek, bukan mimpi) dengan sebutan yaqzah (jaga, melek).

Seorang da’i di Malaysia menjelaskan bahaya Tarekat Naqsyabandi Al-Aliyah/ Haqqani ini:

· Yaqazah

Sebenarnya bahaya konsep yaqazah ketika diterima seperti yang dipahami . Sebab setiap orang bisa dakwa (mengaku-aku) jumpa Nabi Muhammad SAW . Orang lain tidak melihat . Pengikut percaya sebab anggap dia wali dan tidak mungkin menipu tapi sebenarnya dia berbohong . Jadi siapa bisa efek ? Jabatan Kemajuan Islam Malaysia ( Jakim ) pun sah isytihar bahwa salah satu kesesatan tarekat itu sebab ia membawa paham yaqazah . (utusan.com.my – 24 Mei 2015).

· Baiah

Ketika terima baiah, hal itu bukan bisa dibuat main-main karena ia berarti segala kepercayaan dan praktek tarekat tersebut akan dituruti. Jika Sheikh Muhammad Hisham Kabbani menyebut nama Sheikh Nazim, itu berarti ia membawa tarekat yang sama. (utusan.com.my – 24 Mei 2015).

Orang yang berbaiat kepada syeh tarekat ini berarti taat setia kepada ajarannya. Padahal di antara ajarannya seperti berikut ini:

Dalam tulisan yang berjudul, “Khalwat: Perintah Untuk Diikuti dan Dukungan dari Allah.”terdapat doktrin lain yang menyatakan, “Di dalam tarikat, dengarkanlah apa yang dikatakan oleh syaikh, walaupun beliau menyuruh menggali bumi lapisan ke-7 dengan sekop patah, maka kalian harus menggali. Janganlah kalian mengatakan, “Tidak!” Jangan gunakan akal kalian dan berkata, “Itu mustahil!” Jika syaikh mengatakan, “Anakku, pergilah ke laut itu, kosongkan air laut itu dengan sebuah gelas atau sebuah ember. Amanat kalian ada di dasar lautan!” Maka kalian harus mengosongkan lautan itu, duduk di sana dan bawa satu ember, lalu kalian katakan, “Syaikh telah menyuruh saya untuk mengosongkan air laut, maka aku akan mengosongkannya.” Bahkan jika kalian mengosongkan dari sini dan airnya kembali lagi dari belakang, maka itu tidak masalah. Kalian telah melaksanakan perintah (itha’atul mursyid/taat kepada mursyid). Jika kalian taat kepada syaikh, maka kalian pun taat kepada Nabi SAW dan taat kepada Allah SWT.” (Ahl Haq, Koleksi 1, Maret 2005, hal. 68-69).

Ajaran tarekat ini sangat bertentangan dengan hadits berikut ini:

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَلِيٍّ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ جَيْشًا وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَجُلًا فَأَوْقَدَ نَارًا وَقَالَ ادْخُلُوهَا فَأَرَادَ نَاسٌ أَنْ يَدْخُلُوهَا وَقَالَ الْآخَرُونَ إِنَّا قَدْ فَرَرْنَا مِنْهَا فَذُكِرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِلَّذِينَ أَرَادُوا أَنْ يَدْخُلُوهَا لَوْ دَخَلْتُمُوهَا لَمْ تَزَالُوا فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَقَالَ لِلْآخَرِينَ قَوْلًا حَسَنًا وَقَالَ لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

Riwayat dari Abu Abdurrahman dari Ali, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirim suatu pasukan dan mengangkat seorang laki-laki menjadi komandannya. Kemudian ia menyalakan api (unggun) seraya berkata, “Masuklah kalian ke dalam api tersebut.” Maka sebagian anak buahnya hendak masuk ke dalam api tersebut, sedangkan sebagian anak buahnya yang lain mengatakan, “Kita harus menjauhi api tersebut.” Kemudian peristiwa tersebut dilaporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas beliau bersabda kepada orang-orang yang hendak melompat ke dalam api tersebut: “Sekiranya kalian masuk ke dalam api tersebut, maka kalian akan senantiasa di dalamnya hingga hari Kiamat.” Kemudian beliau berkata pula kepada yang lain dengan lemah lembut, sabdanya: “Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanyalah di dalam kebajikan.” (HR al-Bukhari, Muslim 3424 , An-Nasaai dan Ahmad)

Dikhabarkan, ajaran tarekat yang sesat ini

Diwarisi oleh tokoh kenamaan yang populer dengan hadroh dan sholawatannya, yaitu Habib Syech Abdul Qodir Assegaf, yang telah di baiat sebagai pengikut Tarekat Naqsyabandi al Aliyyah oleh Sheikh Muhammad Hisyam Kabbani Guru besar Tarekat ini, yang ternyata Habib Syech ini tidak hanya populer di Indonesia namun ternyata juga populer di negeri jiran Malaysia.berikut ini link videonya:

Habib Syech Assegaf Berbaiah Dengan Tarekat Naqsyabandi

https://youtu.be/E5gxqDjZmCE

Ketika sudah jelas ada bukti-bukti kesesatannya seperti tersebut, (kesesatan selengkapnya lihat artikel ini: https://www.nahimunkar.org/kesesatan-tarekat-naqsyabandi-haqqani/ ) maka seyogyanya orang yang pernah berbaiat, apalagi tokoh panutan banyak orang, misalnya, maka hendaknya mencabut dan mengumumkan bahwa dirinya berlepas diri dari itu semua, dan menyatakan bahwa itu semua adalah sesat.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.910 kali, 1 untuk hari ini)