Sumber Foto : news.detik.com/Ilustrasi


Mengingatkan kita pada kisah Bal’am bin Ba’ura, ulama jahat yang dikecam dalam Al-Qur’an, diibaratkan anjing menjilat-jilat

Berita itu mengagetkan, karena melakukan ibadah (khataman Al-Qur’an) memohon ridho Allah namun untuk pemenangan Ahok, sedangkan Ahok bukan orang Islam. Bukan muslim itu adalah orang kafir menurut Al-Qur’an. Walhal, dalam Al-Qur’an ditegaskan, Allah tidak meridhoi kekafiran bagi hambanya.

وَلَا يَرۡضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلۡكُفۡرَۖ  [سورة الزمر,٧]

“…dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; ..” (Az-Zumar: 7)

Bagaimana memohon keridhoan Allah untuk dukung orang kafir agar menang? Masih pula pakai peribadahan baca A-Qur’an lagi. Sedangkan dalam Al-Qur’an itu sendiri sudah jelas Allah tidak ridho kepada kekafiran bagi hambaNya.

Kelakuan Nusron ini justru di dalam Al-Qur’an itu sendiri telah ada kecaman terhadap pendukung kekufuran walau dilakukan oleh orang yang dikenal berilmu, alim lagi shalih (tadinya). Namun dengan kelakuannya itu maka sangat dikecam, dikenal dengan kisah Ulama Bal’am bin Ba’ura yang diibaratkan anjing menjilat-jilat.

Kisah Ulama Bal’am bin Ba’ura

Ada sebuah perumpamaan dari Allah yang membuat kita tercengang. Betapa hinanya orang-orang alim atau berilmu yang tergelincir dengan pengetahuann hingga membuatnya dirinya menjadi rendah. Mereka adalah orang-orang yang menggunakan ilmunya untuk mendapatkan harta dunia belaka, serta untuk mendapatkan kedudukan di mata makhluk. Allah Ta’ala berfirman:....

{ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176) سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ } [الأعراف: 175 – 177]

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat lalim.” (QS. Al-A’raf, 7: 175-177).

Ayat ini mengisahkan tentang Bal’am bin Ba’ura, seorang dari Bani Israil di zaman dahulu yang dikaruniai ilmu, tapi hatinya cenderung kepada harta dunia. Maka ia diperumpamakan dengan anjing.

Ali bin Abu Thalhah menuturkan dari Ibnu Abbas ra, ia adalah seorang yang berasal dari suatu kota yang dihuni oleh kaum yang gagah perkasa dan kasar-kasar pembawaannya. Ia bernama Bal’am dan ia mengetahui nama Allah yang Mahaagung (al-Ismul Akbar).
Ali bin Abi Thalhah menuturkan dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Musa singgah bersama orang-orang yang menyertainya di kota itu, maka kabilah-kabilah dan kaum di kota itu datang kepada Bal’am seraya mengatakan, “Musa adalah orang yang sangat kuat, dan ia bersama pasukan yang sangat banyak. Jika ia mengalahkan kami, maka ia akan membinasakan kami. Oleh karena itu, berdo’alah kepada Allah agar mengusir Musa berikut orang-orang yang menyertainya dari kami.”

Bal’am mengatakan, “Jika aku berdoa kepada Allah supaya menolak Musa berikut orang-orang yang menyertainya, niscaya lenyaplah dunia dan akhiratku.” Namun, mereka tidak henti-hentinya memohon, hingga Bal’am mendoakan keburukan atas Musa dan kaumnya. Akhirnya Allah menanggalkan kelebihan yang ada pada dirinya. Itulah makna firman Allah; “Kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda).[ Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. Al-A’raf, 7: 175-177. Jilid 3, hal, 728]. https://www.nahimunkar.org/kisah-ulama-balam-dan-penjual-agama-masakini/

Mengenai berita Nusron, silakan simak berikut ini.

***

Kacau…! Nusron Wahid, Khataman Qur’an Memohon Ridho Allah SWT Untuk Pemenangan Ahok

Pendukung calon petahana di Pilgub DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), hari ini resmi menjadikan rumah di Jalan Lembang 25-27, Menteng, Jakarta Pusat, sebagai base camp.

Sebagai peresmian, Ketua Tim Pemenangan Ahok, Nusron Wahid siang ini memimpin langsung khataman Alquran dan pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qodir Jaelani yang diikuti puluhan orang.

“Ini dari upaya kita memohon ridha Allah SWT agar pemanfaatan rumah ini berkah,” kata Nusron Wahid saat menyampaikan sambutan singkatnya, di Rumah Lembang, Jakarta Pusat. Hal tersebut disampaikan dalam siaran pers, Kamis (25/8/2016).

Nusron menjelaskan, tradisi khataman Alquran dan manaqib sudah melekat di kalangan masyarakat muslim Indonesia. Itu juga yang dilakukan Nusron ketika mengawali tugas beratnya mendapat amanah sebagai ketua tim pemenangan Ahok di Pilkada DKI Jakarta nanti.

Setelah acara khataman Alquran dan pembacaan manaqib, menurut Nusron, pada sore nanti relawan Ahok, baik itu dari Teman Ahok maupun tim tiga partai pengusung, akan hadir.

“Nanti dengan tim relawan dan teman-teman partai pendukung kita silaturahmi sekaligus share bagaimana menguatkan gotong royong dan bagaimana membagi peran,” ungkapnya.

Nusron menjelaskan, meski telah menetapkan base camp, tetapi kerja-kerja politik belum dimulai karena memang belum waktunya. Jadi, base camp tersebut saat ini baru sebatan untuk tempat silaturahmi relawan pendukung Ahok.

Sumber: panjimas/suaranews.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 8.841 kali, 1 untuk hari ini)