Ketika kiprah tokoh kadang jadi penyingkir agama, kadang seperti tidak begitu;  maka yang mengherankan justru  orang yang mengerti agama atau bahkan ulama namun mengesankan seakan menjilatnya.

Demikian pula ketika tokoh tampaknya kadang seperti ada kebohongan-kebohongannya, kadang tidak begitu, maka bagi yang memang menjilatnya ataupun mendukungnya ya masih pula memujinya. Sedang yang membencinya tentu tidak begitu.

Karena adanya rupa-rupa sikap tokoh  itu maka sikap orang pun rupa-rupa pula terhadpnya. Sekadar contoh nyata, berita-berita berikut ini mari kitak simak saja.

***

Jokowi: Politik dan Agama Harus Dipisah Betul

Foto: Agus Trimukti/Humas PLN

Jakarta – Presiden Joko Widodo mengingatkan keberagaman suku dan budaya yang ada di Indonesia adalah aset negara yang harus dijaga. Jangan sampai muncul persoalan di tengah masyarakat yang disebabkan oleh keberagaman tersebut.

“Saya hanya ingin titip, mumpung di Sumatera Utara, ingatkan semua, bangsa Indonesia terdiri atas berbagai macam suku dan agama, ras. Suku saja ada 714 suku. Negara lain paling satu hingga tiga suku, kita 714,” ujar Jokowi di Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara, Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, seperti yang disampaikan oleh Kepala Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Jumat (24/3/2017).

“Oleh karenanya, masyarakat harus selalu menjaga kerukunan. Jangan sampai antarsuku, antaragama ada pertikaian, jangan,” tambah Jokowi.

Jokowi mengakui masih ada gesekan kecil yang terjadi saat pemilihan kepala daerah. Hal ini tak terlepas dari persoalan suku hingga agama. Ia pun menegaskan persoalan politik dan agama harus dipisah, tidak boleh disatukan.

“Inilah yang harus kita hindarkan. Jangan sampai dicampuradukkan antara politik dan agama, dipisah betul, sehingga rakyat tahu mana yang agama, mana yang politik,” katanya.

Jokowi meminta kepada para ulama Islam agar menyebarkan ajaran Islam yang rahmatan lil alalmin. Hal ini diungkapkan Jokowi setelah kepadanya ditunjukkan situs makam Syekh Mahligai. Di lokasi ini, banyak dimakamkan syekh dari Timur Tengah, yang menandakan syiar agama sudah dimulai sejak ratusan tahun yang lalu di kawasan tersebut.

“Saya hanya ingin titip, pada kita semuanya, utamanya para ulama, agar disebarkan, diingatkan, dipahamkan, bahwa kita beragam. Ini anugerah Allah bagi Indonesia. Kalau kita bisa merawat ini, ada kekuatan, potensi besar. Tetapi kalau kita tidak bisa jaga dan merawat, ada pertikaian. Itulah yang harusnya kita awal ingatkan, hindari, karena semuanya anugerah Allah,” kata Jokowi.  (rjo/idh)

Sumber: news.detik.com / Ray Jordan 

***

Sekadar mengingatkan, pada 24 Maret 2017 saat Jokowi meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumut, dia sempat mengimbau untuk tidak mencampuradukkan antara politik dan agama.

Namun, kali ini di Pondok Pesantren Singo Ludiro, Presiden Jokowi menjelaskan bahwa yang ia maksudkan adalah politik dapat dilandasi nilai-nilai yang diajarkan dalam agama.

“Beberapa minggu lalu saya menyampaikan, saya memperingatkan saat itu bahwa jangan mencampuradukkan antara politik dan agama. Apa maksudnya? Peringatan itu konteksnya adalah dalam rangka persatuan negara kita. Sekali lagi dalam rangka persatuan negara kita. Jangan sampai agama dipolitisasi menjadi sebuah komoditas,” ungkap Presiden.

Apa yang dimaksudkannya, bukan berarti memisahkan nilai-nilai agama dalam politik. “Agama sangat penting dalam berpolitik. Misalnya, kita ingin membuat kebijakan, kalau tanpa dilandasi nilai agama, moralitas, kejujuran, pengabdian pada rakyat bangsa negara pasti luput kebijakan itu. Jadi memang poltik dan agama harus disambung dalam konteks yang benar,” tegasnya. https://nasional.sindonews.com/read/1195425/12/setelah-sebut-politik-agama-dipisah-kini-jokowi-bilang-keduanya-harus-disambung-1491656205

***

Jakarta, CNN Indonesia — Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin memuji Presiden Joko Widodo sebagai sosok yang rendah hati. Bahkan Ma’ruf menilai, Jokowi jadi presiden karena sudah jadi kehendak Allah.

Hal ini disampaikan Ma’ruf saat menghadiri acara penutupan Munas Alim Ulama Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (14/4).

“Saya terus terang tertarik dengan kepribadian Pak Jokowi sebagai presiden. Beliau itu orangnya tidak merasa pintar,” ujar Ma’ruf.

Saat itu, kata Ma’ruf, Jokowi pernah mengaku padanya bukan orang yang pintar. /https://www.cnnindonesia.com Sabtu, 14/04/2018 19:35 WIB

***

Sukmawati Cium Tangan Kiai Maruf Amin, Proses Hukum Lanjut

by Nahimunkar.com, 7 April 2018

jpnn.comJAKARTA – Sukmawati Soekarnoputri telah meminta maaf kepada umat Islam dan bertemu dengan jajaran pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait puisinya berjudul Ibu Indonesia yang menuai polemik. Namun, proses hukum tampaknya tetap akan dilanjutkan.

Wakapolri Komjen Syafruddin mengatakan, pihaknya mengapresiasi upaya pertemuan Sukmawati dengan MUI, Muhammadiyah, dan permintaan maaf kepada umat Islam.

Namun, berbagai laporan dari daerah termasuk ke Bareskrim Mabes Polri memang terus bermunculan.

”Posisinya karena ada laporan itu, tentu Polri wajib merespon laporan,” ujar Komjen Syafruddin, Kamis (5/4).

Sebagaimana diketahui, Rabu lalu (4/4) Sukmawati Soekarnoputri sudah menyatakan permintaan maaf dan penyesalan atas puisi Ibu Indonesia.

Kamis, untuk meredam protes yang menguat, Sukmawati juga mendatangi Ketum MUI KH Ma’ruf Amin untuk menjelaskan perihal puisinya.

Sukmawati pada kesempatan tersebut mencium tangan Kiai Ma’ruf Amin hingga dua kali. (idr/sam)

Sumber: jpnn.com

***

Mu’inudinillah Basri

Benar yang dikatakan oleh Nabi Muhammad saw

إنما أخاف عليكم الأئمة المضلين

Tiada lain yang aku takuti atas kalian para imam penyesatHR Abu Dawud. 

Sesepuh ulama nyanjung penguasa dhalim dukung dua periode. sekarang minta nenek kempot penista syariat dimaafkan, dg bangga senym tangannya diciumi oleh si nenek penista

لا حول ولا قوة إلا بالله

via fb Mu’inudinillah Basri

https://www.nahimunkar.org

***

Ustadz di Cirebon Ini Haramkan Pilih Jokowi

Jokowi mengatakan ekonomi meroket bulan September 2015 (IST)

Memilih Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019 hukumnya haram karena mantan Wali Kota Solo pembohong dan tidak menunaikan janjinya.

“Jelas, ini HARAM hukumnya. Sama seperti ketika kita tau bahwa seseorang itu tukang tipu tetapi kita mempromosikannya sebagai orang yang amanat,” kata Guru Ma’had Nurul Falah Cirebon, Ustadz Irkham Fahmi al-Anjatan kepada suaranasional, Kamis (12/4).

Irkham mengatakan, keharaman itu bisa diibaratkan mempromosikan kotoran ayam tetapi disebut sebagai coklat.

“Sungguh ini dusta yang jelas-jelas HARAM dilakukan,” papar Irkham.

Kata Irkham, Jokowi itu pembohong dan pelayan kepentingan aseng. Mereka tertipu oleh gaya pencitraan Jokowi yang sok sederhana dan merakyat. “Maka, ketika mereka sadar bahwa mereka telah ditipu oleh gaya penampilan Jokowi, lalu mereka bertaubat, Insyaallah ini akan mudah dimaafkan oleh Allah swt,” jelasnya.

suaranasional.com

***

Dusta, Tingkah Paling Dibenci Rasulullah Shallallahu  ‘alaihi wa Sallam

by Nahimunkar.com16 Oktober 2017

فقال رسول الله في الحديث الصحيح « مَا كَانَ خُلُقٌ أَبْغَضَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنَ الْكَذِبِ, … » ( سلسلة الصحيحة20522)

”Tidaklah ada akhlaq yang lebih dibenci oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam daripada dusta…”(Shahih, lihat Silsilah ash-Shahihah 2052)

Sesungguhnya dusta adalah penyimpangan akhlaq, salah satu akhlak/perilaku yang paling buruk, dan sifat yang tercela. Dusta menjadikan manusia seperti binatang yang tidak bisa diambil faidah dari ucapannya, bahkan binatang tidak berbahaya ucapannya, sedangkan para pendusta bisa menimpakkan bahaya dengan ucapannya. Maka dari sisi ini binatang lebih baik dari pendusta. Dan dusta termasuk perilaku orang-orang munafik dan perilaku yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. https://www.nahimunkar.org

***

Hadits tentang Para Pemimpin yang Bohong

by Nahimunkar.com, 1 Januari 2015

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ ، قَالَ : خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ : ” إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ بَعْدِي أُمَرَاءٌ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهمْ ، فَلَيْسُ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ ، وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ حَوْضِي ، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ ، فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَسَيَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ ” ، هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ ، أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْقَطَّانِ ، عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ ، فَوَقَعَ لَنَا بَدَلًا عَالِيًا ، وَأَخْرَجَهُ النَّسَائِيُّ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ عَلِيٍّ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ

سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ ، مَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ ، وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ ، فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ ، وَلَيْسَ يَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ ، وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيْهِمْ ، وَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ ، وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ ، فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ ، وَسَيَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ.

(النسائى في كتاب الإمارة).

Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi wa Sallambersabda:  “Akan ada setelah (wafat)ku (nanti) umaro’ –para amir/pemimpin—(yang bohong). Barangsiapa masuk pada mereka lalu membenarkan (menyetujui) kebohongan mereka dan membantu/mendukung kedhaliman mereka maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan dia tidak (punya bagian untuk) mendatangi telaga (di hari kiamat). Dan barangsiapa yang tidak masuk pada mereka (umaro’ bohong) itu, dan tidak membenarkan kebohongan mereka, dan (juga) tidak mendukung kedhaliman mereka, maka dia adalah dari golonganku, dan aku dari golongannya, dan ia akan mendatangi telaga (di hari kiamat). (Hadits Shahih riwayat Ahmad dan An-Nasaa’i dalam kitab Al-Imaroh).

(nahimunkar.org)

(Dibaca 436 kali, 1 untuk hari ini)