Kader JIL di Mesir Kelimpungan (Arsip)

 


 


Pada tanggal 11-16 September 2005 lalu, Hartono Ahmad Jaiz penulis Buku ‘Aliran dan Paham Sesat di Indonesia’ serta ‘Ada Pemurtadan di IAIN’ berkunjung ke Mesir, dalam rangka menggelar diskusi publik bertema “Liberalisasi Pemikiran Islam di Indonesia: Mitos atau Realitas?”. Acara ini merupakan kerja sama antara Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, dengan empat organisasi mahasiswa di Mesir. Hartono ditemani oleh Tohir Bawazier (Direktur Pustaka Al-Kautsar) dan Ihsan Zainuddin (redaktur Pustaka Al-Kautsar).

Dari Mesir, Hartono dan rombongan (minus Ihsan Zainuddin) melanjutkan perjalanan ke Jeddah, untuk bedah buku ‘Ada Pemurtadan di IAIN’. Dilanjutkan dengan melaksanakan ibadah umroh, dan kembali ke tanah air 24 September 2005.

Sejak mengetahui rencana kedatangan Hartono ke Mesir, kader Jaringan Islam Liberal (JIL) di Mesir sudah sejak awal mau mengganjal kehadiran Hartono Ahmad Jaiz. Antara lain mereka berusaha membujuk Ustadz Mukhlis Muhammad Hanafi, M.A. (kandidat doktor tafsir Universitas al-Azhar Kairo), agar tidak mau menjadi pembicara berdampingan dengan Hartono Ahmad Jaiz. Pembujuk itu membuat-buat alasan rekaan, yaitu “tidak selevel”.

Mereka sudah kegerahan sejak sebelum kehadiran Hartono Ahmad Jaiz, antara lain karena mengingat luka lama, yaitu ketika pentolan liberal Masdar F Mas’udi (pengurus struktural PBNU berfaham liberal) dan Zuhairi Misrawi (alumni Al-Azhar Mesir yang telah kembali ke Indonesia dan bergabung dengan kelompok liberal) ditolak kedatangannya di Mesir oleh PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia). Masdar Farid Mas’udi, MA, ditolak ketika mau mengadakan pendidikan mengenai pemikirannya yang tak jarang melawan arus. Dua ide kontroversial Masdar: risalah zakat/pajak dan pelonggaran waktu haji, masuk sebagai materi Pendidikan dan Bahtsul Masail Islam Emansipatoris di Kairo, Mesir, 7-9 Februari 2004. Namun acara itu gagal setelah Masdar yang Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini diancam mati oleh Limra Zainuddin, Presiden Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia. ( Lihat buku ‘Menangkal Bahaya JIL dan FLA’, oleh Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2004 ).

Maka, ketika Hartono Ahmad Jaiz yang melawan pemikiran liberal, hendak mensosialisasikan perlawanannya di Mesir, keruan saja kader JIL di Mesir berupaya sekuat tenaga mau mengganjalnya. Dengan izin Allah, ganjalan itu tak mempan.

Para Kader JIL itu sendiri rupanya terkecoh oleh ungkapan-ungkapan Ulil Abshar Abdalla ketika datang ke Mesir dan sempat “menjelekkan” Hartono Ahmad Jaiz beberapa waktu lalu. Lantaran terlalu loyalnya terhadap dedengkot JIL Ulil Abshar Abdalla, para kader JIL di Mesir itu mentranskrip pidato Ulil ketika di Mesir secara perkata dan disiarkan lewat situs KMNU di Mesir. Dan karena terlalu percayanya kepada perkataan Ulil, maka kader JIL di Mesir pun tampak terlalu bersemangat untuk “menghujat” Hartono Ahmad Jaiz dalam acara dua hari di Wisma Nusantara di Kairo, September 2005.

Meskipun ada suara-suara yang ingin mengganjal, namun kehadiran Hartono Ahmad Jaiz beserta rombongan Pustaka Al-Kautsar dari Jakarta tak disia-siakan oleh para mahasiswa Indonesia di Kairo Mesir. Empat organisasi di Mesir yakni Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) Nahdlatul Ulama, PCI Muhammadiyah, Perwakilan PERSIS, dan PCI Al-Washliyah.

Acara tersebut berlangsung Rabu 14 September 2005 (10 Sya’ban 1426H), di Wisma Nusantara di Kairo, dipadati oleh para mahasiswa dan mahasiswi Indonesia, bahkan banyak yang berdiri di luar karena tak kebagian tempat. Perlu diketahui, mahasiswa Indonesia di Mesir tahun 2005 sekitar 4000 orang.

Pembicara pada acara tersebut terdiri dari tiga orang: Hartono Ahmad Jaiz disebut sebagai bintang tamu (dalam selebaran/undangan), Mukhlis Muhammad Hanafi, M.A., kandidat doktor tafsir universitas al-Azhar Kairo, Abbas Tamam, Lc. , kandidat M.A. Akidah-Filsafat di universitas yang sama. Acara ini dimoderatori oleh Muhammad Faiz Syukron Makmun Lc., kandidat M.A. di universitas Kairo. Penyelenggaraan ini diketuai Mahir Mohammad Sholeh bekerjasama dengan rekan-rekannya seperti Fery Ramadhansyah, Ustadz Fahmi Salim, Muhammad Faqih, Chandra Deruja, Mutholi’ah dan lainnya.

Sehari sebelumnya, Selasa 13 September 2005 di Wisma Nusantara itu pula digelar bedah buku ‘Aliran dan Paham Sesat di Indonesia’ dengan pembicara tunggal Hartono Ahmad Jaiz. Acara ini diselenggarakan PMIK (Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo) bekerjasama dengan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.

Kader JIL bagi-bagi tugas menghujat

Bedah buku maupun diskusi publik itu tampak mendapat perhatian cukup besar dan berlangsung hangat. Lebih seru lagi, sebagian mahasiswa yang mengaku dari Lakpesdam NU di Mesir mengajukan “hujatan-hujatan” kepada Hartono Ahmad Jaiz sengawur-ngawurnya. Nampaknya, para “penghujat” itu telah melakukan pembagian tugas, dan berhasil dilaksanakan, entah karena moderator acara ini juga dari NU atau karena sebab lain. Namun kenyataannya, dari kalangan NU “penghujat” inilah yang banyak mendapat giliran bicara.

Ada yang menghujat penampilan Hartono, misalnya dengan mengatakan bahwa baju yang dipakai Pak Hartono, koko putih itu tidak Islami. Dan ada yang menjelang akhir disuksi bertugas mementahkan seluruh pembicaraan, dengan mengemukakan term-term ngawur semaunya, yaitu menyebutkan orang-orang berpaham liberal sebagai nabi-nabi kecil.

Hujatan-hujatan itu dijawab dengan tenang dan enteng oleh Hartono Ahmad Jaiz.

“Masa, baju koko putih dikatakan tidak Islami, ini urusan apa? Sedang orang-orang liberal dianggap sebagai nabi-nabi kecil, itu sudah mengubah makna-makna istilah/term. Yang seperti itu justru menunjukkan, dari kelompok mana sebenarnya yang mengucapkan itu,” sanggah Hartono dengan wajah tenangnya.

Memang di antara mahasiswa itu ada yang kelihatannya asal menghujat. Di antaranya, menghujat Hartono Ahmad Jaiz dengan mengatakan, saya tidak percaya kalau orang bertaqwa itu dapat furqon hingga mampu membedakan yang haq dengan yang batil. Buktinya Ibnu Arabi, kata mahasiswa dari NU ini, taqwanya sangat tinggi, tetapi dia tidak bisa membedakan.

Hujatan itu dijawab Hartono dengan mengutip QS Al-Anfaal ayat 29: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)-mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

“Kenapa Anda tidak percaya? Dan bagaimana Anda bisa menilai bahwa Ibnu Arabi, tokoh tasawuf falsafi sesat, itu taqwanya sangat tinggi? Padahal Ibnu Arabi itu sudah dinyatakan kafir oleh 37 ulama, di antaranya Ibnu Taimiyyah dan ahli hadits Imam Adz-Dzahabi. Karena di antaranya Ibnu Arabi bersyair, saya adalah Tuhan dan hamba, maka siapakah yang disembah dan siapa yang menyembah…” demikian lanjut Hartono.

Ada lagi mahasiswa dari NU pula, mengatakan dengan mengutip pendapat bahwa orang walau melakukan 100 kekafiran, namun memiliki satu keimanan maka masihlah satu keimanannya itu.

Ungkapan itu dijawab Hartono, “… kalau mengutip itu perlu dilihat juga dalilnya, kuat tidak? Coba sekarang kita bandingkan: Iblis itu punya satu keimanan yaitu mengimani bahwa Allah itu Tuhan. Lalu Iblis melakukan satu kekufuran, tak mau sujud pada Adam ketika Allah perintahkan. Itu berapa kekafiran?” tanya Hartono.

“Satuuu…,” jawab hadirin.

“Lha itu satu kekafiran saja bisa menghapus keimanan, kenapa yang seratus kekafiran bisa mengutuhkan keimanan?” Sanggah Hartono ditimpali tepuk sorak ramai para mahasiswa.

Dengan dialog yang hangat seperti ini, tampak sebagian mahasiswa merasa malu. Sehingga saking malunya, ada mahasiswa asal Aceh, jurusan Tafsir di Al-Azhar, berkata lantang menasihati, agar teman-teman mahasiswa di Mesir ini tiap harinya masuk kuliah, dan belajar tafsir Al-Qur’an serta ilmu tafsir, agar pemahamannya tentang ayat jadi benar. Kenapa dinasihati demikian, khabarnya banyak mahasiswa yang tidak masuk kuliah, karena di Al-Azhar Mesir tidak diberlakukan absensi, hingga mereka baru masuk ketika ujian. Sehari-harinya mereka ke mana? Wallahu a’lam.

Disamping itu, pernyataan dan penjelasan panjang lebar presentator Abbas Mansur Tamam, Lc juga mementahkan sejarah dan format liberalisasi dalam Islam dalam terkaan anak Lakpesdam NU Mesir dalam diskusi hangat itu. Sedang Ustadz Mukhlis Hanafi juga mengkritik kaum liberal, menurutnya, pemikiran liberal itu lebih banyak mudhorotnya dibanding maslahatnya.

NU Mesir ditanya tentang Ulil

Mahasiswa yang anti liberal tampaknya banyak, hingga ada yang sampai bertanya dan minta pertanggungan jawab moderator, Muhammad Faiz Syukron Makmun, yang dikenal sebagai pimpinan NU Mesir, berkaitan dengan pernyataan Ulil Abshar Abdalla dari Lakpesdam NU sekaligus juga koordinator Jaringan Islam Liberal. Dalam makalah Hartono Ahmad Jaiz berjudul ‘Liberalisasi Islam untuk Apa’, dikutip Ungkapan Ulil Abshar Abdalla dari Lakpesdam NU:

Adapun hal prinsip misalnya negara demokrasi, emansipasi wanita, dan kebebasan berpikir; Islam liberal bisa menerima bentuk negara sekuler, yang menurut Ulil Abshar Abdalla lebih unggul dari negara ala kaum fundamentalis. “Sebab, negara sekuler bisa menampung energi kesalehan dan energi kemaksiatan sekaligus,” kata Ulil, yang disambut ledakan tawa peserta diskusi. (Majalah Tempo, 19-25 November 2001).

Hartono Ahmad Jaiz dalam makalahnya menanggapi, “Pikiran Mas Ulil itu apabila diujudkan dalam sosok orang, maka yang lebih dia unggulkan adalah orang yang saleh tapi fasiq (banyak maksiat, korupsi dsb) daripada orang yang saleh dan jujur. Inti pemikiran itu adalah mencampur adukkan antara haq dan batil. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala jelas melarangnya sebagaimana tertuang di dalam Surat Al-Baqarah ayat 42: Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.”

Lanjut Hartono, “Pada dasarnya ini telah menabrak langsung satu sarana penting dalam Islam yaitu amar ma’ruf nahi munkar. Dia telah berusaha melegalkan (meresmikan) kemunkaran (keburukan) disejajarkan dengan yang ma’ruf (baik). Ini dalam bahasa bakunya adalah talbis iblis (tipuan licik) iblis. Dalam Al-Qur’an, pelaku-pelakunya itu adalah munafiqin dan munafiqot. Apa yang dilakukan itu pada dasarnya justru menyuruh keburukan dan mencegah kebaikan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 67yan artinya: Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma`ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik..”

Kemunkaran atau keburukan, menurut Islam, wajib dicegah, dilarang bahkan dihapuskan. Secara tegas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengaitkan pemberantasan kemunkaran itu dengan tingkat kemampuan dan kaitannya dengan tingkat keimanan seseorang. Sebagaimana ditegaskan dalam hadits:

Hadis Abu Said r.a: Diriwayatkan dari Thariq bin Syihab r.a, ia berkata: Orang pertama yang berkhutbah pada Hari Raya sebelum shalat Hari Raya didirikan ialah Marwan. Seorang lelaki berdiri lalu berkata kepadanya: Shalat Hari Raya hendaklah dilakukan sebelum membaca khutbah. Marwan menjawab:

Sesungguhnya kamu telah meninggalkan apa yang ada di sana. Kemudian Abu Said berkata: Orang ini benar-benar telah membatalkan apa yang menjadi ketentuan kepadanya sedangkan aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda:

Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka dia hendaklah mencegah kemungkaran itu dengan tangannya yaitu kuasanya. Jika tidak mampu, hendaklah dicegah dengan lidahnya. Kemudian kalau tidak mampu juga, hendaklah dicegah dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

“Kemunkaran yang mestinya diberantas, justru oleh Mas Ulil Abshar Abdalla ketua Lakspedam Nahdlatul Ulama lebih dipilih sebagai energi kemaksiatan yang disejajarkan dengan energi kesalehan. Benar-benar suara yang mendukung kemunkaran dan kemaksiatan alias melawan Islam secara terang-terangan,” demikian Hartono Ahmad Jaiz.

Moderator Faiz Syukron Makmun dalam diskusi itu walau selaku PCI NU Mesir tidak bersedia menjawab pertanyaan yang minta pertanggung jawaban PCI NU Mesir atas pernyataan Ulil itu.

Diskusi itu walaupun berlangsung memanas, namun jawaban-jawaban Hartono Ahmad Jaiz tidak membuat mereka tersinggung. Rupanya pembicara yang dari Jawa ini memakai “falsafah” nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake (melabrak tanpa pasukan, menang tanpa menghinakan). Sehingga yang dibanting pun merasa puas, karena tak dihinakan.

VCD diskusi di Mesir

Mengingat diskusi dan bedah buku di Mesir ini cukup mendapatkan perhatian, khabarnya pihak Pustaka Al-Kautsar berencana mengedarkan dokumentasinya dalam bentuk kepingan VCD.

Selain dua acara itu (bedah buku ‘Aliran dan Paham Sesat di Indonesia’, dan diskusi publik tentang liberalisasi pemikiran) Hartono Ahmad Jaiz memberikan presentasi pula di Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK) masalah kepenulisan bersama Pustaka Al-Kautsar, dan presentasi di kantor PCI Muhammadiyah tentang pentingnya ketelitian dan kecermatan dalam memahami Islam, apalagi dalam kepenulisan buku-buku Islam.

Selama di Mesir 11-16 September 2005, Hartono bersama rombongan sempat berkunjung ke perpustakaan besar di Iskandariah. Para mahasiswa dari Persis di Kairo ingin berbincang-bincang dengan Hartono, namun karena padatnya jadwal, maka hanya kebagian di tengah malam menjelang keberangkatan ke Jeddah.

Masyarakat Indonesia di Jeddah Prihatin tentang IAIN

Selain di Mesir, begitu sampai di Jeddah, dan kemudian berumroh ke Makkah, rombongan Al-Kautsar bersama Hartono diminta memberikan presentasi di hadapan masyarakat Indonesia di Jeddah. Sebenarnya rombongan ini juga ditunggu kedatangannya oleh mahasiswa di Riyadh, namun terpaksa tak bisa dipenuhi, karena tidak sempat mengurus surat-surat untuk ke sana. Maka hanya sempat berbincang lewat telepon sekadarnya.

Di kantor ICMI Jeddah pada Kamis malam, 22 September 2005 atau 19 Sya’ban 1426H, Hartono Ahmad Jaiz berbicara tentang buku yang ditulisnya, ‘Ada Pemurtadan di IAIN’.

Para da’i dan juga masyarakat Islam Indonesia di Jeddah tampak bersemangat dalam acara malam akhir pekan itu (karena akhir pekannya adalah Kamis). Hingga mereka bertekad akan meresalisasikan usulan yang telah disampaikan kepada Menteri Agam RI, H Maftuh Basyuni (ketika Menag berkunjung ke Jeddah beberapa waktu lalu), agar membenahi kurikulum dan sistem pengajaran di IAIN (Institut Agma Islam Negeri), UIN (Universitas Islam Negeri), STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri), dan STAIS (Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta) seluruh Indonesia.

Masyarakat Islam Indonesia di Jeddah itu bertekad mau kirim surat ke Menteri Agama RI, mengenai perlunya segera dirombak sistem dan kurikulum pendidikan di UIN, IAIN, STAIN, dan STAIS se-Indonesia yang telah membuat resah masyarakat karena MKDU (Mata Kukliah Dasar Umum) berupa sejarah pemikiran Islam dan Sejarah Kebudayaan Islam –yang mendominasi pewarnaan pemikiran mahasiswa karena diwajibkan untuk seluruh mahasiswa dan semesternya bersambung-sambung– justru menuju kepada “sepilis”, yaitu keyakinan batil sekulerisme, pluralisme agama (menyamakan semua agama), dan liberalisme. Padahal faham “sepilis” yang berbahaya itu telah difatwakan oleh Munas MUI ketujuh, Juli 2005, bahwa sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme adalah bertentangan dengan Islam. Maka sistem pendidikan dan kurikulum di IAIN, STAIN, UIN, dan STAIS harus dirombak, dengan membuang pelajaran “sepilis”nya itu.

Februari 22, 2007

Filed under: Ust. Hartono Ahmad Jaiz — iaaj @ 7:22 am

 https://idrusali85.wordpress.com/2007/02/22/kader-jil-di-mesir-kelimpungan/

 
 

(nahimunkar.org)

 

(Dibaca 1.011 kali, 1 untuk hari ini)