Oleh Pizaro

 aqil

ENTAH sudah berapa kali warga Nadhlatul Ulama bentrok dengan pengikut Syiah di Indonesia. Sampang, Bangil, Bondowoso, Surabaya, dan kota-kota lain lainnya telah menjadi saksi. Jember, Rabu siang (11/9) menjadi titik nadir keresahan warga NU dengan aliran yang diputuskan sesat ini. Warga Puger yang mayoritas Ahlussunah merasa tidak terima dengan provokasi dari kalangan Syiah. Bentrok pun pecah. Satu orang kader NU dibunuh oleh Syiah.

Bentrok di Jember bermula dari Karnaval pendukung Habib Ali bin Umar Al-Habsyie di Puger. Padahal selama ini warga Jember sudah sangat resah dengan ajaran Syiah yang dikampanyekan oleh sang Habib.

Sontak, pihak warga menyatakan keberatan atas kegiatan tersebut. Sebab, mayoritas warga Puger berpegang pada Fatwa MUI Jawa Timur dan Pergub Jatim yang melarang adanya kegiatan aliran syiah di wilayah Jawa Timur.

Rupanya, pihak pendukung Habib Ali tetap ngotot memaksakan kehendak mereka. Mengantisipasi hal ini, pihak kepolisian telah melakukan upaya pengamanan dengan membuat barikade agar karnaval dibatalkan.

Tak peduli dengan keinginan warga, acara karnaval tetap dilanjutkan oleh para penganut syiah itu sejak ba’da dzuhur. Bahkan, mereka menjebol barikade yang dibuat oleh polisi. Melihat situasi tersebut warga Puger tersulut emosinya hingga melakukan perlawanan.

Sekembali dari pawai, massa Syiah melakukan serangan balasan dengan membakar dua perahu, delapan  rumah warga, dan menewaskan satu korban jiwa.

“Korban bernama Eko Mardianto (45) merupakan saksi kunci kasus bentrok warga dengan massa Syiah setahun lalu,” kata Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jember DR. Abdullah Syamsul Arifin kepada Islampos.com.

Gus Aab –panggilan akrabnya- menilai, meski jumlahnya sedikit, Syiah di Jember ini terhitung militan dan berani. Dia juga menyayangkan respon aparat keamanan yang dinilai masih lambat dalam mencegah terulangnya kasus bentrokan ini.

Kasus bentrok di Puger bukan kali ini saja terjadi. Juni 2012, pengikut  Syiah berbuat rusuh karena tak senang atas rencana Tokoh NU Ustadz Fauzi menggelar kajian kesesatan Syiah di Puger. Pengikut Syiah memaksa menggagalkan kajian tersebut hingga berujung pada tindakan anarkis.

Tujuh orang pengikut Syiah mendatangi kediaman, seorang tokoh NU Puger dan menyatakan protes atas rencana pengajian tersebut. Tak puasa hanya dengan protes pengikut Syiah berbuat rusuh hingga membacok Eko Maryadi. Eko Maryadi inilah korban tewas dari arogansi Syiah, Rabu kemarin.

“Penduduk Jember itu 2 Juta, dan mereka semua Ahlussunah. Syiah hanya segelintir. Dengan jumlah sedikit saja, Syiah berani bunuh Ahlussunah. Apalagi jumlah mereka 5%?” kata pengamat gerakan Syiah, Farid Okbah kepada Islampos.com.

Tentu berbagai konflik yang terjadi di basis-basis Nahdliyin sangat kontras dengan sikap Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj. Said lebih banyak menunjukkan kemesraannya dengan petinggi-petinggi Syiah. Bahkan Said langsung datang ke Iran untuk mengunjungi makam Khomeini.

Tidak seperti kader Nahdliyin di akar rumput yang mempertahankan akidah meski meregang nyawa, Said justru berpelukan dengan tokoh-tokoh Syiah. Inilah yang pernah diingatkan Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur Habib Ahmad Zein Al Kaff tentang “gaya” Said Aqil yang jauh dengan sikap NU.

“Kita sudah mau bunuh-bunuhan dengan Syiah, tapi antum (Said) justru bermesraan dengan Syiah,” katanya di hadapan Said yang disaksikan para ulama NU.

Dewan Syuriah PBNU juga pernah membatalkan upaya Said menyeret NU dalam bekerjasama dengan negara Syiah Iran. HM. Cholil Nafis, Wakil Ketua Bahtsul Masail PBNU, HM. Cholil Nafis, mengungkapkan bahwa Said diam-diam membuat nota kesepahaman (MoU) dengan Universitas al-Mustafa al-’Alamiyah, Qom, Iran.  Dokumen kerjasama di bidang pendidikan, riset dan kebudayaan itu dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan Dewan Syuriah PBNU. Dokumen tertanggal 27 Oktober 2011 itu dibuat dalam dua bahasa, Persia dan Indonesia.

“Said Aqil menandatangani MoU itu bersama Muhammad Zain (Ketua Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffaz PBNU) dan Ahmad Mubarok dari Partai Demokrat,” kata Cholil.

Kata Cholil, sebelumnya Said Aqil selalu menyangkal adanya MoU tersebut. Namun, ketika ditunjukkan dokumen itu, Said Aqil tidak bisa mengelak lagi. Pada Desember 2011 lalu, MoU itu pun dibatalkan oleh Dewan Syuriah PBNU.

Dengan segenap fakta ini sampai kapan warga NU harus terus dirugikan oleh sikap Said. Said seharusnya sadar, Syiah adalah bahaya terbesar bagi Aswaja. Masalah Syiah bukan hanya sekedar masalah furu’iyah tapi sudah menyentuh jantung akidah. Jika Syiah dibiarkan masuk ke kantong-kantong Nahdliyin, maka kejadian di Jember hanya akan menjadi satu kasus yang akan terus berkelanjutan.

“Di zaman akhir ini tidak ada madzhab yang memenuhi persyaratan kecuali madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali). Adapun madzhab yang lain seperti madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah adalah ahli bid’ah. Sehingga pendapat-pendapatnya tidak boleh diikuti” (Hasyim Asy’ari, Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, halaman 9)

Islampos.com, — 8 Zulkaedah 1434 / 13 September 2013 10:47

(nahimunkar.com)

(Dibaca 6.502 kali, 2 untuk hari ini)