Menurut penuturan Kabid Humas Polda DIY AKBP Yulianto, bentrokan yang pecah di sekitar Masjid Jogokariyan pada Mingggu (27/01/2019) lalu telah mencapai kesepakatan. Suatu kesepakatan telah dicapai usai oknum pelaku penimpukan mengajukan permintaan maaf. Apa yang lantas terjadi?

Berdasarkan keterangan yang disampaikannya, kesepakatan damai lantas terjadi dan diselesaikan di Kantor Camat Mantrijeron Kamis (31/01/2019) malam. Ada beberapa klausul yang dipersyaratkan, yang mana salah satunya adalah menghadirkan oknum pelaku penimpukan pada bentrokan lalu, demikian dikutip dari laporan Republika.co.id,Sabtu (02/02/2019).

Alhasil, didatangkanlah Kader PDIP yang terlibat kerusuhan di sekitar wilayah Masjid Jogokariyan tersebut. Yulianto menjelaskan, pada Kamis malam permintaan itu dilaksanakan. Oknum bernama Kristiono; atau yang dikenal dengan nama panggilan ‘Kelinci’ itu didatangkan.

Kristiono (Kris Kelinci) pun  telah menyampaikan permintaan maaf.

“Alhamdulillah tadi malam sudah selesai dengan clear, para pihak menyatakan permasalahan sekitar Masjid Jogokariyan sudah selesai, tidak ada lagi permasalahan,” ungkap Yulianto.

Untuk itu, ia berharap agar setelah ini tak perlu ada lagi pihak-pihak yang mencoba mengambil keuntungan dari insiden tersebut. Sebab, masyarakat Masjid Jogokariyan disinyalir telah menerima dengan baik.

Berkenaan dengan peristiwa yang sebenarnya, Yulianto merasa itu cukup disimpan oleh pihak polisi saja dan tak perlu dibeberkan. Ia merasa, yang penting permasalahannya sudah selesai dan apa yang dimintakan Takmir Masjid Jogokariyan sudah dipenuhi.

“Semua sudah selesai, tidak perlu ada perpanjangan narasi, dan tidak ada penyerbuan atau penyerangan ke masjid, jadi tidak ada yang perlu diganti. Saudara Kelinci sudah bertemu takmir dan minta maaf,” beber Yulianto.

Sejauh ini, Yulianto memastikan, tak ada Laporan Polisi (LP) atas insiden itu. Tapi, meski tak ada LP, Polisi mengambil langkah-langkah mengingat insiden itu berpotensi mengganggu kamtibmas.

Kalaupun ada LP, imbuh Yulianto, terkait bentrokan lain yang memang terjadi pada hari yang sama tapi di Ngampilan, Sleman, DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Tapi, ia merasa, laporan itu tak ada hubungannya dengan kejadian di Masjid Jogokariyan.

Dalam kesempatan tersebut, Yulianto mengaku belum memastikan oknum yang disebut Kelinci itu merupakan kader PDIP. Namun dari konfirmasi status kader sendiri sudah diberikan Ketua DPD PDIP DIY, Bambang Praswanto, di Kantor DPD PDIP DIY pada Senin (28/01/2019) lalu.

Yulianto juga turut membenarkan memang ada rencana aksi elemen masyarakat yang akan meminta penjelasan Polsek Mantrijeron, Jumat (01/02/2019). Konfirmasi langsung diberikan Kapolresta Yogyakarta.

Menurut Yulianto, Kapolresta sudah memberi penjelasan ke pihak-pihak yang hendak menggelar aksi, seperti FJI, jika kesepakatan damai sudah terjadi. Sehingga, aksi itu disebut tak jadi dilaksanakan.

“Permasalahan sudah selesai, sehingga kegiatan itu dibatalkan, besok Jumat tidak ada kegiatan FJI yang akan bertanya ke Polsek Mantrijeron, tadi sudah dikonfirmasi Kaporesta,” demikian tanggapan Yulianto.

Sebelumnya, mengutip Detik.com, kasus pelemparan batu ke Masjid Jogokariyan terjadi pada Minggu (27/01/2019) lalu. Pelakunya diduga merupakan simpatisan salah satu parpol yang sedang konvoi usai menghadiri ‘Deklarasi Jogja Dukung Jokowi‘ di Kompleks Stadion Mandala Krida.

Setelahnya pihak-pihak yang terlibat keributan dikumpulkan di Kantor Kecamatan Mantrijeron, Minggu (27/01/2019) malam. Dalam pertemuan itu Ketua PAC PDIP Mantrijeron, Junianto, menyampaikan permohonan maaf dan menyatakan sanggup mendatangkan salah satu kadernya, Kristiono.

Penulis  Sarah Rachelea / suratkabar.id

(nahimunkar.org)

(Dibaca 847 kali, 1 untuk hari ini)