Di Saudi Arabia, seorang alim sekelas menteri saja lebih rutin mengkaji kitab buat para thullab. Contoh: Syaikh Dr. Sa’d Natsir asy-Syatsry. Tahun belakangan ini, beliau rutin mengkaji kitab Minhaj al-Wushul karya al-Baydhawy, al-Faqih wa al-Mutafaqqih, Rasyf asy-Syumul min Ilm al-Ushul, dan Takhrij Furu’ ala al-Ushul. Semoga kita dapatkan di tanah air alim bertitel tinggi dan berposisi tinggi tetap menjadi percontohan buat para thullab agar mengkaji kitab dan mendorong kalangan awam untuk mengikuti sedikit demi sedikit track para thullab.

Syaikh Ali al-Halaby pun punya kajian rutinan di negeri beliau sana: men-syarh kitab Alfiyyah as-Suyuthy, juga Tafsir al-Wahidy dan lainnya yang mungkin belum kita tahu belakangan ini.

Ada di tanah air ini, seorang ustadz kondang mengeluh (bukan di depan umum) dan kangen masa-masa dahulu. Apa yang dikeluhkan? Apa yang dikangeni?

Dulu, terutama saat masih di akademik, bisa punya banyak waktu untuk belajar, menelaah kitab ini itu, riset ini itu dari perut-perut kitab. Kini, diundang sana diundang sini, ke kota fulan ke provinsi allan, waktu belajar tidak seperti dulu. Keluarga sering ditinggal. Sana minta tema ini. Situ minta tema itu. Fulus bukan masalah. Tapi kenikmatan waktu dan buka banyak kitab sebagaimana dahulu itu lebih mahal. Saking sibuknya safar, tanah sekitar sering ditinggal.

Kalau melihat sisi perbedaan antara dua masyayikh di atas dengan ustadz tersebut, kontras. Ketika melihat nama-nama kitab yang dikaji masyayikh itu, langsung kita lihat, “Betapa seriusnya masyayikh.” Karena kitab-kitab yang mereka kaji itu bukan kitab ringan. Nah ini kita, timbang mengkaji rutin Ushul Tsalatsah di tanah air saja: “Afwan, jadwal ana penuh.”

Semoga keluaran akademik nanti lebih fokus setelah lulus (baik s1, s2 atau s3) di pengajian kitab. Bisa runyam kalau rata-rata lulusan syariah pada fokus di tematik. Kalau dibayangkan, akan kacau sistem dan manhaj keilmuan kalangan awam bahkan thullabnya. Hal-hal ini sudah dituturkan oleh orang-orang besar di ranah syariah tanah air. Status ini tidak menyendiri. Semoga Allah lipatgandakan pahala dai/asatidzah yang mengajar agama untuk umat baik tematik atau kitab. Setiapnya ada keutamaannya. Namun mari berpikir lagi. Ista’in billah.

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.310 kali, 1 untuk hari ini)