By Pizaro on January 19, 2013

jenazah-makassar_823674234

HINGGA memasuki hari ke-15, jenazah Syamsuddin Alias Abu Uswah yang ditembak oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti terror, Jum’at (4/1/2013), masih tergeletak di RS. Polri. Ferawati, adik kandung Abu Uswah mengaku sudah melakukan berbagai cara untuk menjemput jenazah sang kakak. Namun, hingga kini hasilnya tetap nihil.

“Saya sudah mengikuti tes DNA. Saya juga sudah memberikan barang bukti berupa isi dompet, tapi jenazah kakak saya belum bisa dipulangkan oleh pihak kepolisian,” imbuhnya dengan sesekali menyeka air mata dalam testimoni di Mesjid Baiturrohman, Jakarta, Sabtu (19/1/2013).

Ketidakadilan tidak saja berhenti di situ. Ferawati mengaku tidak terima atas langkah kepolisian mengotopsi jenazah Abu Uswah.

“Jenazah kakak saya bahkan dioptopsi. Saya sempat membuka bajunya ada bekas jahitan dari leher hingga dada. Kami tidak terima,” sambungnya.

Pertanyaannya betulkah Abu Uswah adalah seorang teroris? “Itulah yang saya tidak tahu kenapa kakak saya dikaitkan-kaitkan dengan teroris,” akunya.

“Kakak saya ditembak setelah Shalat Dhuha dan diberondong dari belakang. Jadi tidak betul jika sebelumnya ditangkap, tapi langsung ditembak,” sambungnya menjelaskan kronologi penangkapan Abu Uswah di Masjid Nur Afiyah, RS Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar.

Menurutnya kakaknya datang ke Rumah Sakit Dr. Wahidin untuk menjenguk temannya yang terbaring sakit. “Jadi tidak mungkin ke Rumah Sakit, kakak saya membawa senjata,” terangnya.

Maka jika media mengesankan Abu Uswah dengan sosok teroris, kesan itu sama sekali tidak betul. “Saya tidak percaya. Kakak saya orang yang baik,” imbuhnya menjatuhkan airmata. (Pz/Islampos)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 694 kali, 1 untuk hari ini)