Kalau yang mati itu orang kafir, maka dari tokoh yang mengaku beragama Islam sampai media-media yang memang sehari-harinya tidak suka kepada Islam biasanya langsung bertandang untuk mengobarkan aneka macam pembesar-besaran berita demi mengeroyok Islam.

Berbeda dengan kalau yang dibantai itu Umat Islam. Mereka seperti tidak mau tahu, pura-pura tidak dengar. Sampai-sampai, ahli sejarah yang mengaku Islam pun bungkam ketika yang dibantai itu umat Islam bahkan ulama, sekalipun jumlahnya ribuan.

Tidak percaya? Orangnya masih ada. Itu Dr Taufik Abdullah sejarahwan bukan? Coba anda tanya, Pernahkah dia menulis dengan gamblang tentang dibantainya ulama (6000-an ulama se-jawa dikumpulkan di alun-alun yogyakarta lalu dibantai oleh Amangkurat 1 yang pro penjajah Belanda hingga dakwah Islam mandeg selama 100 tahun)? Bungkam bukan?

Akibat bungkamnya sejarahwan atas tingkah jahat Amangkurat 1 yang membantai 6000-an ulama Islam itu, justru sebaliknya yang dikenalkan kepada masyarakat malahan gelar harum penjahat besar terhadap Islam itu, yaitu gelar Sunan Tegalwangi atau Sunan Tegalarum. (Na’udzubillah, keberhasilan antek penjajah dan anti Islam di negeri ini telah sekian lama mengelabui masyarakat sampai sebegitu, manusia yang sangat jahat dan sadis, digelari dengan harum, hingga seolah tertutuplah sudah kejahatannya).

Itu hanya sejarah, orang belum tentu tahu. Lha sekarang ini, di suriah sudah 250 ribu orang muslim dibunuhi oleh syiah yg bersekongkol dengan syiah iran, syiah lebanon, syiah irak, kafirin komunis rusia, cina, dan korea utara. tiga tahun mereka beramai-ramai membantai Umat Islam, dunia mingkem.

Kalau yang dibantai itu umat Islam, bahkan ulama, ada 6000-an ulama dibantai oleh Amangkurat 1 yang pro Belanda, namun sejarawan seperti Taufik Abdullah yang menulis sejarah umat Islam atas nama MUI pun mingkem, menutupinya (?). aneh.

Amangkurat I mengumpulkan 5000 sampai 6000 orang ulama seluruh Jawa dan membunuhnya seluruhnya secara serentak.

Ironisnya sejarah kelam ini justru ditutup-tutupi oleh penulis sejarah dari kalangan Islam sendiri, tentu saja usaha menutup-nutupi sejarah ini menjadi praktik pembodohan yang dilakukan umat Islam sendiri.

Selain modus pembantaian oleh Raja yang telah diperalat, untuk melancarkan Kristenisasi, penjajah Belanda juga menggunakan orang-orang yang menjadi figur di tengah masyarakat yang berlabel “Kyai.”

Seolah meniru taktik penjajah Kristen Belanda saat ini begitu banyak Kyai liberal diciptakan untuk mendukung dan memudahkan aksi kristenisasi.

https://www.nahimunkar.org/ibrah-dari-pembantaian-6000-ulama-pemurtadan-kyai-sadrach/

***

Ibrah dari Pembantaian 6000 Ulama & Pemurtadan Kyai Sadrach

Suasana-Para-Jama’ah

Suasana Para Jama’ah/ foto arrh

BEKASI (voa-islam.com) – Ketika zaman penjajahan Belanda yang beragama Kristen, umat Islam di negeri ini pernah mengalami masa yang amat kelam. Masa di mana ribuan ulama pernah dibantai oleh seorang raja zhalim yang telah diperalat penjajah Kristen Belanda.

Dalam kuliah umum Majelis Ilmi Ar Royan dengan tema “Sejarah Kristenisasi di Indonesia dan Modus Penyebarannya” pada Ahad pagi (8/1/2012), ustadz Hartono Ahmad Jaiz salah satu pembicara acara tersebut menuturkan selain menjadi sasaran penindasan penjajah Kristen Belanda umat Islam juga diperalat menjadi pelakunya. Hal ini bisa dilihat dalam sejarah –sayangnya sejarah ini berusaha ditutupi- di mana Raja Amangkurat I adalah orang yang paling bertanggung jawab atas  pembantaian kurang lebih 5000 sampai 6000 ulama yang dikumpulkan di seluruh tanah Jawa.

“Pembantaian terhadap umat Islam kadang bukan hanya menimpa umat secara umum, namun justru inti umat yang dibantai, yaitu para ulama. Pembantaian yang diarahkan kepada ulama itu di antaranya oleh Amangkurat I, penerus Sultan Agung, raja Mataram Islam di Jawa, tahun 1646,” ungkapnya di hadapan ratusan jama’ah yang hadir.

Mengutip tulisan dalam buku “Penyebaran dan Perkembangan Islam- Katolik- Protestan di Indonesia” yang ditulis Sjamsudduha, ustadz Hartono menambahkan; “Penyebaran Islam menjadi benar-benar terhambat dan sekaligus merupakan sejarah paling hitam tatkala Amangkurat I mengumpulkan 5000 sampai 6000 orang ulama seluruh Jawa dan membunuhnya seluruhnya secara serentak,” imbuhnya.

Ironisnya sejarah kelam ini justru ditutup-tutupi oleh penulis sejarah dari kalangan Islam sendiri, tentu saja menurut ustadz Hartono usaha menutup-nutupi sejarah ini menjadi praktik pembodohan yang dilakukan umat Islam sendiri.

Selain modus pembantaian oleh Raja yang telah diperalat, untuk melancarkan Kristenisasi penjajah Belanda juga menggunakan orang-orang yang menjadi figur ditengah masyarakat yang berlabel “Kyai.”

Seolah meniru taktik penjajah Kristen Belanda saat ini begitu banyak Kyai liberal diciptakan untuk mendukung dan memudahkan aksi kristenisasi.

Ustadz Hartono bercerita tentang seorang Kyai murtad asal Jepara dan menjadi misionaris di tanah Jawa yang bernama Kyai Sadrach.

“kalau sekarang ada orang-orang yang membela pemurtadan, maka bukan hanya sekarang, di zaman Belanda sudah ada. Kyai Sadrach Bagi sebagian masyarakat yang terlanjur mempersepsikan sebutan kyai dengan ulama agama Islam, boleh jadi akan kecele. Sebab, kyai yang satu ini adalah murtadin (orang murtad bahkan penginjil, keluar dari Islam) yang aktif menyebarkan agama Kristen sembari membiarkan tradisi Jawa larut dalam ajaran Kristen. Diperkirakan, ia lahir di Jepara pada tahun 1835, dan meninggal dunia pada 14 November 1924 dalam usia 89 tahun,” jelas pemimpin redaksi nahimunkar.com ini.

Kyai Sadrach bernama asli Radin, berasal dari keluarga miskin dan bahkan pernah menjadi pengemis, usai menimba ilmu dari sebuah Ponpes di Jombang Jawa Timur, ia berkelana sampai akhirnya bertemu seorang penginjil bernama Hoezoo dan murtad.

Di Semarang ternyata Radin bertemu dengan seorang Kyai sepuh bernama Tunggul Wulung yang lebih dulu murtad dan Radin pun menjadi muridnya.

Radin dibawa ke Batavia oleh Kyai Ibrahim Tunggul Wulung, dibaptis dengan nama Sadrach pada tanggal 14 April 1867, ketika usianya menginjak angka 32 tahun. Sejak saat itu, Radin alias Sadrach menjadi anggota gereja Zion Batavia yang beraliran Hervormd. Tugas pertamanya, menyebarkan brosur dan buku-buku tentang agama Kristen dari rumah ke rumah di seputar Batavia.

Meski sudah Kristen Sadrach tetap menyematkan label Kyai dan tentu ini bukan tanpa sebab, ia semakin giat melakukan kristenisasi hingga berhasil memurtadkan banyak orang dan memurtadkan para Kyai lainnya yaitu Kyai Ibrahim yang tinggal di Sruwoh, tak jauh dari Karangjasa, dan Kyai Kasanmetaram.

Lebih lanjut ustadz Hartono menceritakan Sadrach menjadi anak angkat Pendeta Stevens Philips dan giat melakukan kristenisasi dengan mencampurkan budaya Jawa termasuk kejawen di dalamnya sehingga ia mendapat banyak pengikut. Namun demikian para misionaris asal Belanda justru melihat Sadrach yang sangat berpengaruh di kalangan pribumi ini dianggap ambisius, gila hormat, mencampur adukkan sinkretisme dengan Kristen hingga ancaman potensial untuk memberontak pada Belanda. Bahkan misionaris Belanda pernah menyatakan pemisahan diri dari jemaat Sadrach. Sadrach pun pernah dipenjara oleh Belanda meski akhirnya dibebaskan.

Begitulah nasib Kyai murtad yang kemudian bernama lengkap Radin Abas Sadrach Supranata. Meski sudah murtad dan aktif mengkristenkan kalangan pribumi, ia tetap dipandang sebagai orang Jawa yang kedudukannya lebih rendah dari orang Belanda.

Menurut ustadz Hartono inilah ‘ibrah yang harus diambil, bahwa orang-orang yang menyengsarakan Islam di dunia ini, selain umat sudah tidak percaya, pihak sponsor pun belum tentu percaya bahkan tidak dianggap, sehingga mereka pada akhirnya mendapat celaka di dunia dan adzab yang besar di akhirat. (Ahmed Widad) Senin, 09 Jan 2012.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.470 kali, 1 untuk hari ini)