SAMARINDA (SALAM-ONLINE): Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Awang Faroek Ishak Menyikapi adanya tuntutan sejumlah warga yang menginginkan opsi referendum untuk memisahkan diri dari NKRI.
Dikabarkan, adanya ancaman 10 desa di Kaltim yang ingin bergabung dengan Malaysia. Untuk itu, Awang Faroek meminta jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lingkup pemprov maupun kabupaten/kota, khususnya instansi terkait, agar tanggap, sehingga masyarakat tidak sampai berpikiran untuk berpisah dari NKRI.
Karena itu, ujarnya, pembangunan di setiap daerah terus ditingkatkan agar kebutuhan dasar masyarakat baik untuk sandang, pangan dan papan, akses jalan, kelistrikan, air bersih dan kebutuhan lainnya dapat terpenuhi.
“Semua SKPD harus tanggap terkait hal-hal itu. Kita semua harus semangat. Sudah menjadi tekad kita bersama untuk lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, yang tujuannya tidak lain untuk menyejahterakan mereka,” kata Awang Faroek. (ROL/Antara)
salam-online, Redaksi Salam-Online – Senin, 10 Muharram 1436 H / 3 November 2014 09:16

(br)

***
Umat Islam perlu diperhatikan oleh Indonesia. Sikap Indonesia yang tampak melindungi aliran sesat yang menodai Islam, dan sudah terbukti di Pengadilan, seperti kasus Tajul Muluk pentolan Syiah Sampang terbukti menodai Islam; namun Indonesia tampak melindungi syiah, maka menjadikan keresahan tersendiri di kalangan Umat Islam. Apalagi sikap lembaga keulamaan di Indonesia kadang mengecewakan pula bagi Umat Islam. Maka hendaknya jadi pelajaran benar-benar.
***

Di Malaysia Syi’ah Dilarang Beredar, di Indonesia “Diboyong” MUI?

By nahimunkar.com on 16 March 2011

Seminar Syiah

Inilah di antara kasus yang mengecewakan Ummat Islam Indonesia. Di Malaysia baru saja diberitakan, Syi’ah dilarang beredar. Tahu-tahu justru di Indonesia, MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat di Jakarta ada seminar bernada “jualan” atau “membela” syi’ah.
Di negeri syi’ah yakni Iran, satu masjid Sunni (ahlus Sunnah) pun tidak ada dan tidak boleh dibangun, padahal 20% penduduknya adalah Sunni (Ahlus Sunnah). Masjid-masjid ahlus sunnah telah dihancurkan, sedang ulama-ulamanya disembelihi. Daftar masjid-masjid dan ulama Sunni di Iran yang dihancurkan dan disembelihi ada di buku yang diterbitkan LPPI Jakarta.
Jadi Iran lebih kejam terhadap Islam dibanding negeri-negeri kafir. Anehnya, MUI justru seolah tutup mata terhadap kasus besar yang mendera Ummmat Islam (Sunni) itu. Padahal pertemuan para ulama dalam Rabithah Ulama Muslimin yang diselenggarakan di Turki pekan lalu memutuskan, jangan sampai Syi’ah Shafawiyah melebarkan sayapnya di Timur Tengah.
Diberitakan, Rabithah Ulama Ingatkan Bahaya Konspirasi Global Syi’ah Shafawiyah
Syi’ah Shafawiyah adalah Aliansi strategis pemerintah Iran, pemerintah Suriah, kelompok Hizbullah dan kelompok Syiah Irak yang ingin mengembalikan kejayaan dinasti (Syi’ah) Shafawiyah dan Fathimiyah dalam menguasai kekuasaan di semenanjung Arab dan Afrika. (DR Muhammad Bassam Yusuf penulis buku Menyingkap Konspirasi Besar Zionis-Salibis dan Neo Syiah Shafawis terhadap Ahlussunnah di Semenanjung Arabia). (lihat nahimunkar.com, March 10, 2011 2:24 am , https://www.nahimunkar.org/rabithah-ulama-ingatkan-bahaya-konspirasi-global-syi%E2%80%99ah-shafawiyah/#more-4347)
Sebagaimana MUI tutup mata pula terhadap kesesatan-kesesatan ESQ training Ary Ginanjar, padahal telah difatwakan sesatnya oleh seorang mufti di Malaysia. Juga di masyarakat, pengkaji masalah sesatnya ESQ pun menemukan berbagai penyimpangan yang prinsipil, namun justru MUI memberinya sertifikat, katanya sesuai syari’ah. Kesesatan ESQ dapat dibaca di antaranya di buku Pangkal Kekeliruan Golongan Sesat, dan buku yang baru terbit berjudul Lingkar Pembodohan dan Penyesatan Ummat Islam, terbitan Pustaka Nahi Munkar Surabaya –Jakarta telepon 031 70595271, 5911584 atau 08123125427. 021 8655824, 71490693, 08128800702
Kasus terakhir masalah syi’ah yang “diboyong” (?) MUI diskusinya dengan nara sumber orang-orang yang ditengarai berbau syi’ah dan liberal serta digagas oleh alumni hauzah Iran; pantas sekali mendapat tanggapan alias protes dari pengamat syi’ah.
Diskusi yang bertempat di kantor Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jl. Proklamasi Jakarta Pusat, Senin (14/3) itu dinilai kental dengan nuansa membela Syi’ah.
Beritanya dimuat sistus hidayatullah.com sebagai berikut:

Zein Alkaf: Syi’ah Indonesia Lihai Mengambil Hati

Habib Achmad Zein Alkaf

Hidayatullah.com—Diskusi bertajuk “Merajut Ukhuwah Islamiyah di Tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia” mendapat tanggapan dari peneliti Syiah asal Surabaya, Habib Achmad Zein Alkaf. Dalam pernyataanya yang dikirim ke redaksi hidayatullah.com, Rabu (16/3), penulis buku-buku Syi’ah ini mengatakan, diskusi yang bertempat di kantor Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jl. Proklamasi Jakarta Pusat, Senin (14/3) itu kental dengan nuansa membela Syi’ah.
“Menanggapi hasil seminar “membela Syiah” yang diadakan di Jakarta pada hari Senin, dengan nara sumber Dr Azyumardi, Dr Agil Siraj dan Dr Quraisy Syihab, membuktikan kelihaian dan kepandaian tokoh tokoh Syiah internasional melobi dan ‘memberangus’ ketiga nara sumber,” ujarnya via email ke redaksi.
Zein Alkaf yang tercatat dalam jajaran Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini mengaku kecewa dengan pernyataan ketiga nara sumber karena secara tak sadar akibat dari pernyataan dan komentarnya itu justru akan bedampak pada konflik layaknya terjadi di Iraq dan di Timur Tengah.
“Mereka tidak sadar dan tidak memikirkan bahwa akibat dari komentar-komentar mereka itu bisa mempercepat apa yang terjadi di Iraq dan di negara negara Timur Tengah lainnya yaitu saling bunuh antara Ahlussunnah dengan Syiah, “ tambahnya.
Ia menambahkan, peryataan para nara sumber itu hanya akan menambah luka pihak lain khususnya ahlusunnah.
Sebagaimana diketahui, Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Senin (14/3) menggelar diskusi bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah Di Tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia”. Diskusi bertempat di kantor Pusat MUI Jl. Proklamasi Jakarta Pusat digelar menghadirkan Prof. Dr. Azyumardi Azra, Prof. Dr. Aqiel Siradj, Dr.Qureisy Shihab dan Dr. Khalid Walid.
Dalam acara itu, Prof. Dr Azyumardi Azra dalam paparan berjudul “Realitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia dan Tantangannya dari Masa ke Masa” mengatakan, belakangan ini muncul gerakan transnasional yang mudah mengkafirkan dan mengecam pandangan yang berbeda. Lebih lanjut, ia juga mengatakan rasa khawatirnya Syiah akan menjadi sasaran setelah Ahmadiyah.
“Padahal Syiah adalah sahabat kita. Saya sangat menyesalkan pelarangan Syiah yang terjadi di Malaysia,” ujar Azyumardi dikutip Radio Iran berbasa Indonesia, IRIB. Dalam situs itu juga disebut, jika ia (Azyumardi) menyatakan dirinya sebagai simpatisan Syiah.
Sementara itu, Dr. Qureisy Shihab dalam paparannya bertema, “Membangun Visi Bersama Umat Islam Indonesia” mengatakan, perbedaan adalah keniscayaan karena perbedaan dalam Islam adalah hal yang alami.
“Perbedaan antar-mazhab hanyalah pada tingkat ushul mazhab dan furu’u dien semata (baca: prinsip mazhab bukan agama).” Menurut Prof Qureisy Shihab, hal tersebut hampir ditemukan pada seluruh mazhab atau aliran dalam Islam, baik Mu’tazilah, bahkan Wahabiyah.
Dalam penjelasannya, Qureisy Shihab juga menjelaskan, “Syiah memiliki ushul mazhab imamah atau kepemimpinan. Karena hal tersebut merupakan ushul mazhab, maka mereka yang tidak menerima Imamah tidaklah berarti kafir,” tambah Qureisy Shihab. Ia bahkan menyayangkan kelompok-kelompok yang sering mengkafirkan kelompok lain yang dinilainya karena kedangkalan pengetahuan.
Di penghujung acara, Dr. Khalid Walid alumnus dari Hawzah Ilmiah Qom, Iran yang juga penggagas acara tersebut menyatakan bahwa acara seperti ini harus terus digalakkan demi persatuan umat dan kesatuan bangsa Indonesia di Nusantara.
Diskusi dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan akademisi dan wakil ormas-ormas Islam termasuk organisasi Ahlul Bait Indonesia (ABI).
Menurut Zein yang juga penulis buku “Export Revolusi Syiah ke Indonesia” ini mengatakan, seharusnya para tokoh agama dan pemerintah bisa mengambil pelajaran kasus sebelumnya. Baik di beberapa negara Timur Tengah atau yang baru saja terjadi di Pasuruan bulan Februari lalu.
Ia juga menasehati para narasumber yang hadir dalam acara itu serta menyarankan pada tokoh Islam untuk meniru ulama-ulama Malaysia, Brunei Darussalam dan beberapa negara di Timur Tengah dalam menangani kasus Syiah.
“Mereka lebih sayang kepada bangsanya dan ummatnya, meskipun sudah dapat iming-iming dengan segala macam. Dan semua itu membuktikan tingkat iman yang tinggi, “ ujarnya.*
Keterangan foto:
1. Seminar “Merajut Ukhuwah Islamiyah di Tengah Pluralitas”/irib
2. Peneliti dan penulis buku-buku Syiah, Habib Zein Alkaff

Rep: CR-3
Red: Cholis Akbar
Sumber; hidayatullah.com, Rabu, 16 Maret 2011

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.363 kali, 1 untuk hari ini)