Jakarta, Aktual.com – Ratusan mahasiswa dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) melakukan unjuk rasa di depan Istana Negara, Rabu (24/5). Mereka menuntut penegakan hukum yang berkeadilan di Indonesia.

Aksi yang dimulai pukul 14.00 awalnya berlangsung kondusif. Para anggota KAMMI berganti-gantian menyampaikan orasinya. Mereka membawa atribut KAMMI, bendera, serta poster yang berisikan ironi penegakan hukum di indonesia.

“19 tahun reformasi membuat kondisi negara semakin jauh dari cita-cita Kemerdekaan”, ungkap Ketua Umum KAMMI, Kartika Nur Rakhman di depan Istana Negara, Jakarta.

KAMMI menuntut agar dituntaskannya berbagai kasus korupsi yang mandek selama ini. Dari mega skandal BLBI, kasus bailout Century hingga kasus e-KTP.

Selain itu supremasi hukum masih sangat lemah, hal ini ditandai dengan penunjukan Jaksa Agung dari kalangan partai politik.

“Hadirnya HM Prasetyo sebagai Jaksa Agung menjadi tanda kematian hukum. Kondisi ini menggambarkan bahwa hukum telah dikangkangi oleh kepentingan politik” tandas Nur Rakhman.

Semakin lama orasi mahasiswa semakin panas dan polisi menjadi represif dalam menindak mahasiswa. Mahasiswa duduk untuk menenangkan massanya, namun polisi mulai memukul dan menendang massa yang duduk.

Kondisi semakin ricuh, hingga 3 orang mahasiswa menjadi korban luka-luka, dan terdapat 7 orang mahasiswa yang dipukuli dan diculik oleh polisi termasuk salam satunya ketua umum KAMMI.

Kondisi ricuh membuat mahasiswa mundur dan istirahat dengan dilanjutkan sholat maghrib. Setelah sholat maghrib, mahasiswa melanjutkan menyampaikan sikapnya dan menutup dengan doa.

(Dadang Dapunta)

(Soemitro)/ http://www.aktual.com Mei 25, 2017

***

Mahasiswa Muslimin Indonesia Kecam Kekerasan Aparat Terhadap Mahasiswa

Jakarta, Aktual.com – Dewan Pimpinan Pusat Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) mengecam tindak kekerasan aparat kepolisian terhadap aksi mahasiswa di depan Istana Negara, Rabu (24/5) malam.

Aksi dimaksud digelar Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), dimana mereka menuntut aparat penegak hukum menuntaskan kasus pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras, kasus korupsi Transjakarta, reklamasi Teluk Jakarta, Simpang Susun Semanggi, skandal BLBI hingga kasus e-KTP.

“Kami mengutuk dan mengecam keras atas kekerasan yang terjadi pada mahasiswa yang berunjuk rasa malam ini (24/5) di depan Istana Negara,” tegas Ketum DPP SEMMI, Mochammad Azizi Rois, dalam keterangannya, Kamis (25/5) pagi.

Sikap represif aparat kepolisian, menurutnya harus diusut tuntas dan mahasiswa yang telah ditangkap harus segera kembali dibebaskan.

Kedua, respon ketidakadilan aparat kepolisian terhadap unjuk rasa mahasiswa ini dinilai telah menghantam dan menyakiti masyarakat luas. Sebab aparat begitu keras menyeret dan membabi buta membubarkan massa aksi mahasiswa.

“Mereka bilang sesuai ketentuan aksi hanya sampai pukul 18.00 WIB, sedangkan pengunjuk rasa lilin dari Ahokers dibiarkan unjuk rasa sampai pagi,” ucap Rois.

Terakhir, DPP SEMMI mendesak pemerintah menuntaskan kasus-kasus hukum raksasa yang membelenggu bangsa ini. Terutama kasus Sumber Waras, Korupsi Bus Transjakarta, Reklamasi Teluk Jakarta, Simpang Susun Semanggi, BLBI, E-KTP dan sebagainya yang sungguh sangat merugikan negara.

(Soemitro) /www.aktual.com – Mei 25, 2017

(nahimunkar.com)

(Dibaca 741 kali, 1 untuk hari ini)