Kapan Sebenarnya Corona Pertama Kali Masuk RI?

 


Ilustrasi. Otoritas Bandara Periksa Crew Lion Air yang Tiba dari Wuhan di Bandara Ngurah Rai, (26/1/2020) malam/ Dok. Otban Wilayah IV

Tercatat ada 10 kota di China yang diterbangi Lion Air dari Denpasar secara PP dan reguler flight diantaranya Changsa – Huanghua, Wuhan – Tianhe, Nanchang – Changbei, Guangzhou – Baiyun, Shenzen – Bao’an, Shanghai –  Pudong, Hangzhou – Xiaoshan, Chengdu – Shuangliu, Jinan – Yaoqiang dan Chongqing – Jiangbei./ tribun-bali.com, Selasa, 28 Januari 2020 18:23

Kasus positif Corona (COVID-19) di Indonesia mencapai 8.607 kasus. Kasus COVID-19 menyebar di 34 provinsi dengan kasus terbanyak di DKI Jakarta.
Indonesia pertama kali mengkonfirmasi kasus COVID-19 pada Senin 2 Maret lalu. Saat itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan ada dua orang Indonesia positif terjangkit virus Corona yakni perempuan berusia 31 tahun dan ibu berusia 64 tahun.


Kasus pertama tersebut diduga berawal dari pertemuan perempuan 31 tahun itu dengan WN Jepang yang masuk ke wilayah Indonesia. Pertemuan terjadi di sebuah klub dansa di Jakarta pada 14 Februari.

Mitos Indonesia ‘kebal’ Corona pun patah. Saat itu setidaknya sudah ada 50 negara yang sudah mengkonfirmasi memiliki kasus COVID-19. China sendiri melaporkan ke WHO mengenai adanya beberapa kasus pneumonia aneh di Wuhan pada Desember 2019.

Namun kasus tersebut diduga bukan kasus pertama. Tim pakar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menilai memprediksi virus Corona telah masuk ke Indonesia sejak minggu ke-3 Januari 2020.

Pernyataan FKM UI didasarkan pada laporan kasus orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) di salah satu daerah sejak minggu ke-3 Januari 2020. Laporan ODP ini dinilai sebagai bukti telah terjadi penularan Corona secara lokal.

“Kapan virus ini masuk ke Indonesia? Bukan bulan Maret ketika presiden laporkan keluarga positif. Sebenarnya penularan lokal sudah terjadi, sudah ada ODP di daerah. Sebenarnya kita berasumsi virus itu sudah beredar sejak minggu ke-3 bulan Januari. Jadi ini kasus lokal, bukan penularan impor,” kata staf pengajar FKM UI Pandu Riono dalam diskusi online, Minggu (19/4/2020).

Dia menjelaskan pasien terinfeksi virus Corona bisa menularkan 2-3 orang lainnya dengan waktu penularan rata-rata selama 5 hari. Hal inilah yang menyebabkan sulitnya menekan laju pandemi Corona di Indonesia.

“Ini kita observasi, setiap kasus yang terinfeksi bisa menularkan 2-3 orang lainnya. Itu double time rata-rata 5 hari, dari 10 jadi 20, 40, dan seterusnya. Ini yang menyebabkan pandemi sulit ditekan karena begitu dahsyatnya penularan virus Corona ini,” jelasnya.

Di sisi lain, Pandu melihat Pemerintah terlambat mengantisipasi karena ada pejabat yang mengatakan COVID-19 tidak mungkin masuk ke Indonesia. Padahal beberapa wilayah di Indonesia memiliki jalur penerbangan langsung menuju Wuhan yang diduga jadi titik awal kemunculan virus mematikan ini.

Pandu yakin terdapat kemungkinan masyarakat Indonesia yang telah melakukan perjalan ke Wuhan membawa virus ini ke daerah tempat tinggalnya. Pasalnya, penderita COVID-19 juga ada yang tidak menunjukkan gejala seperti demam ataupun nafas sesak.

Pada saat Wuhan jadi pandemi, itu menyebar ke Indonesia. Di Asia Tenggara, Indonesia ini paling tinggi karena ada penerbangan langsung ke Wuhan, Medan, Denpasar, Jakarta, dan sebagainya. Jadi tidak mungkin Indonesia lepas dari pandemi ini,” katanya.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Corona, dr Achmad Yurianto mengatakan dirinya tidak mengetahui atas temuan FKM UI. Yuri menyebut dirinya tidak pernah diberi tahu perihal temuan dari akar FKM UI.

“Sebaiknya menanyakan ke UI, karena saya juga tidak pernah dikasih tahu jika memang mereka menemukannya,” kata Yuri, Senin (20/4).

Yuri kemudian menanyakan kenapa FKM UI baru mengungkap temuannya saat ini. Dia menyebut jika temuan itu diyakini benar mengapa tidak diungkap saat itu juga.

“Pertanyaannya kenapa baru bilang sekarang tidak di saat mereka meyakini ada kasus yang masuk ke Indonesia,” katanya.

Terkait hal itu, Pandu mengatakan pihaknya melakukan analisis berdasarkan laporan dari pemerintah. Namun, menurutnya pemerintah tidak memanfaatkan data itu dengan baik.

Pandu juga menyentil pernyataan sejumlah pejabat yang terlalu percaya diri mengatakan Indonesia bebas virus Corona. Padahal, sambung dia, kasus Corona sudah dilaporkan sejak Januari dan Februari tapi sikap pemerintah terus membantah.

“Laporannya berdasarkan tes tapi kan pada awal bulan Januari, Februari itu pada Februari itu kasus yang ditemukan itu sudah dites itu masih negatif, itu artinya banyak orang menduga memang kita belum siap melakukan tes itu, reagen-nya belum tersedia atau reagen salah,” ujar dia.

Pandu juga mencontohkan kasus positif 1 dan 2 yang awalnya didiagnosis penyakit lain. Menurut dia, tidak ada peringatan dini dari pemerintah untuk menghadapi kemungkinan besar Corona sudah menyebar di Indonesia.

Nggak ada satu alarm atau peringatan dini dari kementerian kesehatan karena tidak menyadari kemungkinan besar virus itu sudah di Indonesia, penginnya dibantah, penginnya Indonesia bebas Corona. Semangatnya seperti itu, jadi mereka itu denial sejak awal, jangan nyalahin orang lain, mereka itu lalai dan menurut saya itu tidak memanfaatkan data yang sudah ada, denial terus sampai sekarang,” beber dia.

Saat ini Kasus Corona terkonfirmasi ada di 34 provinsi. Provinsi Gorontalo menjadi daerah terakhir yang mengkonfirmasi memiliki kasus COVID-19 pada Jumat (10/4).

Hingga 25 April, total kasus positif mencapai angka 8.607 orang. Ada penambahan kasus sebanyak 396 pasien. Sementara pasien sembuh ada 1.042 orang dan pasien meninggal 720 orang.

Pemerintah mengatakan ada sebanyak 280 dari 514 kabupaten/kota yang terdampak Corona. Kasus positif COVID-19 paling banyak masih berasal dari Jakarta yakni 3.684 kasus positif. Dan jumlah pasien terbanyak juga di Jakarta.(dtk)

 

Gelora News
26 April 2020

 

(nahimunkar.org)