Inilah beritanya.

***

Dinilai Pembela Penista Agama, Masyarakat MinangKabau Tidak Terima Tito Diberi Gelar Kehormatan Adat

Padang, Harianpublik.com – Postingan foto di laman Fb Gubernur  Sumatra Barat Irwan Prayitno mendadak ramai dengan komentar kekecewaan netizen. Hal itu dipicu oleh “Gala Sangsako” yang disematkan kepada  kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan istrinya Tri Suswati Tito Karnavian.

Kaum suku Sikumbang dari Nagari Kamang Mudiak, Kabupaten Agam, Sumatra Barat memberikan gelar adat (Gala Sangsako) kepada Kapolri Tito Karnavian saat kunjungannya di Kota Padang pada Ahad (02/04). Gelar berupa “Sutan Rajo Paga Alam” kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dan  “Siti Linduang Alam” kepada istrinya Tri Suswati Tito Karnavian.

Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM), Sayuti Datuak Rajo Panghulu dan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno hadir dalam prosesi pemberian gelar tersebut. Irwan lalu memosting foto momen tersebut di laman Facebook miliknya. Namun siapa sangka, tanggapan berisikan kekecewaan dari masyarakat Minang pun memenuhi kolom komentar.

“Ndak do masyarakaik minang nan respect dalam maagiah galo ko pak. baa bisa tajadi?? ado mukasuik tasalubuang kah? (tak ada masyarakat Minang yang paham (maksud) pemberian gelar itu pak (Irwan.red). Kenapa ini bisa terjadi?? Ada maksud terselubungkah?),” tanya Rasti Bustami kepada Irwan Prayitno.

Selain itu, juga ada yang mengaku terkejut atas pemberian gelar tersebut. Bahkan ada yang mempertanyakan kredibilitas Tito Karnavian sehingga begitu mudah diberi gelar kehormatan adat.

“Aduh ..saya ni orang Sikumbang..kok gampang be ngasih gelar sama orang yg bukan org Padang,” ujar pemilik akun Asni Bhe.

“Ado manfaat, sumbangsih atau hub si tito jo urang/ ka minang pak IP? Shinggo si tito dapek gala? (Apa manfaat, sumbangsih, atau hubungan Tito dengan orang Minang Pak Irwan Prayitno? Sehingga si Tito mendapatkan gelar?),” kata pemilik akun Ariel Anshar.

Pemilik Akun Eni Afriati turut menukil pepatah Minang yang berbunyi, “Adat berpedoman pada syariat dan syariat berpedoman pada Kitabullah alias Al-Quran”. Menurutnya, Tito bertolak belakang dengan prinsip bangsa Minang tersebut. Eni menilai Tito telah melakukan kriminalisasi ulama serta membela penista Al Quran.

“Inyo menyakiti hati rang minang nan bapedoman jo Al Qur’an. (Dia telah melukai hati bangsa Minang yang berpedoman pada Al-Quran),” papar Eni.

Komentar kekecewaan terus bertambah. Bahkan salah-satu Netizen berpendapat agar postingan itu sebaiknya dihapus. Supaya tidak menimbulkan polemik baik di Sumatra Barat maupun di daerah rantauan masyarakat Minang.

“Pak Gubernur menurut saya yg menimbulkan polemik yang tajam di ranah maupun di Rantau….ngak usah di posting dulu,” tulis pemilik akun Khairul Mustar.[kiblat/MMC]/ Harianpublik.com/ https://gudang-mobile

***

Selamat atas gelar barunya, Datok.

Ada yang baru dapat gelar kehormatan DATOK PERDANA SATRIA WANGSA” di kepulauan Riau.

Kewenangan memberi gelar tentu ada di pihak perhimpunan Agung Zuriat dan Kerabat Kerajaan Riau Lingga. Itu sah saja dan patut diapresiasi.

Tapi kita boleh mengingat dan bertanya sedikit kan. Sejak dia menjabat kapolri:

Banyak aktivis pro NKRI hanya karena bersebarangan dengan penguasa ditangkap dengan tuduhan MAKAR.
Ada orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka penista agama tapi tidak ditahan.
Banyak kriminalisasi terhadap lawan politik jokowi-ahok.
Konflik antar kelompok masyarakat semakin meruncing.
Permusuhan terhadap ormas-ormas Islam semakin menguat.
Banyak warga negara yang takut berpendapat karena khawatir akan dituduh MAKAR.
Membiarkan kapolda jadi pembina ormas anarkis biang onar (GMBI). Dan ketika anarkisme GMBI sudah memakan korban dia pura2 tidak tahu.

Pertanyaannya sudah layak kah pakcik kita ini dapat gelar kehormatan??

*pakcik tito, admin sekedar nak tanye je. Tak ade niat MAKAR, hate speech, pencemaran nama baik, dsb. Jangan tangkap kite orang. Oke, pakcik?? Hihi 🙂

Via Fb Republik Badut

***

Bagai Keledai Memikul Kitab

{مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ } [الجمعة: 5]

  1. Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim [Al Jumu’ah5]

Lhah, bagaimana bisa terjadi, dan kaum muslimin tidak heran, orang yang hafal Al-Qur’an kok tahu-tahu memberikan penghormatan sebegitunya terhadap yang disoroti Umat Islam sebagai bermasalah berkaitan dengan sikapnya yang tampak membela terdakwa penista Al-Qur’an.

Bagaimana kalau ayat tersebut di atas sampai mengenai kejadian ini, apakah tidak takut? Apa gunanya, diri yang hafal Qur’an dan anak-anaknya pula, namun petunjuk Al-Qur’an dicampakkan begitu saja dengan terag-terangan?

Betapa menghunjamnya cekikan ayat Al-Qur’an itu, rasanya seperti baru saja turun di hadapan kita sekarang, saking benarnya isi KalamulLah itu, sedang pelakunya benar-benar di hadapan kita seolah-olah.

Semoga saja kita kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang telah dijanjikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bila kalian berpegang teguh kepada keduanya maka tidak akan tersesat selama-lamanya.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.494 kali, 1 untuk hari ini)