Ilustrasi teman bergaul cerminan diri anda./ foto jalan dakwah


(Kisah nyata ini sebagian orang-orangnya masih ada)

Tulisan ini tidak berkaitan dengan orang yang mengaku katanya, bapak saya orang Karanganyar, ibu saya orang Boyolali. Lain kali dia mengaku, bapak dan ibu saya dari Boyolali semua.

Tidak ada kaitan dengan pengakuan model buruk itu. Tapi ini kejadian beneran, berkaitan dengan Karanganyar dan Boyolali.

Keluarga saya ada yang tinggal di Karanganyar, wilayah Timur Solo/ Surakarta Jawa Tengah. Sementara bapak-ibu saya dan adik-adik tinggal di wilayah Boyolali, sebelah Barat Solo. Jarak antara dua keluarga yang di Karanganyar dan Boyolali 50-an KM. Perjalanan sekarang kira-kira dua jam  dengan mobil atau motor.

Tahun 1980-an, komunikasi kurang lancar, belum ada hp. Telepon rumahan pun tidak menjangkau desa-desa keduanya. Suatu ketika, ada orang datang dari Karanganyar, tetangga di desa Boyolali yang sedang mengunjungi orang tuanya di Boyolali. Tetangga sedesa itu mengabarkan, bahwa anak Bapak (menantu ayah saya, maksudnya) bernama J di Karanganyar meninggal.

Kagetlah keluarga saya. Sedih sekali, dan segera berdatangan ke rumah J di Karanganyar, bersama kerabat dari pihak ayah dan pihak besan. Ramai-ramai berdatangan ke rumah J di Karanganyar.

Sesampai di rumah J di Karanganyar, J ada dan sangat kaget, kenapa saudara-saudaranya di Boyolali ramai2 ke rumahnya di Karanganyar. J menyambut para tamu yang dua belah pihak saling penuh tanda tanya, tanpa mampu mengungkap cerita dengan segera.

Setelah semuanya ambil nafas beberapa lama, baru mulai dibuka sabab musababnya. Dan memang benar, ada orang bernama J (sama) dan dari Boyolali juga (hanya bukan sedesa dengan J yang ini) dan tinggal di Karanganyar, barusan meninggal. Jaraknya beberapa km dari tempat J yang ini.

Setelah terdudukkan masalahnya, maka mereka saling bernafas lega. Alhamdulillaah. Mereka bersyukur… Tapi masih ada sisi mengganjalnya. Si Anu yang membawa berita itu tidak dapat dikonfirmasi, dan dirasa tidak perlu dikonfirmasi. Soalnya, dia sendiri sudah ketakutan, menyampaikan kabar, maunya berbuat baik memberitahukan, tapi hanya diperoleh dari sekadar dengar-dengar orang berkata. Dia sangat malu, dan pilih pergi entah ke mana, tidak berani bergaul dengan keluarga saya yang secara tidak sengaja telah terbohongi.

Dia tahu diri dan ngumpet hingga kini bila kira-kira ada pertemuan yang di situ ada keluarga saya, selalu menghindar. Padahal keluarga saya tidak mengapa, tidak mempersoalkannya. Tapi dia sangat merasa salah. Bukan malah bilang: Saya kan hanya dengar orang bicara, emang saya membohongi siapa?

Pake Thole

(nahimunkar.org)

(Dibaca 563 kali, 1 untuk hari ini)