Ilustrasi. Kyai Sholeh Darat Semarang (kiri) penulis Tafsir Faidhur Rahman Bahasa Jawa (QS Al-Fatihah- QS Ibrahim) sempat memberi hadiah kitab tafsirnya itu kepada Kartini (kanan) waktu pernikahan Kartini dengan R.M. Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang, pada tanggal 12 November 1903. / foto mslmdrtcom

Oleh: Abdul Kahar Kongah

Sosok Raden Ajeng Kartini, menarik untuk disimak. Ia dianggap pahlawan oleh dua pihak yang berseteru; oleh pihak Belanda maupun pihak Republik Indonesia. Begitu pula oleh pihak komunis dan anti komunis. Ia menampilkan banyak sisi untuk digali dan diperdebatkan.

Berbeda dengan Soekarno yang begitu dibenci Belanda. Kritik-kritiknya membuat ia selalu keluar masuk bui. Westerling  begitu benci dan merendahkannya. Sampai-sampai Ia enggan menembak Putra Sang fajar karena nyawanya dianggap lebih murah dibandingkan harga sebutir peluru. Sebaliknya Ia begitu dipuja oleh kaumnya. Lain halnya dengan Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker, seorang Belanda, yang dimusuhi oleh bangsanya  sendiri, tetapi dia dianggap pahlawan oleh  penduduk pribumi.

Kartini dianggap sebagai ikon feminis tapi sekaligus ditolak karena ia menyetujui poligami. Ia dianggap pahlawan tapi juga dihujat karena ia dianggap tak pantas menyandang gelar tersebut. Sosoknya seolah seperti selalu ditunggangi oleh para penguasa untuk kepentingan kekuasaannya. Banyak kalangan yang menilai bahwa Kartini hanyalah alat propaganda Partai Sosial Demokrat (Belanda, red NM) untuk menunjukkan keberhasilan mereka dalam melakukan tindakan politik etis di tanah jajahan terutama di bidang pendidikan. Mereka ingin mengatakan bahwa kami telah berhasil dalam menjalankan kebijakan balas budi kami dan Kartini adalah hasilnya.

Selain itu ia (Kartini) ‘dipilih’ oleh  Snouck Hourgronje sebagai  media katalisator infiltrasi budaya Eropa ke kalangan priyayi.  Hourgronje berpendapat bahwa kalangan yang paling menentang  pemerintah Belanda berikut budayanya adalah orang Islam. Kalangan priyayi dipilih karena mereka menjadi panutan bagi rakyat jelata. Horgronje menyarankan kepada keluarga Abendanon, sahabat pena Kartini, untuk’ lebih memperhatikan’ wanita cerdas dan progresif kelahiran Jepara tersebut.

Kartini Dimasa Orde Lama Dan Orde Baru

Biasanya seseorang yang pernah memuji-muji orang Belanda dan berteman dengan mereka, diera revolusi akan dicap sebagai kontrarevolusi, pengkhianat bangsa dan antek-antek kolonialisme dan imperialisme. Tapi tidak bagi Kartini. Ia justru disanjung  dan dipuja. Ia dianggap sebagai tokoh revolusioner.

Di masa Soekarno, perempuan digambarkan seperti sosok Srikandi, yakni perempuan yang tegar, pemberani, dan mandiri. Kartini dianggap sosok ideal untuk menggambarkan figur tersebut. Tak tanggung-tanggung, Gerwani, organisasi sayap PKI, menerbitkan majalah dengan nama Api Kartini.

Disitu ditulis “Sesungguhnya gadis ideal yang dikehendaki oleh Kartini yang sesuai dengan panggilan revolusi, adalah seorang gadis yang tidak hanya dengan ciri perilaku  nrimo ing pandum, tetapi tangkas, berdiri tegak sejajar dengan para laki-laki dalam segala bidang….semangatKartini…..selalu memberontak terhadap segala ketidakadilan, belenggu adat kolot serta derita kaum perempuan dan Rakyat.”

Selanjutnya terjadilah penyuntingan narasi. Lagu Yang berjudul Raden Ajeng Kartini ciptaan WR. Supratman diedit judul dan syairnya . Raden Ajeng dihapus diganti dengan Ibu Kita sehingga lagu tersebut berjudul ‘Ibu Kita Kartini’ Jelas ini sebuah ambivalensi. Siapa pun tahu bahwa PKI mengharamkan hal-yang berbau feodal dan kolonial dan semua orang tahu bahwa Kartini itu gadis pingitan, seorang bangsawan bergelar Raden Ajeng bersuamikan seorang Bupati yang note bene juga seorang bangsawan dan ‘kaki tangan’ imperialis.

Di Masa Orde baru hal sama terjadi. Kartini masih sebagai pahlawan dan representasi ideal seorang perempuan Indonesia. Tapi ia tidak lagi digambarkan sebagai Srikandi. Kartini berubah menjadi sosok Subadra (Sembodro?, red NM) yang anggun, lembut dan patuh pada suami. Oleh Soeharto ia dikembalikan ke rumah ke tempat ia menjadi ibu bagi anak-anaknya dan istri yang baik untuk suaminya. Dimasa ini Kartini diidentikkan dengan kebaya dan sanggul. Tak tampak jiwa-jiwa pemberontakan dengan jiwa revolusioner dalam sosok Kartini sebagaimana yang digambarkan di zaman orde lama .

Dihujat

Kepahlawanan kartini juga dihujat.  Mengapa hanya Kartini yang memiliki hari,  sementara pejuang wanita yang sebenarnya lebih hebat tidak? Masih banyak lagi tokoh-tokoh wanita yang lebih layak untuk dijadikan pahlawan .  Prof. Harsja W.Bachtiar yang pada tahun 1979 menerbitkan bukunya dan bertepatan dengan peringatan  satu abad Kartini. Buku tersebut menggugat kepahlawanan Kartini. Tidak perlu ada hari Kartini!

Bagi mereka yang bergelut dengan teori konspirasi, Kartini diindentikkan dengan pemikiran theosofi, humanisme, okultisme dan pluralisme agama. Suatu ajaran yang disebarkan oleh orang-orang freemasonry yang disinyalir sebagai bagian penting dari gerakan zionis Yahudi. Isi dari surat-surat yang dikirim Kartini kepada Stella Zeehandelaar (Stella) dan keluarga Van Kol mengindikasikan dan menguatkan dugaan tersebut.

Stella adalah seorang perempuan Yahudi pejuang feminisme  radikal, seorang vegetarian, penyayang  binatang dan penganut theosofi yang tinggal di Amsterdam. Belanda. Stella atau Estella yang merupakan anak dari seorang dokter Yahudi, juga anggota SDAP (Social Democratische Arbeiders Partij), Partai bercorak sosialis yang berkuasa di Belanda waktu itu. Korespondensi kartini kepada Stella kemudian dikumpulkan oleh Dr. Joost Cote dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Aku Mau….Feminisme dan Nasionalisme: Surat-Surat Kartini Kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903”.

Sementara itu, surat-surat Kartini kepada Ny. Abendanon dibukukan dan diterbitkan pada tahun 1911. Buku yang berjudul “Door Duisternistot Licht” diterbitkan oleh Kartini Fonds yang didirikan oleh Conrad Theodore Van Daventer, seorang humanis dan pendukung  gerakan politik etis Belanda.

Buku tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ oleh Armijn Pane yang disinyalir beberapa kalangan juga sebagai anggota Theosofi. Bahkan buku ‘Door Duisternistot Licht’ pun tak luput dari kontroversi sebagaimana juga judul terjemahannya. Kartini dan ‘Door Duisternistot Licht’ dijadikan alat propaganda kaum sosialis dalam melaksanakan politik etis masa itu.

Sementara itu,  judul buku terjamahan bahasa Indonesia ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ dianggap sebagai ungkapan yang berasal dari inisiasi freemasonry yang berbunyi: ”Kalian  dalam  zulumat  (kegelapan) dan kini aku bawa  kalian  ke dalam Nur, bertaubat  dan menangislah kalian mengingat dosa-dosa kalian semasa  dalam  zulumat itu.” .

Pendapat ini merupakan sanggahan atas pendapat yang mengatakan bahwa kalimat ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ merupakan ungkapan dari Alqur’an:  ‘Minazzulumaati ilannuur’ yang berarti ‘Dari kegelapan menuju cahaya’ . Sepenggal ayat tersebut  sangat disukai Kartini ketika ia mulai kenal lebih dekat dengan Islam lewat Kyiai Sholeh Darat.

Nama lengkap Kyai Sholeh Darat adalah KH. Sholeh bin Umar As-Samarani. Lahir di Cemlung Jepara tahun 1820 M/1235 H. Wafat di Semarang pada hari Jum’at 18 Desember 1903 M/29 Ramadhan 1321 H. Beliau hidup sezaman dan seperguruan selama di Mekah dengan Syekh Nawawi Banten, Syekh Kholil bin Abdul Latif Bangkalan Madura, Syekh Amrullah (Datuk dari Prof. Dr. Hamka) dan Syekh Muhammad Zain bin Mustafa Al-Fathani (berasal dari Patani, Thailand). Murid-murid beliau kelak menjadi ulam-ulama besar pendiri pesantren dan organisasi besar  di Indonesia diantaranya: KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri NU) dan KH. Ahmad Dahlan(Pendiri Muhammadiyah).

Raden Ajeng Kartini bisa disebut sebagai murid Kyai Sholeh Darat. Kartini bertemu pertama kali dengan Kyai Sholeh ketika memberikan pengajian rutin kepada para priyayi di pendopo Kadipaten Demak yang bupatinya adalah paman Kartini sendiri.

Kartini sangat terkesan dengan penjelasan dan penafsiran surah Alfatihah yang diajarkan oleh sang Kyai.  Kartini lantas meminta romo gurunya itu agar Al-Qur’an diterjemahkan. Karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur’an dan juga para ulama waktu itu melarang Alquran diterjemahkan dengan alasan yang berbeda dengan pemerintah.

Mbah Shaleh Darat menentang larangan ini. Romo guru tersebut berkenan menyanggupi permintaan Kartini. Terjemahan Alqur’an beliau tulis dengan huruf Arab Pegon agar tidak dicurigai pihak Belanda.

Pada tahap pertama, romo Kyai menerjemahkan dan menafsirkan Alquran sebanyak 13 juz, dimulai dari surah Alfatihah sampai surah Ibrahim. Terjemahan tersebut merupakan terjemahan dan tafsir alqur’an pertama dalam bahasa Jawa di nusantara dan diberi nama kitab Faidhir Rahman. Kitab tersebut merupakan kado terindah bagi  Kartini yang diberikan khusus oleh kyai Sholeh ketika Kartini menikah   dengan RM. Joyodiningrat (Bupati Rembang) pada tanggal 12 November 1903.

Kartini amat menyukai hadiah ini dan mengatakan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”

Sayang , tak lama setelah itu Romo Kyai meninggal dunia tak sempat menyelesaikan penerjemahan alQur’an sampai 30 juz. Kartini pun tak lagi bisa menyerap ilmu dari sang guru. Setahun kemudian tepatnya tanggal 17 September 1904 pun Kartini wafat pada umur 25 tahun. Ia menghembuskan nafas terakhir di pangkuan suaminya, Bupati Rembang ke VII, 4 hari  setelah melahirkan  anak pertama dan terakhirnya: Singgih atau lebih dikenal dengan RM Soesalit.

Cuma dari surat

Apa yang bisa kita fahami dari seorang Kartini memang jadi begitu terbatas. Sangat sedikit penggalan kisah hidupnya yang kita dapatkan langsung dari orang pertama atau orang terdekatnya. Ia hanya terbaca dari surat-surat yang ia kirimkan kepada beberapa sahabat pena. Surat-surat yang telah disunting sebelum diterbitkan, sebagian lagi tak bersedia diterbitkan  oleh beberapa sahabat penanya.

Ia mengirimkan surat ke banyak orang dengan karakter, profesi, motif dan pemikiran yang berbeda-beda. Dengan begitu,  tentu saja ia mengungkapkan fikirannya secara berbeda dengan subjek yang  juga berbeda. Selain itu, lewat interaksinya dengan dunianya, ia adalah subjek yang terus bergerak dengan fikiran yang terus berkembang. Sehingga  di mata kita ia tampil dengan banyak sisi.**** Penulis adalah Cendekiawan Muslim

Sumber: eritabuana.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.284 kali, 1 untuk hari ini)