• Bahwa insiden di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya merupakan tindakan kriminal. Sebab massa yang diprovokasi oleh Teras Narang itu membawa senjata ke bandara yang merupakan fasilitas umum.
  • Kasus di Palangkaraya itu tidak pernah terjadi di bandara manapun di seluruh dunia. Tidak ada di dunia ini, kecuali di Palangkaraya itu.

Inilah beritanya.

***

Insiden Palangkaraya Adalah Pengingkaran dan Pelanggaran HAM yang Nyata

Jakarta (SI ONLINE) – Insiden Palangkaraya dengan korban FPI dan empat orang pimpinan FPI Pusat dinilai Komisioner Komnas HAM Saharuddin Daming sebagai bentuk pengingkaran dan pelanggaran HAM yang nyata. Menurut Daming persitiwa itu merupakan bentuk pelecehan terhadap kebebasan beragama dan berorganisasi. Karena itu Daming mengutuk keras terjadinya insiden tersebut.

Demikian dikatakan Saharuddin Daming kepada Suara Islam Online melalui sambungan telepon, Selasa (14/2/2012).

Terkait adanya dugaan Gubernur Kalteng Teras Narang berada di balik peristiwa itu, jika itu benar, Daming mengaku sangat menyesalkan. Alasannya, ketika Teras Narang menjadi anggota DPR RI, ia adalah orang yang getol menyuarakan kebebasan beragama dan HAM.

“Saat jadi anggota DPR Teras Narang itu getol menyuarakan itu (HAM, red)”, kata Daming.

Daming juga mengungkapkan bahwa insiden di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, juga merupakan tindakan kriminal. Sebab massa yang diprovokasi oleh Teras Narang itu membawa senjata ke bandara yang merupakan fasilitas umum.

Massa juga dinilai Daming melanggar UU Penerbangan. Ia mengatakan kasus di Palangkaraya itu tidak pernah terjadi di bandara manapun di seluruh dunia. “Tidak ada di dunia ini, kecuali di Palangkaraya itu”, tuturnya.

Rep: Shodiq Ramadhan

Shodiq Ramadhan | Selasa, 14 Februari 2012 | 15:03:03 WIB

***

Insiden Palangkaraya, Daming Pertanyakan Suara Kaum Pembela Kebebasan

Jakarta (SI ONLINE) – Anggota Komnas HAM Saharuddin Daming mempertanyakan sikap kelompok yang selama ini berkoar-koar tentang kebebasan dan HAM dalam menanggapi Insiden Palangkaraya.

Mestinya, kata Daming, mereka siap dan berani menerima perbedaan. Jangan sampai persoalan ini menjadi bias karena faktor kebencian.

“Jangan sampai Guntur Romli dan kawan-kawan ini mengkafiri keyakinannya tentang pluralisme”, kata Daming kepada Suara Islam Online, Selasa (14/2/2012), saat diberitahu bahwa Guntur Romli Cs malah memanfaatkan momentum ini untuk membubarkan FPI.

Daming menyebut jika para pengemban pluralisme tidak bisa menerima perbedaan, sesunggunya mereka orang yang meyakini pluralisme gadungan. “Jadinya pluralisme itu konsep kesesatan yang nyata dan kemunafikan besar”, ungkapnya.

Menurut Daming konsep HAM juga akan menjadi bias jika ditafsirkan menurut keyakinan sebuah kelompok saja ketika berhadapan dengan lawan yang mereka benci. “HAM menjadi bias. Karena itu saya sering ingatkan hati-hati bicara hAM karena mudah dibelokkan”, kata doktor alumni Universitas Hasanuddin, Makasar itu.

Jika ingin dinilai adil, lanjut Daming, saat terjadi Insiden Palangkaraya mestinya kelompok-kelompok penyeru kebebasan itu mengutuk pelaku kekersan dan tindakan anarkis yang telah membawa senjata, mengancam keselamatan empat pimpinan FPI dan menjebol Bandara Tjilik Riwut. “Mana itu pernyataan dan komitmen mereka?”, Daming kembali mempertanyakan.

Shodiq Ramadhan | Selasa, 14 Februari 2012 | 15:25:04 WIB

(SI ONLINE)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.355 kali, 1 untuk hari ini)