Inilah beritanya.

***

 Kasus Ongen: Siapa Saksi Ahli Polisi yang Katakan Lonte Pornografi?

Akun twitter Yulian Paonganan (Ongen)

Jakarta, HanTer – Ketika pakar hukum dan bahasa sepakat jika cuitan Yulian Paonganan alias Ongen #PapaDoyanLonte bukan masuk kategori pelanggaran UU pornografi. Lantas ahli bahasa dari mana yang dipakai oleh pihak kepolisian yang mengatakan kata lonte dalam hestek Ongen itu adalah pornografi? Ini menjadi pertanyaan serius.

Pengamat kepolisian, Karel Susetyo mengatakan polisi harusnya terbuka soal siapa ahli bahasa yang digunakan sebagai dasar untuk mentersangkakan Ongen. Hal ini penting, agar tidak menjadi tanda tanya baik itu publik maupun tersangka. Apalagi, ada pernyataan pakar bahasa yang mengatakan itu tidak masuk kategori pornografi.

“Polisi harus berikan keterangan ke publik ahli bahasa mana yang mereka gunakan, jangan sampai menjadi pertanyaan besar dan dituduh polisi telah melakukan kebohongan,” ujar Karel saat dihubungi wartawan, Selasa (15/3/2016).

Karel meragukan saksi ahli yang digunakan polisi itu adalah hanya rekayasa. Hal ini berbanding terbalik dengan pernyataan profesor bahasa. Bahkan di kamus besar bahasa indonesia, lonte tidak mengandung unsur porno.

“Saksi ahli polisi itu dari lembaga mana? Itu sudah terbantahkan oleh pernyataan pakar,” tegasnya.

Diketahui pakar bahasa dari Univeristas Tadulako Palu, Prof Hanafie Sulaiman secara tegas mengatakan kata lonte dan foto alat kelamin anak kecil tidak mengandung unsur pornografi.

Seperti dalam penjelasan di Kamus Besar Bahasa Indonesia, Lonte itu adalah perempuan jalang, tuna susila dan pelacur. Sementara pronografi itu adalah tingkah laku secara erotik dalam gambar atau, dan tulisan yang cendrung membangkitkan nafsu birahi.

“Jadi lonte dengan pornografi itu tidak ada kaitannya. Kata lonte itu kalau saya sebutnya Animate sementara pronografi itu adalah Niranimate,” ujarnya.

“Sedangkan foto kelamin anak kecil laki laki yang akan disunat bukanlah pornografi. Definisi pornografi adalah gambar atau tulisan yang dapat membangkitkan hasrat birahi, sedangkan gambar itu tidaklah timbulkan hasrat birahi, apalagi diambil dari blog kesehatan yang membahas tentang sunat anak kecil, lalu dimana pornografinya?,” paparnya.

Karel melanjutkan terkait dengan pernyataan tersebut jelas jika kasus Ongen ini tidak melanggar pornografi. Ditanya, polisi tidak konsisten dengan pernyataanya, dimana Ongen katanya akan dilimpahkan ke Kejaksaan pada hari Senin (14/3) kemari. Tapi nyatanya, Ongen masih berada di Bareskrim. Karel mengatakan polisi harus meluruskan.

“Ini lagi-lagi telah membuat kebohongan. Harusnya polisi konsisten, jangan semakin ada kesan polisi bingung mau melanjutkan kasus Ongen, maju kena mundur kena,” tandasnya.

Sumber: nasional.harianterbit.com/Selasa, 15 Maret 2016

***

Hestek Ongen Tak Penuhi Unsur Pornografi, Foto Jokowi Dengan Nikita Dianggap Porno?

NBCIndonesia.com –  Penetapan tersangka oleh polisi terhadap Yulian Paonganan alias Ongen terkait dengan hestek #PapaDoyanLonte dan #PapaDoyanPaha terbantahkan dengan pernyataan para pakar hukum, dimana tidak ada unsur pornografi dalam cuitan Ongen di Twitter.

Guru Besar Bahasa dari Universitas Tadulako Palu, Prof Hanafie Sulaiman mengungkapkan, hestek yang dibuat Ongen di Twitter tidak ada unsur pornografi.

“Apa yang katakan Ongen di Twitter soal kata Lonte tidak memenuhi unsur Pornografi, jadi tidak benar Ongen dijerat UU Pornografi,” ujar Hanafie, Selasa (1/3).

Seperti dalam penjelasan di Kamus Besar Bahasa Indonesia, Lonte itu adalah perempuan jalang, tuna susila dan pelacur. Sementara pronografi itu adalah tingkah laku secara erotik dalam gambar atau, dan tulisan yang cendrung membangkitkan nafsu birahi.

“Jadi lonte dengan pornografi itu tidak ada kaitannya. Kata lonte itu kalau saya sebutnya Animate sementara pronografi itu adalah Niranimate,” tegasnya.

Senanda dengan Hanafie, Pakar Hukum, Prof Zainudin Ali mengatakan bahwa polisi sudah melakukan tindakan sewenang-wenang menahan orang berlama-lama dengan tuduhan yang tidak masuk akal.

“Malu dunia hukum kita jika polisi seperti ini, apalagi sampai berkas dikembalikan lagi oleh Kejaksaan,” kata dia.

Zainudin yang juga Wakil Ketua MUI bidang Hukum mendesak agar polisi segera membebaskan Ongen. Karena, jika ini dipaksakan hancur citra polisi. “Bebaskan saja, segera terbitkan SP3,” tandasnya.

Aktivis sosial, Anca Adhitiya menilai kasus yang menjerat Ongen ini sudah tidak masuk akal. Ketika pakar sudah menyatakan Lonte bukan porno, apakah polisi memandang foto Jokowi bersama Nikita itu porno.

“atau jangan-jangan polisi menganggap foto Jokowi bersama nikita yang porno, sehingga mereka begitu ngotot untuk jerat Ongen, dengan UU Pornografi, jika demikian harusnya pemeran foto yang ditangkap” kata Anca.

Menurut dia, seharusnya polisi bisa bersikap profesional. Jangan kemudian, karena ada tekanan mereka terus memaksakan sebuah kasus, yang ujungnya akan merusak nama baik polri.

“Disinilah polisi harus bersikap adil, ketika salah ya salah, ketika benar tunjukan kebenaran, jangan semaunya dan mudah diintervensi. Kalau seperti ini, kita melihatnya polisi seperti nggak pernah belajar,” sindir Anca.(akt)/ Sumber: NBCIndonesia.com/3/02/2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.387 kali, 1 untuk hari ini)