Media online thejakartapost.com edisi Selasa (3/12) sempat memberitakan bahwa ada seorang mahasiswi lain yang membuka suara atas upaya pemerkosaan yang ingin dilakukan oleh Sitok. Namanya Maria. Upaya pemerkosaan Maria oleh Sitok, seperti dikisahkan Maria kepadathejakartapost.com, gagal karena Maria melawan dan melarikan diri. Sebelum peristiwa itu terjadi, Sitok terlebih dulu mengajak Maria meminum minuman keras.

Namun, pada Kamis ini (5/12), tautan berita tersebut sudah tidak ada lagi dithejakartapost.com. Memang, salah satu pemegang saham thejakartapost.comadalah kelompok Tempo.

***

Tempo Lindungi Sitok Srengenge

Komunitas Salihara, yang bisa dibilang sebagai anak kandung media Tempo, mengeluarkan siaran pers terkait kasus dugaan pemerkosaan yang dilakukan seorang aktivis komunitasnya, Sitok Srengenge. Dalam siaran pers itu, Komunitas Salihara seakan ingin menyangkal pemberitaan Tempo, yang menyatakan Sito dituduh melakukan perbuatan tidak menyenangkan. Siaran pers Komunitas Salihara, dengan mengutip keterangan polisi, mengungkapkan Sitok dituduh melakukan pemaksaan hubungan seks, kehamilan di luar nikah, dan penelantaran terhadap seorang mahasiswi Universitas Indonesia.

Sebelum itu, banyak pihak memang merasa heran dengan cara Tempomemberitakan kasus yang melibatkan Sitok Srengenge. Tempo terkesan ingin melindungi Sitok Srengenge, dengan cara memengaruhi opini publik. Itu sebabnya, ada yang menyatakan Tempo telah melakukan dosa publik. Ada juga yang membeberkan sembilan dosa Tempo sehubungan dengan cara pemberitaannya itu.

Bahkan, seorang ahli komunikasi lulusan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Wisnu Prasetya Utomo, dengan sengaja melakukan perbandingan cara pemberitaan tiga media online dengan media online Tempo mengenai kasus Sitok. Ketiga media yang beritanya dibandingkan dengan berita Tempo itu adalah kompas.com (Kompas), republika.com (Republika), dan jppn.com (Jawa Pos). Hasil dari perbandingan itu dilaporkan Wisnu di blog-nya,http://wisnuprasetya.wordpress.com.

Wisnu mengungkapkan, dari keempat media tersebut, hanya Tempo yang tidak menyebutkan Sitok menghamili mahasiswi. Bahkan, tak ada kata “menghamili” pada pemberitaan yang Tempo tulis. Tempo memberitakan bahwa Sitok dilaporkan atas “perbuatan tidak menyenangkan terhadap seorang wanita”.

Pada penutup berita terkait kasus yang membelit Sitok itu, lanjut Wisnu,Tempojuga berulang-ulang meletakkan tanggapan Sitok terhadap pelaporan tersebut. Setelah itu, Tempo menurunkan dua berita yang berisi pernyataan istri Sitok dan putri Sitok. “Terlihat penggambaran keluarga yang sedang mengalami ujian dan tegar menghadapinya. Kedua berita ini memberikan penutup yang sama bahwa Sitok siap bertanggung jawab dan hubungannya dengan RW dilakukan atas dasar suka sama suka,” ungkap Wisnu.

Ketiga media yang lain memosisikan RW sebagai korban, namun tidak demikian halnyaTempo. “Dari awal, Tempo sudah mem-framing bahwa kasus ini terjadi karena suka sama suka. Konsekuensinya, tidak ada yang menjadi korban. Apalagi, ditambah dengan penonjolan respons dari istri dan anak Sitok serta tanggapan Sitok yang mengatakan akan bertanggung jawab. Sebagai catatan,Tempo yang pertama kali mendapatkan klarifikasi atau tanggapan dari sang penyair dari Komunitas Salihara ini,” papar Wisnu.

Nada pemberitaan Tempo, lanjut Wisnu, sebenarnya mulai berubah seiring dengan ditulisnya berita dengan judul “RW, Korban Sitok, Depresi Lima Bulan” dan “BEM FIB UI Tuding Sitok Teror Mahasiswi UI”. “Ah, tapi jangan percaya sebuah berita sampai Anda membacanya tuntas,” kata Wisnu.

Kenapa? Karena, lanjut Wisnu, dua berita tersebut diakhiri dengan kalimat “Dalam klarifikasinya, Sitok sendiri mengaku mengenal RW dan pernah berhubungan intim atas dasar suka sama suka. ‘Tapi tidak benar saya berniat membiarkan, apalagi lari dari tanggung jawab,’ kata dia.” dan “Badan Eksekutif Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia sampai mengeluarkan siaran pers soal ini. Mereka meminta kasus ini diungkap tuntas. Kepada Tempo, Sitok membantah telah melakukan pelecehan seksual seperti yang dituduhkan.”

“Tanpa susah-susah menganalisis, kita bisa menyimpulkan bahwa hal tersebut menunjukkan sesuatu yang hendak ditekankan sebuah berita. Nah, tepat di titik itulah framing bekerja,” tutur Wisnu. Framing semacam ini menurut Wisnu terasa aneh jika melihat bagaimana pemberitaan Tempo terkait dugaan pemerkosaan terhadap perempuan jurnalis di Jakarta, beberapa bulan lalu. “Saat itu, Tempogetol mengangkat kasus ini dan memberikan ruang yang lebar untuk korban. Pertanyaannya, mengapa dalam kasus SS iniTempo tidak melakukan hal serupa dan justru memberikan banyak ruang untuk sang pelaku?” kata Wisnu. Dengan berita-berita seperti itu, tambah Wisnu, jangan salahkan publik jika menganggapTempo “membela” SS dalam kasus ini.

Sementara itu, Ayu Utami, penulis yang juga kurator Komunitas Salihara, menulis dalam blog-nya bahwa pada kasus SS, kita belum tahu apakah pemaksaan dalam makna tradisional memang terjadi. “Tapi, dugaan bahwa ada hubungan seks yang tidak adil, tidak ditunaikan dengan cara-cara apik dan manusiawi―dan karenanya menjadi tidak menyenangkan, bahkan terasa cabul―sah sebagai kasus hukum. Kita tidak bisa lagi berlindung di balik ‘suka sama suka’. Itu pandangan yang terlalu sempit,” ungkap Ayu, dalam tulisan berjudul “Mengapa Kita Tak Pantas Lagi Bilang ‘Suka sama Suka'”.

Media online thejakartapost.com edisi Selasa (3/12) sempat memberitakan bahwa ada seorang mahasiswi lain yang membuka suara atas upaya pemerkosaan yang ingin dilakukan oleh Sitok. Namanya Maria. Upaya pemerkosaan Maria oleh Sitok, seperti dikisahkan Maria kepadathejakartapost.com, gagal karena Maria melawan dan melarikan diri. Sebelum peristiwa itu terjadi, Sitok terlebih dulu mengajak Maria meminum minuman keras.

Namun, pada Kamis ini (5/12), tautan berita tersebut sudah tidak ada lagi dithejakartapost.com. Memang, salah satu pemegang saham thejakartapost.comadalah kelompok Tempo. (ASN-010/DJE)

HUKUM & KRIMINAL | December 05, 2013 15:47:19 ASATUNEWS –

***

Korban Dugaan Tindakan Asusila Sitok Srengenge mulai Bermunculan

Kamis, 5 Desember 2013 – 08:16 WIB


Hidayatullah.com—
Dugaan korban-korban pelecehan dan asusila yang dilakukan penyair Sitok Srengenge (46) mulai bermunculan. Setelah korban berinsial RW (22), kini muncul korban kedua.

Diduga, Sitok yang nama aslinya Sitok Sunarto menggunakan taktik yang sama, di mana korban dikasih minuman beralkohol. Korban kedua berhasil menghindari pemerkosaan, tapi mengalami depresi, demikian disampaikan Saras Dewi, dosen UI dan konselor korban yang hamil.

“Korban terakhir [korban kedua, red] mengatakan kepada saya bahwa Sitok menggunakan taktik yang sama untuk menjebaknya melakukan hubungan seksual. Sitok mengundangnya ke ruangannya untuk proyek kesenian tetapi kemudian memberikannya minuman beralkohol dan mulai menyentuhnya,” kata Saras Dewi, seorang dosen UI dan konselor gadis pertama (yang hamil) kepada The Jakarta Post Selasa (03/12/2013).

“Mahasiswi itu melawan perlakuan Sitok dan untungnya berhasil selamat dari pemerkosaan,” imbuhnya.

Saras menambahkan, meskipun mahasiswi itu berhasil menghindari pemerkosaan, dia mengalami depresi dan menarik diri (menjadi pendiam) karena trauma akibat kejadian itu.

Sebelumnya, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (BEM FIB UI) mengecam tindakan penyair yang hari Selasa lalu menyampaikan pengunduran diri dari Komunitas Salihara di mana ia selama ini banyak beraktifitas sebagai curator.

BEM FIB UI juga menduga ada korban lain yang didekati oleh Sitok , selain RW. Diduga pula, korban-korban didekati dengan modus yang sama.

“Semuanya harus bersuara, korban-korban yang lain harus bersuara untuk membuat argumen kuat bahwa tindakan SS ini tidak benar. Buktinya akan lebih kuat dengan penyampaian mantan-mantan korban itu. Dan yang dilakukan dia ini adalah kejahatan, menurut saya penting jika korban-korban lain untuk ikut bersuara,” kata Ketua BEM FIB UI, Saifulloh Ramdani di kampus FIB UI, Depok, Sabtu (30/11/2013).

Seperti diketahui, Sitok dilaporkan RW ke Markas Polda Metro Jaya, Jumat (29/11/2013) diantar kuasa hukum dan sejumlah kerabatnya, termasuk sejumlah dosen UI.

Korban diperiksa sejak pukul 13.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. RW mengaku diperkosa dan kini hamil 7 bulan.*

Rep: Panji Islam

Editor: Cholis Akbar/hdytlhcom

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.361 kali, 1 untuk hari ini)