Ahmad Syafii Maarif, kata-katanya kasar demi bela penista agama dan lainnya/ foto dok ist.


Pekataan kasar Ahmad Syafii Maarif yang dilontarkan dengan bangga di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/7) adalah: “rongsokan peradaban Arab yang kalah”. Juga perkataan kasar: “Rongsokan peradaban Arab yang sedang jatuh, dibeli di Indonesia.”

Selama ini, kata-kata kasar Ahmad Syafii Maarif yang dikenal sebagai pembela Ahok penista agama masih terngiang di telinga Umat Islam pada umumnya.  Terutama Umat Islam yang ada kepedulian tentang agamanya yang dihina oleh penista agama, Ahok Gubernur DKI Jakarta yang kemudian kalah dalam Pilkada 2017 dan dihukum penjara 2 tahun karena terbukti menistakan agama (Islam). Yang digugat karena dinilai menodai agama adalah  perkataan Ahok saat menyinggung penggunaan surah Al-Maidah 51 dalam pidato di Kepulauan Seribu. Yaitu: “Jangan mau dibohongi pake surat Al-Maidah 51”.

Dalam persidangan, Ahli bahasa Prof. Mahyuni menganggap tidak ada perbedaan jika kalimat menggunakan kata “pakai” atau tidak.

Hal itu disampaikan Mahyuni menjawab pertanyaan Jaksa Penuntut Umum soal kalimat “Dibohongi pakai Surat Al-Maidah” dengan kalimat “Dibohongi Surat Al-Maidah”.

“Tetap alat untuk membohongi itu adalah Surat Al-Maidah, karena kalau bicara dibohongi, berarti ada alat yang digunakan untuk berbohong, ada yang dibohongi, ada yang berbohong. Kata bohong itu sendiri, sebelum melihat konteks (kalimatnya), sudah negatif,” kata Mahyuni di muka sidang kasus dugaan penodaan agama di Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (13/2/2017).

Pengajar di Universitas Mataram itu melihat kata “pakai” merupakan kata pasif yang tidak mengubah makna kalimat jika ada atau tidak disertakan dalam kalimat. (Sidang Ahok, Ahli Bahasa Bedah Kalimat Dibohongi Posted on 13 Februari 2017 by Nahimunkar.com).

Vonis 2 tahun penjara karena Ahok terbukti menodai agama, inilah beritanya.

***

[BREAKING NEWS] Vonis Hakim 2 Tahun Penjara Ahok Disambut Takbir!!! Ahokers Shock Berat

by Nahimunkar.com, 10 Mei 2017

JAKARTA – Sidang vonis dugaan penodaan agama terhadap terdakwa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) digelar hari ini, Selasa (15/5/2017), di auditorium Kementerian Pertanian (Kementan), Ragunan, Jakarta.

Setelah menjalani persidangan selama hampir 5 bulan, akhirnya Majelis Hakim PN Jakarta Utara yang diketuai H. Dwiarso Budi Santiarto memvonis Basuki Tjahaja Purnama dengan vonis hukuman: 2 TAHUN PENJARA DAN LANGSUNG DITAHAN HARI INI JUGA.

TERDAKWA SECARA SAH TERBUKTI BERSALAH!!!

Dalam penentuan vonis ini, Majelis Hakim mempertimbangkan PENDAPAT DAN SIKAP KEAGAMAAN MUI yang telah dikeluarkan pada 11 Oktober 2016.

Hakim tak sependapat dengan JPU. Terdakwa secara sah memenuhi semua unsur pidana pada pasal 165a huruf a.

Pasal 156a:
Dipidana dengan pidana penjara selama-lumanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan:
a. yang pada pokoknya bcrsifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;

VONIS HAKIM ini jauh lebih tinggi dari Tuntutan JPU./ (nahimunkar.com)

***

Kata-kata sangat kasar Ahmad Syafii Maarif demi bela Ahok penista Agama

Bagaimana pembelaan habis-habisan terhadap Ahok penista agama, di antaranya dilakoni oleh Ahmad Syafii Maarif. Sampai-sampai dia menulis artikel dengan kata-kata sangat kasar.

Syafii Maarif menilai yang menyatakan Ahok itu menista Islam, Hanya otak sakit sajalah yang berkesimpulan demikian. Kata kasar itu dia tulis dalam artikel berjudul AHOK TIDAK MENGHINA AL-QUR’AN Oleh Buya Syafii Maarif yang beredar di WAG dan medsos.

Sekarang tinggal kita tanya saja orang yang keterlaluan dalam membela penista agama ini.

Halo, bagaimana Mbah Ahmad Syafii Maarif? Apakah hakim yang memvonis Ahok 2 tahun penjara dan langsung ditahan hari itu juga, itu otaknya sakit?

Bagaimana pula Ahok sendiri dan seluruh pendukungnya yang urung untuk naik banding itu apakah semuanya juga otaknya sakit, karena tidak mau ngotot melawan vonis hakim yang telah (otomatis menurutmu) termasuk disifati otaknya sakit itu?

Meskipun sudah terbukti kata-kata kasar demi membela penista Al-Qur’an itu sangat menjatuhkan diri Ahmad Syafii Maarif sendiri, namun tampaknya dia tidak malu-malu, dan masih merasa omongan yang keluar dari mulutnya itu perlu didengar orang. Bahkan perlu didengar oleh orang nomor satu di negeri ini, hingga dia menyodorkan diri untuk ngomong.

Kemudian dia bangga pula, dengan mengatakan kepada para wartawan, setelah berhasil “jual” omongan kepada Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/7).

“Yang saya katakan, presiden agak kaget tadi, adalah rongsokan peradaban Arab yang kalah. ISIS puncaknya. Kaget dia. Saya yang ngomong, saya katakan, ini berbahaya sekali,” jelas tokoh kelahiran Sijunjung, Sumatera Barat ini, sebagaimana diberitakan jpnn.

“Orang-orang Indonesia yang muslim menganggap karena mereka mengerti bahasa Arab, itu disangka mewakili agama.Ndak bisa. Ini rongsokan. Masa dibiarkan begini? Ya merusak di Filipina, merusak di mana-mana. Rongsokan peradaban Arab yang sedang jatuh, dibeli di Indonesia,” ucap dia, sebagaimana dikutip liputan6.com 17 Jul 2017, 15:41 WIB.

Bagi yang sudah hafal omongan kasar orang ini, selain kekasarannya yang memang tidak mencerminkan akhlaq Muslim yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, isinya pun belum tentu dapat dipercaya sebagaimana dalam kasus membela Ahok penista agama tersebut, sampai dia lontarkan kata-kata kasar, hanya otak sakit yang berkesimpulan demikian (menganggap Ahok menista agama).

Perkataan kasar rongsokan peradaban Arab yang kalah”, juga lontaran kasar Rongsokan peradaban Arab yang sedang jatuh”, dengan menyebutkan ISIS itu adalah cara-cara stigmatisasi terhadap bangsa-bangsa Arab secara keseluruhan. Bukankah bangsa-bangsa Arab juga berhadapan dengannya?

Selanjutnya, dikaitkan dengan orang yang bisa berbahasa Arab dan Ummat Islam Indonesia. Bukankah itu cara-cara memojokkan dan mengarahkan untuk mencurigai secara keseluruhan?

Kalau toh Pak Syafi’i Maarif merasa terpukul karena junjungannya yakni Ahok masuk penjara karena kelakuannya menista al-Qur’an, maka sebagai orang intelek tidak layak bicara sekasar itu, yang bisa dimaknakan untuk dijuruskan kepada Ummat Islam secara keseluruhan. Lebih sangat layak misalnya mengemukakan betapa bahayanya narkoba sabu-sabu yang didatangkan ke Indonesia ber ton-ton dari China, yang hari itu beritanya pun lagi ramai. Itu bahaya kongkrit, dengan data kongkrit. Itu kalau memang otaknya tidak sakit terhadap Ummat Islam yang tentunya menjadi sasaran diracuni, dibunuhi pakai narkoba sabu-sabu dari China itu, dan perlu mendapatkan perlindungan, maka sangat layak bila Pak Syafii Maarif mengingatkan benar-benar kepada Presiden Jokowi yang memberi kesempatan padanya untuk ngomong itu. Tapi kenyataannya Pak Syafii tidak menjelaskan kepada para wartawan soal bicara tentang itu, barangkali memang tidak tertarik untuk ke arah itu sama sekali (walau sangat bahaya dan sedang ramai diberitakan di masyarakat), dan lebih pilih melontarkan kata-kata kasar tersebut, yang sasarannya adalah Ummat Islam dan Arab.

Kata-kata kasar itu sendiri bukan akhlaq Muslim yang diajarkan oleh Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau bersabda:

” إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْفُحْشَ أَوْ يُبْغِضُ الْفَاحِشَ وَالْمُتَفَحِّشَ “

 “Sesungguhnya Allah tidak menyukai perbuatan keji.” Atau, ” (Sesungguhnya Allah) membenci seorang yang berperangai buruk dan orang yang mengatai dengan kata-kata kotor.” (HR Ahmad, shahih lighairihi.. ).

«لَيْسَ المُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الفَاحِشِ وَلَا البَذِيءِ»

“Bukan orang mukmin yang sempurna, yang suka mencemarkan kehormatan, mengutuk, buruk akhlak dan yang berbicara kotor.” (HR. Tirmidzi dan beliau berkata, “hadits hasan gharib”, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani).

“إِنَّ أَثْقَلَ مَا وُضِعَ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ خُلُقٌ حَسَنٌ، وَإِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ” (رقم طبعة با وزير: 5664) , (حب) 5693 [قال الألباني]: صحيح – “الصحيحة” (876).

“Sesungguhnya sesuatu yangpaling berat yang diletakkan di ditimbangan seorang mukmin di hari kiamat adalah akhlaq mulia, dan sesungguhnya Allah membenci orang yang jelek akhlaqnya yang jelek perkataannya.”(diriwayatkan Ibnu Hibban , dishohihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah)

«الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ» متفق عليه

“Orang muslim yang sejati adalah orang, yang  mana orang-orang Islam lainnya selamat dari ucapan dan perbuatannya.” (riwayat Bukhari dan Muslim).

Perkataan-perkataan kasar orang tersebut jelas bertentangan dengan hadits-hadits yang mulia itu.

Adapun sasaran dan tujuan perkataan kasar dalam berbagai kesempatan itu, seandainya untuk tujuan-tujuan mulia pun masih tercela pula. Apalagi, demi membela penista Al-Qur’an dan semacamnya, bahkan sengaja dapat dimaknakan menjurus untuk menjadikan Ummat Islam dan Arab menjadi target…. dengan cara “meng-ISIS-kannya”.

Oleh karena itu, pertanyaannya kini: Masih adakah yang mau ”beli” kata-kata kasar Prof Dr Ahmad Syafii Maarif yang telah terbukti bermuatan sangat dusta sebagaimana telah dia lakukan dalam membela Ahok penista agama itu?

Satu lagi yang menggelitik. Kenapa ya, antara Ahok penista Al-Qur’an dan pembelanya yang terkemuka Prof Dr Ahmad Syafii Maarif kok sama-sama bermulut kotor/ kasar? Apakah ini untuk menunjukka bahwa Al-Qur’an itu adalah KalamulLah, perkataan yang paling baik, maka penistanya dan pembelanya diujudkan dalam bentuk manusia-manusia yang ucapannya paling buruk? Atau yang satu sebagai sosok dari pejabat (tadinya) dan yang satunya dari sosok yang disebut cendekiawan, yang ketika tidak menghargai Al-Qur’an, maka jadinya ya seperti itu?

Wallaahu a’lam bisshawaab.

Jakarta, Selasa 24 Syawwal 1438/ 18 Juli 2017

Hartono Ahmad Jaiz, penulis buku-buku Islami, beredar di Indonesia dan Timur Tengah

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.431 kali, 1 untuk hari ini)