Dulu waktu pendiri Islam Jamaah, Nurhasan Ubaidah, masih hidup ; ada slogan : kebo-kebo maju, barongan-barongan mundur. Artinya, kalau menghadapi orang bodoh yang diibaratkan kebo (kerbau) maka para jamaah Nurhasan harus tetap maju menghadapi dan mempengaruhinya. Sedangkan kepada para ulama, yang diibarakan barongan yakni rumpun bambu berduri yang sulit ditembus, maka hendaknya mereka mundur, tidak perlu menghadapinya.

Slogan itu sering dipidatokan oleh almarhum Bambang Irawan mantan gembong Islam Jamaah yang keluar dari aliran sesat itu.

Rupanya LDII yang berupaya keras untuk mempengaruhi para ulama dan tokoh Islam kini memakai cara lain. Tidak lagi menganggap para ulama dan tokoh Islam itu harus dihadapi dengan mundur, tapi bagai meniru cara cina, yakni pakai peluru emas, untuk menembus benteng sekokoh apapun. Peluru emas itulah yang digunakan, hingga memunculkan kata-kata sandi tersendiri di kalangan LDII : yaitu lafal uang merah, dihargai, dan disegani. Menurut mantan LDII, peluru emasnya itu adalah uang merah, digunakan untuk menghargai dan menyegani para Ulama dan tokoh, agar tidak mengungkit-ungkit kesesatan LDII.

Kenapa ?

Karena sejatinya ada bukti otentik, LDII masih mengajarkan ajaran sekte sesat Islam Jamaah yang telah dilarang Jaksa Agung tahun 1971..

Sekalipun pejabat atau pun orang yang duduk di lembaga keulamaan hadir di acara aliran sesat LDII, tetap tidak akan bisa menghapus bukti otentik bahwa LDII masih mengajarkan ajaran sekte sesat Islam Jamaah ciptaan Nurhasan Ubaidah. Maka para ulama pun perlu hati-hati jangan sampai menerima “hadiah” apapun dari LDII.

Bila menerima « hadiah » dari aliran sesat LDII, menurut para mantan LDII, berarti sudah terhitung sebagai orang yang dihargai (dibayar harganya) dan disegani (diberi sega/ nasi) oleh LDII.

Uang merah untuk menghargai dan menyegani

Meski masyarakat sudah bisa menilai bahwa LDII sama saja dengan sekte sesat Islam Jama’ah dan nama-nama lainnya, namun mereka tidak gentar. Dengan tipu dayanya, LDII berhasil mengelabui sejumlah tokoh Islam, di antaranya yang selama ini bergiat di partai bahkan kementerian agama, tokoh di ormas berlabel kebangkitan ulama, juga tokoh sebuah majelis yang di dalamnya banyak ulama.

Bagaimana mengelabui tokoh-tokoh yang katanya Islam tadi? Bagi LDII gampang saja. Mereka memanfaatkan kekuatan uang. Dengan uang mereka bisa membeli apa saja, termasuk pendirian tokoh yang katanya Islam tadi.

Uang yang dikumpulkan LDII, bahkan hingga mencapai triliunan rupiah, berasal dari menipu umat Islam yang jahil dan awam, sehingga dapat dijadikan jama’ah mereka dengan doktrin sesat yang menakut-nakuti khas LDII. Yaitu, kalau mau masuk surga, harus menjadi jama’ah LDII. Di luar jama’ah LDII meski ilmunya tinggi, ibadahnya rajin dan sesuai dengan al-Qur’an maupun Hadits, tetap tidak bisa masuk surga.

Nah, dalam rangka bisa masuk surga, para orang awam yang jahil dan sudah terpedaya tipudaya LDII, mau diperas habis-habisan oleh LDII. Sementara para jamaahnya pontang-panting cari uang untuk setoran, hingga mereka yang melarat pun harus setor, padahal dalam Islam, kaum melarat itu justru orang yang harus disantuni, sampai mengenai zakat pun kaum muskin tidak terkena kewajiban tetapi jadi mustahiq, berhak menerima zakat. Tetapi di aliran sesat ini tidak begitu, tetap saja ditarik agar setor yang istilah mereka persenan. Sebaliknya,    elite LDII justru bermewah-mewah, pesta-pora di atas penderitaan jama’ah.[I] [I] [ AKIDAH CAMPUR SARI ] 2 JENIS IJTIHAD + SETORAN UANG PERSENAN + FOYA-FOYA DENGAN UANG PERSENAN ! Nah, uang yang berlimpah tadi, didepositokan di sejumlah bank, kemudian bunganya dinamakan uang merah. Yaitu uang riba. LDII sepertinya masih mengharamkan riba. Namun, uang riba tadi yang oleh mereka disebut uang merah, dimanfaatkan untuk ‘MENGHARGAI’ para tokoh yang katanya Islam tadi.

Menghargai adalah kata sandi LDII untuk menetapkan BERAPA HARGA seseorang tokoh yang katanya Islam tadi untuk diberi uang merah (uang riba), agar mereka mau berpendapat dan berkiprah membela keberadaan LDII, sekaligus menjadi corong LDII kepada masyarakat luas yang mengkampanyekan bahwa LDII sudah tidak sesat padahal sejatinya masih setia dengan kesesatannya.

LDII juga punya kata sandi lain yang maknanya tak jauh beda, yaitu disegani. Disegani berasal dari kata dasar dalam bahasa Jawa yaitu SEGA yang berarti nasi. Jadi, yang mereka maksud dengan DISEGANI adalah diberi SEGA alias diberi nasi, alias dikasih duit, yaitu uang merah tadi.

Seorang mantan petinggi LDII berinisial Ch H kelahiran Rembang 10 November 1978, pada Juli 2010 lalu pernah bersaksi dengan mengucapkan sumpah, bahwa tokoh majelis yang banyak ulamanya, pada tahun 2006 lalu berhasil dihargai dan disegani dengan uang merah, sehingga ia kemana-mana membela-bela LDII.

Kesaksian Ch H dengan sumpah itu mengenai pernyataan salah seorang tokoh LDII berinisial KSMD[ii] yang sedang memimpin jama’ah umroh dari sebuah yayasan, Ramadhan 2006. Seperti biasa, Kyai KSMD menyempatkan untuk mampir ke Madinah untuk memberikan nasehat kepada jama’ah LDII yang bekerja di Madinah. Pada saat itulah sang kyai KSMD tokoh LDII ini berkata: “Alhamdulillah hubungan LDII dan MUI sudah baik.., tapi ya dikasih duit..![ii] Lihat Video Testimoni Warga LDII : Kasmudi Terlibat Penipuan Trilyunan Rupiahhttps://www.nahimunkar.org/video-testimoni-warga-ldii-kasmudi-terlibat-penipuan-trilyunan-rupiah/

Pernyataan di depan jama’ah LDII yang bekerja di Madinah tadi, disampaikan dengan nada menghina, dan disambut dengan tawa berderai dari jama’ah LDII yang sedang mendengarkan nasihat pengajian kyai KSMD tokoh LDII tersebut.

Begitulah tipu daya LDII dalam menjaga eksistensinya. Dan yang tertipu bukan hanya orang awam yang jahil, tetapi termasuk diantaranya kyai dari ormas besar pengusung bid’ah yang mewakili lembaganya untuk menjadi petinggi di majelis para ulama..

Oleh karena itu, pihak FRIH memperingatkan seperti dalam berita berikut ini.

***

FRIH Menghimbau Ulama Agar Pantang Disuap LDII

By Pizaro on July 17, 2013

 sua ldii

MENANGGAPI ketidakhadiran Menteri Agama dalam acara Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Sekjen Forum Ruju’ Ilal Haq (FRIH) Adam Amrullah menegaskan sekalipun Suryadharma Ali dan MUI Pusat hadir, hal itu tidak akan bisa menghapus bukti otentik LDII masih mengajarkan ajaran sekte sesat Islam Jamaah ciptaan Nurhasan.

“LDII masih ajaran Islam Jama’ah hingga detik ini,” katanya kepada Islampos.com, Selasa malam (16/7/2013) di Jakarta.

Lebih lanjut dia mengatakan kepada para ulama agar hati-hati memakan harta yang berasal dari uang haram berbentuk hadiah (suap) apapun.

“Pasalnya, aliran sesat berani menyuap ulama dengan uang haram,” ujarnya.

“Daging yang tumbuh dari harta haram akan dibakar di neraka, dan Allah tidak mengabulkan doa orang yang makanan, minuman, pakaiannya haram,” sambungnya.

Sedangkan kepada partai politik mantan pengurus LDII ini menghimbau agar mereka takut kepada azab Allah akibat manuver-manuver politiknya yang sudah membuat umat bingung.

“Ingatlah bahwa menjaga akidah adalah perintah Allah dan RasulNya sedangkan urusan kepentingan suara dalam partai adalah kepentingan sesaat yang kadang menghalalkan segala cara yang bahkan Rasulullah bersabda: laisa minnaa man da’a ilaa ashshobiyyah,” pungkasnya.

Bagi LDII, Adam menyerukan agar mereka mempelajari akidah yang benar daripada terus menerus dalam kubangan dusta dan akidah sesat.

Seperti diketahui LDII menggelar acara peresmian Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Iman di Budi Agung, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin sore (15/7). LDII mengundang sejumlah tokoh, diantaranya Suryadharma Ali (Menteri Agama) dan Rahmat Yasin (Bupati Bogor). Namun Suryadharma Ali batal hadir. [Pz/Islampos]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 16.307 kali, 1 untuk hari ini)