Foto : para demonstran anti buku “Sunnah-Sunnah Setelah kematian” karya ustadz Ahlus sunnah wal jama’ah asli yakni Ustadz Zainal Abidin, di  kompleks kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul Jogja, Selasa (15/3/2016).


Ya Allah berilah hidayah untuk para pendemo ini supaya kembali ke jalan yang lurus.

KOMENTAR USTADZ ABU SAAD TENTANG PARA DEMONTRAN INI

Saya ketemu mereka di kantor bersama Kabupaten Bantul (Jogja), ketika melihat saya pake celana cingkrang…mereka langsung teriak: “Panjangkan celananya !”

Saya diam saja sambil memandang mereka dan bergumam : Mereka demo di depan kantor bersama, pas di depan mereka ada masjid milik kantor bersama, mulai adzan dzuhur, terus iqomah, dilanjutkan dengan sholat berjamaah…

DEMI ALLAH !TIDAK ADA SATUPUN DARI MEREKA YANG IKUT SHOLAT BERJAMAAH DI MASJID SAMPAI SHOLAT SELESAI !

Katanya mereka ini (para pendemo) adalah Islam toleran yang anti radikal, sama non muslim saja gereja dijaga tapi giliran buku bagus yang mengajak kembali ke Al Qur’an dan Sunnah seperti ini di demo, kan dalam Islam nggak boleh tuh demo demo yack. Islam sudah sempurna kalau memang budaya itu bertentangan dengan syariat ngapain juga dipertahankan yack.

Muhammad Asep – 16 Maret pukul 18:05

***

Kok Main Ancam.. Katanya Aswaja Itu Toleran… Tinggal Teliti Dalil Yang Disampaikan, Betul Atau Tidak..

Tradisi Tahlilan menurut Kyai NU, Idrus Ramli itu berasal dari tradisi agama hindu, silahkan dengarkan sendiri penjelasan kyai NU tersebut, sudah saya posting disini

Kumpul-kumpul di tempat kematian itu adalah MERATAP, kata Imam Syafii, kalau ditambah melakukan amalan tertentu, INI LEBIH PARAH lagi akibatnya, kumpul-kumpul saja kata imam syafii merupakan bagian dari meratap, sudah saya posting disini

Sumber – aslibumiayu.net – March 10, 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 7.038 kali, 1 untuk hari ini)