Selasa, 01-01-2013

syriamasakroti_84367328437LATAKIA, muslimdaily.net – Salah satu wilayah yang paling memprihatinkan di Suriah adalah pesisir Propinsi Latakia. Penduduk Ahlussunnah (Sunni) di sana menjadi minoritas dengan komposisi 30 persen berbanding 70 persen penduduk Nushairi (Syiah). Mereka kini diserang dengan gencar karena Basyar Asad tak sudi daerah asal keluarganya dikuasai oleh Ahlussunnah.

Meski minoritas, Muslim Sunni di Latakia tetap teguh berjuang melawan kezhaliman rezim Asad. Resikonya, mereka dihujani bom setiap hari. Rata-rata  20 bom seberat 200 kg dijatuhkan pesawat-pesawat rezim Asad setiap harinya. Kondisi yang sangat memprihatinkan karena mujahidin di sana tak memiliki senjata anti pesawat yang memadai.

Berbeda dengan mujahidin di kota-kota lain seperti Aleppo dan Homs yang sudah memiliki roket anti pesawat, mujahidin Latakia belum. Maka hingga hari ini, mereka menjadi bulan-bulanan helikopter rezim Basyar Asad dengan serangan bom-bom birmil.

Sebuah faktor lain menambah kesedihan Muslim Latakia.  Kompromi politik yang dipaksakan oleh Barat kepada kelompok politik oposisi, dengan imbalan pengakuan internasional, mengarah pada pembagian wilayah Suriah menjadi federasi Sunni-Nushairi. Dengan rencana seperti ini, Latakia kemungkinan akan diserahkan pada kelompok Nushairi.

Hal ini sangat ditentang oleh mujahidin. Abu Habib, salah satu pemimpin mujahidin Latakia, menyatakan kepada relawan Indonesia, “Kami tak sudi menyerahkan wilayah yang kami pertahankan dengan susah payah kepada musuh kami. Biarlah para politisi membagi-bagi kue kekuasaan dan wilayah. Kami tetap akan berjihad membela kampung kami.”

“Kami sangat prihatin dengan jatuhnya korban akibat pemboman rezim yang membabi-buta. Tapi hingga kini kami belum memiliki senjata anti pesawat yang layak,” tambahnya. “Semoga saudara-saudara Muslim kami di luar negeri, termasuk di Indonesia bisa membantu kami dalam urusan ini.”

Lidah saya kelu, tak tega saya memberitahu Abu Habib bahwa Muslim di Indonesia terlalu sibuk dengan berbagai urusan lain. Sehingga tak sempat membantu saudara-saudaranya di Suriah yang setiap harinya rata-rata terbunuh 300 orang.

Inilah salah satu sisi memprihatinkan dalam revolusi Suriah. Perhatian dunia Islam minim, sementara dunia internasional yang dikuasai Barat memaksakan kompromi politik yang tak adil. Hasbunallahwani’malwakil.

(Catatan Warga Indonesia Di Suriah)

***

Laporan PBB mengatakan 60.000 orang telah tewas dalam perang di Suriah

Hanin Mazaya

Kamis, 3 Januari 2013

Korban-Perang-Suriah_823564523762DAMASKUS (Arrahmah.com) – Sedikitnya 60.000 orang telah tewas dalam perang di Suriah, ujar laporkan komisaris hak asasi manusia PBB mengutip sebuah studi yang mengatakan jumlah korban tewas telah meningkat tajam.

Sebelum survei PBB terbaru, diperkirakan bahwa hingga 45.000 orang telah tewas selama konflik.

Estimasi yang direvisi ini datang bersamaan dengan laporan mengenai puluhan orang tewas pada hari Rabu (2/1/2013) setelah pesawat tempur rezim membombardir warga yang mengantri di sebuah pom bensin di pinggiran kota Damaskus.

Menurut PBB, memperkirakan jumlah korban dalam perang yang masih berlangsung adalah hal yang sangat sulit, namun PBB mengklaim mereka telah memiliki nama, tempat tinggal dan tanggal kematian dari masing-masing korban.

Jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar karena laporan berisi informasi yang tidak lengkap belum dikeluarkan dan sejumlah besar pembunuhan mungkin belum didokumentasikan sama sekali.

“Ada banyak nama yang belum masuk ke dalam daftar seperti kasus orang yang diam-diam ditembak di dalam hutan,” ujar Rupert Colville, juru bicara Komisaris Hak Asasi Manusia PBB, Navi Pillay seperti dilansir Guardian. (haninmazaya/arrahmah.com)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 945 kali, 1 untuk hari ini)