ilustrasi

Banjarmasin– Ketua Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB-PII) Kalimantan Selatan H Syamsuddin Hasan mengajak mantan anggota PII agar meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya laten Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Karena yang namanya bahaya laten itu tidak dapat kita lihat, tetapi sebuah gerakan yang bisa mengancam kelangsungan generasi Muslim,” ujarnya menjelang berbuka puasa bersama KB-PII Kalimantan Selatan (Kalsel) di Cafe Nostalgia, Banjarmasin, Selasa sore.

Koordinator alumni Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Barabai (165 kilometer utara Banjarmasin), ibukota Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalsel angkatan 1967 itu mengingatkan sejarah kelam bangsa Indonesia karena ulah PKI pada tahun 1948.

Kemudian tahun 1965 yang terkenal dengan Gerakan 30 September PKI (G.30 S/PKI) yang mau mengubah dasar negara Indonesia dari Pancasila menjadi paham komunis (Komunisme) yang Atheis atau anti Tuhan.

Menurut laki-laki berusia 71 tahun kelahiran Kampung Aluan Sumar – pinggiran Pegunungan Meratus HST itu, generasi Muslim sekarang dan mendatang perlu mengetahui sejarah kelam Indonesia karena ulah PKI tersebut.

“Dengan mengetahui sejarah kelam Indonesia karena ulan PKI, kita berharap kejadian serupa tidak akan terulang,” lanjut alumnus Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dan mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu.

“Karena kader-kader PKI itu cukup militan, dan memiliki doktrin pada suatu saat perjuangan mereka akan menampakan hasil,” tuturnya mengutip tekad/militansi Sekretaris PKI HST Yusuf Barmawi yang sudah tiada.

“Ketika itu menjelang akhir hayat di Kodim Barabai, Yusuf Barmawi menyatakan, PKI pasti hidup kembali di Indonesia, tidak tahun depan, tahun depannya lagi,” kutip mantan anggota Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) itu.

Gejala kembalinya PKI itu, menurut mantan aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) tersebut, mungkin sudah ada, hanya saja belum dapat terdeteksi, karena kalau salah langkah bisa bagaikan peribahasan “senjata makan tuan”.

Oleh sebab itu, untuk sementara banyak orang menahan diri, kendati mungkin terasakan ada, terkatakan tiada, karena takut dengan tuduhan-tuduhan konyol,” demikian Syamsuddin Hasan.

Sementara penceramah Dr H Sukarni dari Universutas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin mengurai arti penting ekonomi umat guna kelangsungan generasi Muslim.

Acara berbuka puasa KB-PII Kalsel tersebut merupakan kedua pada Ramadhan 1439 Hijriah sebagai tuan rumah keluarga HM Hatta Mazanie SH dan istri Dr Hj Ratna.

Sebelumnya buka puasa pertama kali KB-PII Kalsel pada tempat yang sama selaku tuan rumah ustad H Chairani Idris bersama H Syamsuri Jingga, selanjutnya di kediaman H Rudy Resnawan (Wagub Kalsel) di Banjarbaru, 1 Januari 2018. (suk/ant/iwk)

Sumber: tilik.id

(nahimunkar.org)

(Dibaca 594 kali, 1 untuk hari ini)