Oleh : Dr. Slamet Muliono (Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Direktur PUSKIP/Pusat Kajian Islam dan Pendidikan)

Abu Dzar Al-Ghiffari terkenal sebagai sahabat Nabi yang zuhud dan memilih hidup sederhana dan mengorientasikan hidupnya untuk akherat. Abu Dzar masuk Islam terinspirasi oleh dua orang pendahulunya. Yang lebih unik lagi, Abu Dzar mengumumkan keislamannya secara terbuka sehingga membuat dirinya dipukuli penduduk Mekkah secara beramai-ramai. Abu Dzar beruntung karena diselamatkan oleh seseorang yang memperingatkan bahwa masyarakat Al-Ghiffar, yang terkenal dengan masyarakat perampok, akan melakukan balas dendam. Keberanian Abu Dzar dalam mengumumkan keislamannya dan memilih hidup sederhana hingga akhir hayatnya tercatat dalam sejarah dan patut menjadi teladan bagi umat Islam.

Suwaid dan Iyas : Inspirasi Keislaman Abu Dzar

Suwaid ibnu Ash-Shamid adalah seorang penyair cerdas yang dihormati di kota Yatsrib, sehingga orang-orang menjulukinya sebagai orang yang sempurna (al-Kamil). Saat musim haji, dia datang ke Mekkah. Nabi mengetahui kedatangannya dan mengajaknya masuk ke dalam agama Islam. Suwaid merespon dakwah Nabi dengan mengatakan bahwa apa yang dibawa Nabi tidak lebih baik dari yang dimilikinya. Suwaid lebih memilih kebijaksanaan Lukman (Hikmatul Luqman). Mendengar pengakuan Suwaid itu, nabi mengatakan bahwa kepunyaan apa yang dibawanya (Islam) lebih baik. Nabi kemudian membaca Al-Qur’an, dan Shamid langsung menyatakan keislamannya. Setelah menyatakan Islam, Suwaid pulang dan dia meninggal dalam perang Buats (perang Aus dan Khazraj).

Iyas bin Mu’ad seorang anak kecil Yatsrib dari suku Aus. Dia menjadi delegasi Aus yang berangkat ke Quraisy untuk meminta bantuan perlindungan dari ancaman Khazraj. Nabi mendatangi delegasi Aus dan menawarkan sesuatu yang lebih baik daripada yang diminta. Maka nabi mengajaknya masuk Islam. Rupanya Iyas mengatakan bahwa apa yang ditawarkan Nabi Muhammad ini yang lebih baik daripada tujuannya semula. Mereka pulang tanpa hasil karena Quraisy menolak permintaan mereka. Iyas kembali ke kampungnya tanpa terdengar lagi bagaimana kehidupannya setelah bertemu Nabi.

Dalam perjalanan sejarah, orang-orang Yahudi sering menyebut-nyebut akan membunuh orang Madinah bila nabi sudah muncul. Hal ini didengar oleh Abu Dzar dan hal itu membuatnya penasaran, sehingga dia mencari tahu tentang agama baru dan utusannya. Sebelumnya, Abu Dzar, yang berasal dari Bani Ghiffar, mendengar keislaman Suwaid bin Ash-Shamid dan Iyas Mu’ad, maka dia mengutus saudaranya untuk datang ke Mekkah untuk mencari kebenaran berita itu.

Maka saudaranya datang ke Mekkah untuk mencari informasi tentang Muhammad. Dia bertemu dan berkata dengan Nabi kemudian dia kembali ke kampungnya. Sesampai di rumahnya, dia menyampaikan apa yang dilihatnya. Dia hanya mengatakan telah melihat orang yang menyeru kebaikan dan mencegah kemunkaran. Dia menegaskan tentang Nabi sebagai orang yang baik, santun, dan lembut.

Cerita saudaranya itu, tidak membuat Abu Dzar puas, sehingga berniat ingin mendatanginya secara  langsung. Ketika sampai di Mekkah, Abu Dzar menanyakan kepada banyak orang yang ditemui untuk menunjukkan sosok Muhammad. Tidak ada seorangpun yang menjawabnya hingga bertemu dengan Ali Bin Abi Thalib. Ali mengajaknya untuk menginap di rumahnya tanpa menanyai maksud kedatangannya. Keesokan harinya Abu Dzar keluar rumah dan melakukan hal yang sama untuk menanyakan kepada orang-orang tentang keberadaan Nabi Muhammad. Abu Dzar pulang dengan tangan hampa hingga pulang kembali ke rumah Ali bin Abi Thalib. Besoknya, Ali bin Abi Thalib menanyakan maksud kedatangan Abu Dzar. Kemudian Ali mengajaknya bertemu Nabi tanpa memperkenalkan dirinya sebagai sepupu Nabi.

Setelah bertemu Nabi, maka Abu Dzar menyatakan keislamannya. Nabi berpesan agar Abu Dzar menyembunyikan keislamannya. Saat keluar dari rumah Nabi, Abu Dzar justru mengumumkan keislamannya secara terbuka, sehingga orang-orang Quraisy memukulinya sehingga dicegah Abbas, dan meminta menghentikannya. Abbas mengingatkan bahwa orang-orang Ghiffar akan membalasnya jika Abu Dzar tidak dibebaskan.

Keislamanan dan Kesederhanaan Abu Dzar

Abu Dzar merupakan sosok sahabat nabi yang patut dijadikan teladan dalam memilih hidup sederhana. Kesederhanaan beliau hingga tidak membutuhkan dunia dan menjauhinya. Suatu ketika, Salman Al-Farisi, sebagai sahabat dekat, pernah mendatangi rumah Abu Dzar. Ketika sampai di rumah Abu Dzar, Salman bertemu dengan istri Abu Dzar dalam keadaan lusuh tak meawat. Ketika ditanya Salman mengapa sebagai istri tidak merawat diri untuk menyenangkan suami. Istri Abu Dzar menjawab bahwa Abu Dzar sudah tidak membutuhkan dirinya sebagai istri dan menjauhi dunia. Abu Dzar hanya beribadah saja dalam hidupnya.

setelah Abu Dzar datang, Salman mengutarakan niatnya untuk menginap di rumah Abu Dzar. Hal ini untuk menasehati teman untuk bertindak secara proporsional. Ketika istri Abu Dzar mempersiapkan hidangan makan, maka Salman mengajak Abu Dzar untk makan bersama. Tetapi Abu Dzar menolak karena sedang berpuasa. Maka Salman memaksanya guna memberi hak kepada tubuhnya untuk istirahat. Seteah itu tidur lagi, tetapi Abu Dzar kembali bangun ingin shalat malam. Tetapi oleh Salman ditahan lagi, hingga waktu yang layak untuk shalat malam.

Akhirnya di pagi hari Salman pamit pulang dan menasehi Abu Dzar untuk memperhatikan hak istri untuk diperhatikan dan digauli. Demikian fisik memiliki hak untuk istirahat dan makan. Setelah itu, Salman keluar dari rumah dan pergi.

Demikianlah sosok Abu Dzar yang demikian cinta kepada Allaah dan Rasul-Nya hingga mengorbankan dirinya dan mengorientasikan dirinya terhadap akherat, sehingga sepanjang hidupnya difokuskan untuk hidup sederhana dan beribadaah kepada Allah. Jihad di jalan Allah dengan mengikuti peperangan, mengorbankan dirinya untuk kemaslahan kaum muslimin. Bahkan di hari tuanya terus fokus beribadah shalat, puasa, baik siaang maupun malam, hingga hak-hak istri kurang diperhatikan. Hal ini semata-mata untuk menyiapkan diri menuju akherat. Abu Dzar sangat tepat menjadi teladan bagi kaum muslimin untuk tidak terlalu larut dalam duni hingga melupakan akherat.

Surabaya, 30 Agustus 2018

(nahimunkar.org)

(Dibaca 376 kali, 1 untuk hari ini)