ilustrasi : Orang gila nyoblos pemilu pilih presiden?/YouTube


Ada tulisan di blog saya yang dibaca lebih dari setengah juta kali. Berarti jumlah yang membaca artikel itu lebih banyak dibanding jumlah orang gila se-Indonesia, 400.000-an orang.

Waduh gawat ini, kenapa jumlah pembaca satu tulisan tiba-tiba dibandingkan dengan jumlah orang gila se-Indonesia?

Ya suka-suka kami… mau kami bandingkan dengan orang gila kek atau orang setengah waras kek…

(Waduh maaf, ini kok saya jadi bengal begini ya… maaf …. apakah ini gara-gara suara orang gila nilainya sama dengan suara kyai, ulama, ajengan, professor, doctor dan lain-lainnya dalam pilpres – pemilihan presiden di Indonesia ini, atau kenapa tiba-tiba saya menulis dengan membandingkan jumlah pembaca satu artikel/ berita dengan jumlah orang gila).

Perlu diketahui, data Kementerian Kesehatan tahun 2017 menunjukkan, sekitar 14 juta orang di Indonesia yang berusia di atas 15 tahun mengalami gejala depresi dan gangguan kejiwaan. Sementara jumlah penyandang disablitas mental menurut data KPU sekitar 400.000 orang. Angka yang cukup besar memengaruhi jumlah suara pemilih. (lihat Demokrasi Memang Crazy, Chusnatul Jannah, suara-islam.com,  28 November 2018 )

Apabila ada yang protes keras karena saya telah membandingkan jumlah pembaca dengan jumlah orang gila, maka saya tidak mau ngotot. Anggap saja itu tidak ada. Saya tidak akan memperjuangkan orang gila dalam kasus yang saya tulis ini. Dan saya justru  mempertanyakan, kenapa ada pihak yang seakan tampaknya memperjuangkan orang gila untuk memberi hak mencoblos dalam coblosan pilpres dan sebagainya.

Saya jadi kikuk, kenapa mempertanyakan… jangan-jangan akan dijawab: ya suka-suka kami lah… (silakan lihat artikel LOGIKA ‘SUKA SUKA KAMI )

Dari pada bertanya-tanya, lebih baik saya jawab saja sendiri.

Perjuangan memperjuangkan orang gila dalam coblosan itu adalah satu bentuk kebablasan dari suatu perjuangan yang belum tentu disukai umat Islam.

Ha? Kenapa?

Sebentar, jangan kaget dulu. Saya jadi ingat, dulu pernah ada acara ulang tahun seorang tokoh, diisi pidato puja-puji kepada sang tokoh yang diulang tahuni itu. Satu pujian dilontarkan oleh yang berpidato saat itu (Muslim Abdurrahman, mendiang, seorang pentolan liberal) bahwa sang tokoh (yakni Gus Dur, mendiang) adalah pejuang yang membela hak kaum minoritas.

Dalam acara itu tidak ada yang protes. Tapi rupanya kemudian ada yang menyanggah, di antaranya ada tulisan begini:

Bohong Besar, Gus Dur Bela Minoritas!

Bohong Besar, Gus Dur Bela Minoritas!

Assalamu’alaikum warahmarullahi wabarakatuh

Suara-suara yang menyanjung Gus Dur itu kebanyakan tipuan belaka. misalnya, dia disebut-sebut sebagai pembela kaum minoritas. Itu dusta belaka. Dia hanya mau membela kalau itu merusak Islam. Misalnya Ahmadiyah yang nabinya palsu tetapi mengaku Islam, bahkan menganggap kafir bagi yang tidak ikut mereka. itulah yang dia bela. Tapi muslim Denpasar yang dilarang punya kuburan Muslim, dilarang bangun masjid lagi, tak dia bela.

Contoh Gus Dur membela kesesatan, berita ini:

Gus Dur Siap Jadi Pembela Ahmadiyah

Sabtu, 19 April 2008 – 11:33 wib

Yuni Herlina Sinambela – Okezone

JAKARTA – Mantan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menyatakan siap menjadi pembela kelompok Ahmadiyah jika nantinya ada proses pengadilan.

“Kalau dibawa ke pengadilan, saya akan jadi saksi ahli. Kalau diperlukan, saya akan jadi anggota tim pembela,” kata Gus Dur usai diskusi di Utan Kayu, Jalan Utan Kayu, Jakarta,

Sabtu (19/4/2008).

Mengenai pernyataan Bakor Pakem yang menyatakan Ahmadiyah sebagai aliran sesat dan terlarang, Gus Dur menyatakan telah terjadi pelanggaran Undang Undang Dasar. Karenanya,

menurut Gus Dur, aliran itu tidak perlu dibubarkan.

“Kalau berdasar UUD, harus dipertahankan kemerdekaan berpikir dan berbicara. Jadi karena itu ahmadiyah tidak usah dibubarkan. Bakor Pakem itu salah, melanggar UUD,” nilai mantan presiden ini.(jri)

http://news. okezone.com/ index.php/ ReadStory/ 2008/04/19/ 1/102013

Ya, memang dia siap jadi pembela kalau itu merusak Islam, seperti Ahmadiyah dengan nabi palsunya. Sebaliknya, dia tak mau tahu kalau itu yang menderita adalah orang Islam.

Buktinya, berkali-kali ada berita, orang Islam di Bali khususnya di Denpasar yang berjumlah 30 persen itu tidak dibolehkan punya pekuburan Muslim. Mereka sudah sering mengeluh, tetapi adakah pembelaan Gus Dur? Muslimin Denpasar tidak boleh mendirikan lagi musholla, apalagi masjid, padahal yang ada sudah tak memadahi. pernahkah Gus Dur kerangkang-rangkang untuk membela Muslimin yang didholimi itu seperti yang ia lakukan di antaranya membela Gereja di Karang Tengah Tangerang, dan membelanya pun dengan melabrak ke masjid, akhirnya diusir oleh masyarakat karena asal bela gereja begitu saja? Jadi secara singkatnya, dia adalah pembela siapa dan apa saja yang merusak dan membenci Islam. Sebaliknya, tidak mau tahu kalau itu Islam yang didholimi.

Itu kalau dalam ilmu aqidah, wala’ (kecintaannya) terbalik. Seharusnya cinta kepada Allah, Rasul, Islam, dan Muslimin; tapi justru sebaliknya. Jadi wala’ dan bara’nya terbalik.

Maka benarlah perkataan seorang Kiai NU di Madura, KH Kholil Muhammad, “Semoga tidak ada lagi kiai nyeleneh secara pemikiran setelah Gus Dur,”

Banyaknya orang yang menyanjung Gus Dur, barangkali saja filter hidung-hidung manusia sudah banyak yang tidak mampu menyaring secara obyektif. Sehingga mereka sudah berubah jadi berhidung lalat, justru merasa sedap ketika bertemu dengan barang busuk apalagi sangat busuk. Makanya bau busuk yang sangat menyengat itu justru sangat wangi bagi mereka, hingga menyanjungnya dan mengelu-elukannya.

Meskipun demikian, masih ada pula kiyai yang sudah benar-benar muak dengan Gus Dur di antaranya KH Ali Yafie, sampai dua kali mundur ketika Gus Dur memimpin.

Pertama, KH Ali Yafie mundur dari petinggi kiyai NU (struktural) ketika Gus Dur jadi ketua umum PBNU karena Gus Dur minta dana dari YDBKS yayasan yang mengelola judi nasional, SDSB yang dulunya bernama Porkas.

Kedua, KH Ali Yafie mundur dari ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) ketika ternyata Gus Dur naik jadi presiden.

Ada lagi KH Kholil Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren Gunung Jati Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur menilai, pluralisme agama yang diusung Gus Dur sangat berbahaya bagi umat Islam. “Semoga tidak ada lagi kiai nyeleneh

secara pemikiran setelah Gus Dur,” ujarnya.(TEMPO Interaktif, Rabu, 30 Desember 2009 | 23:24 WIB).

Apakah kita akan ikut-ikut jadi lalat yang lebih senang terhadap yang busuk-busuk?

Wassalam

Hajaiz Ahmad Posted on 4 Januari 2010 – by Nahimunkar.com

***

Kebablasan

Kembali ke masalah orang gila yang kini konon diberi hak pilih agar mencoblos dalam pilpres dan sebagainya, rupanya itu hanya cara kebablasan dalam melanjutkan apa yang disebut “perjuangan membela hak minoritas” .

Memang benar, jumlah orang gila di Indonesia merupakan minoritas, tapi apakah untuk memperjuangkan hak orang gila yang minoritas itu dengan dibebani untuk mencoblos seperti itu?

Para pembaca yang kami hormati, tidak usah tersinggung ketika saya sebut sebagai jumlah kalian lebih banyak dibanding jumlah orang gila.  Sebaliknya, silakan prihatin bila “para pejuang yang membela hak kaum minoritas orang gila untuk dibebani ikut coblosan dalam pilpres” itu jumlahnya lebih banyak dibanding jumlah orang gila.

Prihatinnya kenapa?

Karena diam-diam akan banyak yang bangga ketika presiden dan wapres terpilihnya ternyata hasil perjuangan mereka hingga peran orang gila dianggap sangat penting dalam kemenangan dan pemenangan itu. Di samping itu diam-diam banyak orang yang merasa lega karena presiden terpilih dukungan mreka dan dukungan orang-orang gila itu jadi enteng bebannya, karena kecil kemungkinan orang-orang gila akan menagih janji-janji walau palsu sekalipun.

 Sebaliknya bila junjungan mereka kalah, betapa kecewanya mereka. Masih pula kemungkinan akan saling salah-menyalahkan. Dan sangat kecil kemungkinannya untuk mengkambing hitamkan orang-orang gila. Kalau sampai terjadi, maka orang gila (atau wakilnya) pun bisa-bisa justru akan bilang: Gila bener lu… sini sudah gila masih juga dikambing hitamin… Kalau gitu gantian saja ya… situ yang gila, lalu situ yang memilih saya sebagai calon pemimpin situ… mau kan?

Nah, baru sadar bahwa itu jelas kebablasan.

Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)

(Dibaca 944 kali, 1 untuk hari ini)