Terkait perayaan Asyura, ini adalah kebathilan luar biasa dari kalangan Syiah

Jalaluddin Rakhmat dan kawan-kawannya dengan lantang berkata, “Semua hari adalah Asyura! Semua tempat adalah Karbala.”

Ya Ilahi betapa anehnya akal orang-orang itu.

Kaum Syiah adalah manusia paling lelah di muka bumi. Mereka membangun agama dengan kebencian, dendam kesumat, dan melaknati manusia-manusia mulia yang tidak mereka sukai.

Selain itu, mereka sangat gemar merayakan musibah, kegetiran, penindasan masa lalu sebagai sumber perayaan dan pesta sosial. Mereka jadikan Tragedi Karbala, ketika Husain bin Ali dan keluarganya Radhiyallahu ‘Anhum dibantai pasukan Ubaidillah bin Ziyad, sebagai inspirasi perayaan. Ia dikenal sebagai perayaan hari Asyura, setiap tanggal 10 Muharram.

Tidak ada satu pun bangsa atau kaum di dunia yang sengaja menyiksa diri, untuk merayakan penderitaan masa lalu, selain kaum Syiah. Seolah jalan menuju Syiah identik dengan kesedihan, kemurungan, hilangnya gairah, lenyapnya harapan. Semua dinamika kehidupan insan habis karena Tragedi Karbala. Tidak ada kegembiraan, karena Karbala; tidak ada senyum dan canda, karena Karbala; tidak ada pesona dan eksotisme, karena Karbala; tidak ada keindahan rasa atau kerenyahan estetik, karena Karbala; semua bahagia dan gembira lenyap, disapu bersih oleh kesedihan dan duka Karbala.

Betapa malangnya manusia-manusia itu, Islam sudah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya; kini mereka balik lagi bersembunyi di balik tirai kegelapan. Islam menegaskan prinsip besar dalam kalimat: “Laa khaufun ‘alaihim wa laa hum yahzanun”. Namun kaum Syiah menjalani hidupnya seolah memegang prinsip berikut: “Laa sa’adatun ‘alaihim wa laa hum yafrahun”. Isi kehidupan mereka hanyalah suram, sedih, berduka. Kasihan.

Terkait perayaan Asyura, ini adalah kebathilan luar biasa dari kalangan Syiah, sekaligus membuktikan betapa kusutnya agama mereka. Mari kita kaji sedikit tentang perayaan ini:

[1] Kalau ada seorang manusia yang bersedih atau menangis, apa yang akan Anda lakukan? Membuatnya tambah bersedih, atau mencoba menghiburnya? Ilmu psikologi modern mengajarkan cara-cara agar manusia bergembira, melupakan kesedihan, mengatasi stress, bangkit dari keterpurukan, dan sebagainya. Tapi orang-orang Syiah menjadikan mushibah masa lalu sebagai inspirasi untuk menyiksa jiwa-jiwa mereka sendiri.

[2] Kalau manusia ditanya, lebih suka mana mendengar orang tertawa atau orang menangis? Pasti kebanyakan lebih suka mendengar orang tertawa atau bahagia. Namun di kalangan Syiah, mereka justru aktif memproduksi air mata, giat menyebarkan ratapan, hobi mendakwahkan kedukaan. Perilaku aneh.

[3] Misalnya pada sebuah keluarga ada orang yang meninggal karena mengalami kecelakaan motor. Tentu saja keluarga itu bersedih, berduka-cita. Nah, untuk mengatasi kedukaan tersebut, mungkinkah mereka akan memajang motor ringsek bekas kecelakaan? Mungkinkah mereka akan memajang baju yang koyak berlumuran darah? Mungkinkah mereka akan memajang foto-foto mengenaskan korban? Tapi kaum Syiah bisa melakukan semua itu, yaitu terus memperingati penderitaan Husain bin Ali Radhiyallahu ‘Anhum.

[4] Katanya kaum Syiah paling mencintai Husain dan Ahlul Bait Radhiyallahu ‘Anhum, namun mengapa mereka terus-menerus mengenangi tragedi memilukan yang menimpanya? Apakah Husain dan para Ahlul Bait suka dengan peringatan tragedi semacam itu? Manusia berakal saja kalau diingatkan kekalahan, kegagalan, penderitaan, atau mushibah yang pernah menimpanya, sering merasa tidak suka. Apalagi ini selalu mengingatkan tragedi memilukan? Sejatinya, kaum Syiah itu benar-benar mencintai Husain Radhiyallahu ‘Anhum atau senang menghinanya?

[5] Andaikan kaum Syiah, melalui perayaan Asyura, ingin menuntut dosa-dosa atau kesalahan Ubaidillah bin Ziyad, atau Yazid bin Muawiyah; toh mereka semua sudah meninggal. Dosa dan kesalahan mereka sudah diperhitungkan oleh Allah. Bukankah Allah memiliki sifat Sari’ul Hisab, Maha Cepat Hisab-Nya? Seandainya dengan perayaan itu, mereka ingin menolong Husain Radhiyallahu ‘Anhum dan keluarganya, bersimpati kepadanya, merasa belas kasih atasnya; Allah Ta’ala telah mengasihi mereka, membebaskannya dari penderitaan, memuliakan kedudukannya. Husain Radhiyallahu ‘Anhu termasuk salah satu syahid terbesar di tengah umat Islam.

[6] Allah Ta’ala mengajarkan cara terbaik untuk menyikapi mushibah. Dalam Al-Qur`an disebutkan,

وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦ أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ ١٥٧

Dan gembirakanlah manusia penyabar, yaitu orang-orang yang apabila tertimpa mushibah mereka berkata, ‘Kami ini milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.’ Mereka itulah yang diberikan keberkatan yang sempurna dan rahmat atas mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-Baqarah: 155-157].

Ternyata, ucapan Istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) merupakan sebuah solusi besar. Melalui ucapan ini kita meyakini bahwa semua kepemilikan adalah milik Allah belaka. Jika suatu saat Allah meminta kembali apa yang Dia titipkan kepada hamba-Nya, kita pun ikhlas melepasnya. Di dalam ucapan itu terkandung keyakinan akan takdir Allah yang bisa menetapkan apa saja, sesuai kehendak-Nya. Dan di sana juga ada hikmah kesabaran. Tidak mengherankan jika kaum yang sabar ini berhak mendapat shalawat dan hidayah. Sedangkan kaum Syiah yang selalu meratapi musibah masa lalu, mendapat sesat. Nas’alullah al-‘afiyah.

[7] Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam pernah mengalami tahun kesedihan, dikenal sebagai ‘Aamul Huzni. Ketika itu paman beliau, Abu Thalib, dan istri beliau, Khadijah binti Khuwailid wafat. Rasulullah merasa sangat sedih kehilangan dua pembela yang tegar. Abu Thalib membela karena nasab, Khadijah Radhiyallahu ‘Anha membela karena akidah. Atas kesedihan itu, Allah Ta’ala menghibur Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam dengan memperjalankannya di malam hari bersama Jibril ‘Alaihisalam. Peristiwa itu dikenal sebagai Isra’ Mi’raj. Ia disebut di awal-awal surat Al-Israa’.  Demikianlah hukum Allah yang lurus, yaitu menghibur hamba-Nya yang bersedih. Sedangkan hukum Syiah Rafidhah berbicara lain; manusia yang bahagia, gembira, berseri-seri mukanya, tertawa, bercanda, harus segera menghentikan semua itu; karena mereka harus larut dalam kesedihan Karbala.

[8] Orang-orang Mukmin pernah mengalami kekalahan pahit dalam Perang Uhud. Kekalahan menyakitkan ini terjadi atas kecerobohan sebagian pasukan. Kemenangan yang sudah di depan mata sirna berganti kekalahan pedih. Setidaknya 70 anggota pasukan Islam wafat dalam peperangan itu. Atas kenyataan ini Allah menghibur Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Dalam Al-Qur`an disebutkan,

إِن يَمۡسَسۡكُمۡ قَرۡحٞ فَقَدۡ مَسَّ ٱلۡقَوۡمَ قَرۡحٞ مِّثۡلُهُۥۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيۡنَ ٱلنَّاسِ وَلِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَيَتَّخِذَ مِنكُمۡ شُهَدَآءَۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ ١٤٠ وَلِيُمَحِّصَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَيَمۡحَقَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ١٤١

“Jika kalian (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun juga mendapat luka serupa (pada Perang Badar). Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan agar Allah membedakan orang-orang yang sungguh-sungguh beriman (dari orang munafik), dan supaya Dia menjadikan sebagian kalian (gugur sebagai) syuhada’, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim; dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.” [Ali Imran: 140-141].

Demikianlah, Allah menghibur orang-orang beriman setelah mengalami mushibah; sedangkan imam-imam Syiah memproduksi air mata dan membuat wajah-wajah pengikut mereka yang lugu-lugu selalu muram dan merengut.

[9] Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu pernah masuk ke gua Tsur bersama Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Mereka bersembunyi di dalamnya sambil menanti datangnya malam, dalam perjalanan hijrah ke Madinah. Ternyata, kaum musyrikin Makkah bisa mencapai tempat itu. Mereka bahkan berdiri persis di atas gua. Dari celah-celah gua, Abu Bakar bisa melihat orang-orang musyrik tersebut. Abu Bakar begitu gemetar, khawatir persembunyiannya diketahui. Namun Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam menenangkan hati Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu dengan berkata:

لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ

Laa tahzan innallaha ma’ana” (janganlah engkau sedih, karena Allah bersama kita). [At-Taubah: 40].

Kalau orang Syiah berbeda lagi modelnya. Jika ada salah satu dari mereka sedang gembira, cepat-cepat diingatkan, “Jangan gembira, jangan pernah tertawa! Ingat penderitaan Sayyidina Husain di Karbala!” Akhirnya, Tragedia Karbala menjadi beban kutukan bagi mereka. Di mana saja mereka berada, kesedihan dan duka-cita Karbala selalu menyertai. Masya Allah sedemikian menyedihkan!

[10] Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam dalam hadits shahih berkata,

«لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ»

Janganlah kalian meremehkan satu pun perkara kebaikan, sekalipun hanya menghadapi saudaramu dengan wajah yang ceria.” (HR. Muslim, dari Abu Dzar Jundab bin Junadah Radhiyallahu ‘Anhu).

Sebaliknya, Jalaluddin Rakhmat dan kawan-kawannya dengan lantang berkata, “Semua hari adalah Asyura! Semua tempat adalah Karbala.” Ya Ilahi betapa anehnya akal orang-orang itu. Mereka mencari simpati dengan memproduksi air mata; amal-amal mereka penuh dengan nafas kesedihan dan duka lara. Mungkin, surga yang mereka inginkan nanti isinya hanya tangisan dan ratapan.

Demikianlah, perayaan Asyura adalah bentuk ekspresi manusia yang sangat buruk. Mereka merayakan mushibah, tragedi, sejarah gelap masa lalu. Mestinya hal-hal seperti itu disimpan, ditutup, dan cukup menjadi pelajaran hidup. Jangan terus dikenang momen-momen duka-cita itu, sebab normalnya manusia tidak suka mengingat yang sedih-sedih. Bahkan Husain bin Ali dan para keluarganya Radhiyallahu ‘Anhum pastilah tidak suka kalau momen penderitaan, kekalahan, kegagalan mereka selalu diingat-ingat.

Syaikh Faadhil Ar-Rumy dari Dinasti Turki Utsmani berkata, “Adapun menjadikan tanggal 10 Muharam sebagai hari berduka karena terbunuhnya Husain bin Ali Radhiyallahu ‘Anhu pada hari tersebut seperti yang dilakukan orang-orang Rafidhah. Maka itu adalah perbuatan orang-orang sesat perjalanannya waktu di dunia tetapi mereka mengira melakukan sesuatu yang amat baik. Allah dan Rasul Shallallah ‘Alaihi Wasallam tidak pernah memerintahkan untuk menjadikan hari musibah para nabi dan hari kematian mereka sebagai hari berduka. Apalagi hari kematian orang-orang yang di bawah mereka kedudukannya. Tukang cerita yang mengingatkan manusia tentang kisah pembunuhan di hari Asyura, sambil menyobek baju dan membuka tutup kepalanya. Menyuruh orang-orang untuk berdiri dan menyalakan rasa sedih dalam hati terhadap musibah tersebut. Maka diwajibkan atas penguasa untuk melarang mereka. Orang yang ikut-ikutan mendengarkannya tidak boleh diberi udzur untuk mendengarkan.”

Dari  Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam bersabda,

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ»

Bukan termasuk golongan kami siapa yang  memukul-mukul pipi, menyobek-nyobek pakaian, dan mendakwahkan seruan-seruan jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadits ini merupakan khabar Nubuwah luar biasa, bahwa suatu saat ada di antara manusia –yang mengaku Muslim- melakukan pesta-pesta ratapan kematian; dan mereka itu bukan bagian dari agama Sayyidul Mursalin Shallallah ‘Alaihi Wasallam . Di pesta-pesta Asyura banyak manusia memukul-mukul pipi, menyobek-nyobek baju, dan berteriak-teriak melampaui batas layaknya orang-orang jahiliyah. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.[]
ilustrasi mrrizalpage

Sumber: Buku Pro-Kontra Maulid Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam (halaman 199 – 206)/ kautsar.co.id

Diberi teks ayat dan hadits oleh nahimunkar.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 10.920 kali, 9 untuk hari ini)