ilustrasi


Judul ini terasa kasar dan tidak enak. Namun ini kenyataan pahit belaka.

Silakan simak hasil penelitian yang diterbitkan jadi buku dengan judul Genealogi Intelektual Ulama Betawi Terbitan Jakarta Islamic Center.

Inilah kisah nyata matinya madrasah-madrasah di Jakarta, menurut buku Genealogi Intelektual Ulama Betawi Terbitan Jakarta Islamic Center.

***

Madrasah

Madrasah di Indonesia dipandang sebagai perkembangan lebih lanjut atau pembaruan dari lembaga pendidikan pesantren atau surau.

Khusus di Betawi, madrasah yang pertama kali berdiri adalah Madrasah “Jam’iyatul Khair” yang didirikan oleh Ali dan Idrus yang berasal dari keluarga Shahab. Ulama Betawi yang pernah didik di madrasah ini di antaranya adalah Syekh Dr. Nahrawi Abdussalam Al-Indunisi.

Menyusul kemudian Madrasah “Unwanul Falah”, Kwitang yang didirikan oleh Habib Ali Al-Habsyi (Habib Ali Kwitang) pada tahun 1911. Murid-murid yang dididik di madrasah ini kemudian menjadi ulama Betawi terkemuka, seperti KH. Abdullah Syafi’i, KH. Thohir Rohili, KH. Zayadi Muhadjir, KH. Ismailo Pendurenan, KH. Muhammad Naim Cipete, KH. Fathullah Harun dan Mu’allim KH. M. Syafi’i Hadzami. Lalu berdiri pula Madrasah Al-Ihsaniyah, di Salemba Tegalan, yang salah satu muridnya adalah

  1. Fathullah Harun.

Madrasah di tanah Betawi berkembang pesat setelah kemerdekaan yang kebanyakan didirikan dan dipimpin oleh ulama Betawi terkemuka. Seperti Madrasah Asy-Syafi’iyyah yang didirikan oleh KH. Abdullah Syafi’i, Madrasah Ath-Thohiriyyah yang didirikan oleh KH. Thohir Rohili, Madrasah Al- Wathoniyyah yang didirikan oleh KH. Hasbiyallah dan kini memiliki lebih dari 60 cabang, Madrasah Al- Khalidiyah yang didirikan oleh KH. Khalid Damat, Madrasah Manhalun Nasyi’in yang didirikan oleh KH. Abdul Hanan Said, dan lain-lain. Dari madrasah ini lahirlah ulama Betawi, seperti KH. Saifuddin Amsir yang merupakan alumni dari Madrasah Asy-Syafi’iyyah.

Setelah ditetapkannya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 1989 dan sejumlah peraturan yang mengikutinya, dimana madrasah didefinisikan sebagai “sekolah umum berciri khas agama Islam”, maka masa keemasan madrasah sebagai tempat pendidikan agama untuk calon ustadz dan ulama di Betawi khususnya pun berakhir. Karena dengan definisi baru itu, madrasah mengalami perubahan yang cukup mendasar, baik dari segi kelembagaan, kurikulum, maupun guru. Dari segi kelembagaan, madrasah kini bukan lagi lembaga pendidikan agama, tetapi lembaga pendidikan umum dengan kedudukan sama dengan sekolah-sekolah lainnya ; dari segi kurikulum, madrasah mengajarkan materi yang sama dengan sekolah-sekolah umum yang lain ; dari segi guru, madrasah (diharapkan) memiliki guru dengan keahlian yang sama dengan sekolah- sekolah umum.

Dengan persamaan-persamaan tersebut, praktis yang membedakan hanyalah embel- embel “ciri khas Islam” yang melekat di belakang madrasah. Imbasnya, tidak sedikit madrasah swasta yang tutup di Jakarta. Hal ini disebabkan turunnya minat orang tua untuk memasukan anaknya ke madrasah dengan pertimbangan bahwa madrasah telah menjadi institusi pendidikan yang gamang: jika ingin menjadikan anaknya sebagai ulama, lebih baik ke pondok pesantren dan tidak usah ke madrasah atau jika ingin anaknya berhasil dalam bidang umum, lebih baik ke sekolah umum dan tidak usah ke madrasah.

Salah satu madrasah Betawi yang telah tutup dan menjadi sekolah umum adalah Madrasah Al- Khalidiyah, Pulo Gadung yang kini menjadi SMP Al- Khalidiyah.

(Dikutip dari Buku Genealogi Intelektual Ulama Betawi Terbitan Jakarta Islamic Center, halaman 40-43/ internet).

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.729 kali, 1 untuk hari ini)