Kebijakan Jokowi Bikin Khawatir, Susahkan Anak Cucu dan Rentan Ditunggangi Penumpang Gelap

  • Sejumlah Tokoh Dan Pakar Hukum Bakal Gugat Perppu Corona Ke MK

Inilah beritanya.

***

 

Kebijakan Jokowi Bikin Khawatir, Susahkan Anak Cucu dan Rentan Ditunggangi Penumpang Gelap


Ada kekhawatiran dalam kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo berkaitan dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) 1/2020.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira membeberkan, beberapa kebijakan yang berbahaya di antaranya global bond atau surat utang yang akan dikeluarkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.

“Saya simpulkan global bond merupakan beban antargenerasi, anak cucunya milenial, adik-adiknya nih generasi ke bawah, generasi-generasi setelahnya. Ini sampai 2070 akan menanggung beban kebijakan yang dilakukan sekarang,” ucap Bhima Yudhistira saat diskusi online, Minggu (12/4).

Kebijakan lain yang mengkhawatirkan adalah program kartu prakerja. Baginya, kebijakan ini memiliki konsep yang sudah tidak sesuai dengan kondisi sekarang, di mana rakyat lebih membutuhkan uang untuk biaya makan dibanding pelatihan online.

Dana bantuan sosial (Bansos) maupun dana desa juga berpotensi adanya penumpang gelap memanfaatkan momen pandemik Covid-19.

“Saya khawatirkan karena terburu-buru ini, bisa jadi banyak free rider atau penumpang gelap yang memanfaatkan bantuan ini. Di dalam Perppu Pasal 27 yang selalu kita gugat dan kritik terus, Pasal 27 ini seakan memberikan imunitas yang menurut saya kelewat batas gitu,” kata Bhima.

Misalnya rencana global bond yang akan memberikan waktu selama 50 tahun. Kebijakan tersebut akan makin mengerikan bila dalam rentang waktu yang sangat panjang tersebut pemerintah gagal bayar.

“Hari ini mereka yang bikin kebijakan, Menteri Keuangan bikin kebijakan. Itu 50 tahun lagi kan enggak bisa digugat, engga bisa dianggap sebagai kerugian negara, enggak bisa diapa-apain,’selama ini kami iktikad baik’ katanya,” beber Bhima.

Padahal kata Bhima, iktikad baik merupakan pasal karet lantaran pandangan setiap orang berbeda-beda.

“Artinya banyak sekali penumpang gelap, banyak sekali hal yang bisa merugikan ekonomi, bukan hanya karena Covid-19 ini tapi panjang sampai 2070. Ini kalau generasi tuanya model begini menurut saya mau melepas tangan dengan Pasal 27, saya enggak ngerti lagi ya,” tandasnya. (*)

 

demokrasi.co.id – April 12, 2020Ikuti

 

***

Sejumlah Tokoh Dan Pakar Hukum Bakal Gugat Perppu Corona Ke MK


Foto:Net

Masyarakat Hukum Tata Negara (Mahutama) berencana akan mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi (MK) terkait Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang (Perppu) Nomor 1/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemik Covid-19.


Begitu disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Syaiful Bahri Rektor dalam acara diskusi bertajuk “Menggugat Perppu Covid-19” melalui telekonferensi, Sabtu (11/4).  

“Agar juga tidak menjadi UU, begitu menjadi UU tentu semua permohonan ditarik dan kita mengajukan judicial review terhadap UU yang berasal dari Perppu itu,” kata Syaiful Bakhri. 


Ketua Tim Hukum Judicial Review Perppu 1/2020 ini menyatakan, pihaknya masih terus melakukan kajian internal terkait Perppu 1/2020 itu. Pasalnya, Perppu itu akan memiliki dampak ekonomi dan sosial tersendiri di tengah pandemik Covid-19 seperti saat ini. 

“Kita mesti mengujinya, dalam proses pengujian itulah maka akan dilihat sebagai teori yang bisa dimanfaatkan dan memberikan karpet merah kepada hakim MK yang negarawan untuk juga bisa bersepakat atau tidak bersepakat,” ujar Syaiful Bakhri. 

Syaiful Bakhri mengurai, selain syarat kegentingan memaksa untuk menerbitkan Perppu 1/2020 itu tidak terpenuhi, Perppu itu juga banyak bertentangan dengan sejumlah UU. 

Seperti UU 17/2003 tentang Keuangan Negara karena terjadi perbedaan pengertian dan ruang lingkup keuangan negara. Perbedaan itu terlihat dalam Pasal 2 UU Keuangan Negara dan Pasal 27 Perppu 1/2020. 

Kemudian UU 15/2006 tentang BPK dan UU 15/2004 tentang Pemeriksaan Keuangan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. 

Selain itu, Pasal 28 Perppu 1/2020 juga disharmoni dengan seluruh UU yang diatur di dalamnya. Antara lain, UU tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan; UU Bank Indonesia; UU Perbendaharaan Negara; UU Lembaga Penjamin Simpanan; UU Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat; UU Kesehatan; UU Desa; UU Pemerintahan Daerah; UU MPR, DPR, DPRD, dan DPD; serta UU Pencegahan dan Penanganan Krisis Keuangan.

Lebih lanjut, Syaiful Bakhri menegaskan, terkait rencana melakukan uji materi Perppu 1/2020 ini semata-mata bukan karena ingin memprovokasi masyarakat di tengah wabah virus corona. Sebab, ada potensi lebih besar lagi yang ditimbulkan dari dampak ekonomi bahkan sosial jika Perppu itu tetap diteruskan.

“Inikan akibat dari salah urus dan sebagainya. Tetapi kita sebagai intelektual tidak melakukan apa yang disebut dengan provokasi ke arah itu. Kita melakukan tindakan-tindakan yang sangat legal untuk bisa membawa ke MK,” tegasnya.

“Ini adalah ajakan kami dan mudah-mudahan ini bisa bermanfaat buat bangsa dan negara. Materi-materi gugatan yang nanti akan dieksplor lebih jauh. Maka para pakar, pemerhati dan lain-lainnya bisa bergabung kepada kami untuk bisa mengajukan sebanyak-banyaknya dari para pemohon,” imbuhnya menegaskan.

Dalam diskusi itu juga hadir, Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin, Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Syaiful Bakhri, Wakil Dekan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Iwan Satriawan, gurubesar hukum tata negara Unsoed, Muhammad Fauzan, pakar hukum tata negara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sulardi, dan mantan anggota Komisi III DPR RI, Ahmad Yani. 

 

Editor: Ruslan Tambak

hukum.rmol.id, Sabtu, 11 April 2020, 15:06 Wib Laporan: Faisal Aristama

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.195 kali, 1 untuk hari ini)