Orang yang punya ilmu dan akan ittiba’ sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihiwa sallam terkadang di dunia ini terdepak-depak. Apa lagi kalau dia itu hanya keturunan orang kecil, tidak punya harta alias melarat. Seakan-akan malah jadi klilip mata, ke sana sini tidak begitu disenangi orang.

Sampai ada di masjid-masjid yang sejatinya bukan tempat untuk membenci orang saja nasib saudara yang sejatinya mengerti ilmu agama dan perilakunya lurus ini justru banyak orang yang membencinya. Padahal dia tidak pernah ngomong. Kalau sampai dia berani umbal/ bicara atau lebih lagi berani membantah, mesti akan dikeroyok ramai-ramai.

Apa sebab?

Sebab, mereka yang sama membencinya itu adalah orang-orang bodoh.  Orang yang aktif adzan kemudian melantunkan pujian (ini tidak ada tuntunannya tapi justru disuarakan dengan lantang golak-galok memakai speaker) dan semacamnya di masjid-masjid itu biasanya orang bodoh, tidak mengerti duduk soal bab Islam dengan tertib. Tapi dia rajin ke mesjid lagi pula ahli ibadah, dapat juga sebab diangkat jadi marbot masjid. Terus jamaah di masjid itu ya banyak yang tidak faham bab agama, jadi yang penting sudah biasa dijalankan orang di masjid ya itu yang dianggap benar. Lha imam masjidnya, biasanya dia faham bab Islam, malah dapat membaca Alquran, bahkan kitab gundul segala. Tapi  imam masjid itu belum tentu mau memberi tahu jamaahnya, mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak. yang penting sudah sejak dahulu ada yang melaksanakan ya diteruskan saja.
Orang yang mengerti agama di mesjid itu yang ternyata anak orang kecil lagi pula melarat itu sampai tidak pernah shalat ada di belakang imam, harus ada di pinggir. karena dia kalau di belakang imam, maka sedang khusyu’-khusyu’nya dzikir sesudah shalat, tahu-tahu tersingkir malah dapat keterjang barisan mutar-mutar bersalaman. Mesti saja kalau tidak ikut salam-salaman maka dipelototi orang banyak, malah boleh jadi diomeli tidak keruan. Padahal  bersalaman mutar-mutar sesudah shalat berjamaah itu ya tidak ada tuntunannya.Tapi  kalau sampai anak yang mengerti agama, anaknya orang kecil lagi melarat ini berani umbal/ bicara, mungkin malah tidak dibolehkan lagi datang ke mesjid itu.

Kenapa Kok seperti itu?

Ya Itu sebab mereka orang-orang bodoh, antara jamaah masjid dan marbot, plus imam yang mungkin mengerti tapi malah bercerminkan pada orang bodoh-bodoh. Akibatnya, orang yang mengerti agama, kepengin tegak ittiba’ dhawuh/ perintah Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam malah kesingkang-singkang/ terdepak-depak, apa lagi hanya anaknya orang kecil lagi pula melarat.
Seperti  itu terjadi dari desa pelosok sampai kota besar malahan sampai ibukota sekalian.  Untungnya, tidak sampai Masjidil Haram Makkah dan Madinah.

Sepertinya kebodhohan ini malah dipelihara, dihidup-hidupkan. Tidak hanya di masjid-masjid, tapi  ada  ormas besar yang memang menjaga tetap hidup suasana yang sebenarnya  tidak begitu cocok dengan Islam tapi  dijalankan orang Islam, terus dilestarikan.

Dipakai untuk apa?

Mengakunya ya dipakai untuk kebaikan.Lha kebaikan kok rujukannya lakon orang, bukan Islam. Ya itu sejatinya sudah terbalik. Makanya terkadang yang diwajibkan oleh  Islam atau dipentingkan, malah tidak begitu dijalankan dengan bersungguh-sungguh. Sebaliknya, yang tidak diperintahkan malah sangat dipentingkan. Contohnya shalat berjamaah itu penting di  Islam, tapi  belum tentu mereka pentingkan. Tapi  kalau tahlilan selamatan orang mati (padahal itu tidak ada tuntunannya di  Islam) malah  kompak seakan-akan yang namanya berjamaah itu ya ini. Lha jadinya ya seperti ini, orang-orang bodoh malah dipelihara biar tetep tidak mengerti mana yang sejatinya harus dipentingkan. Lha yang pintar tapi  keblinger malah memelihara suasana yang seperti ini. Tidak Mau merubah biar jadi benar, tapi  malah menjaga agar tetap hidup dan membesarkan (keadaan yang terbalik itu). Apa tidak kojur/ celaka kalau seperti ini.
Padahal ketika zaman Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu saja orang bodoh yang ahli ibadah itu sudah sangat menjengkelkan. Terus orang pintar tapi keblinger itu ya sudah menjengkelkan pula. Sampai Ali menyebut kalau itu menjadikan boyoknya (pinggangnya) semplok. bilangnya Ali,

قال علي رضي اللّه عنه : قصم ظهري رجلان : عالم متهتك وجاهل متنسك.

Menjadikan patah punggungku dua orang (ini): Orang alim yang menyimpang dan orang bodoh yang ahli ibadah. (Ibnu Qudamah Al-Maqisi w 689H, Mukhtashar Minhajul Qashidin halaman 23).

Bayangkan, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu itu kan khalifah, pemimpin agama dan Negara, dan dia itu alim agama karena shahabat Nabi shallalahu‘alaihi wasallam, itu saja dia merasa jengkel menghadapi menungsa dua itu: orang alim yang nyimpang dan orang bodoh yang ahli ibadah. Padahal orang bodoh belum banyak dan tidak dipelihara supaya tetep bodoh. Dan orang pintar yang keblinger ya belum banyak, dan tidak dipelihara oleh pemerintahan Islam. Berbeda dengan yang tidak mau memakai pernatan Islam, sepertinya malah dua jenis menungsa (bodoh tapi ahli ibadah, dan pintar tapi keblinger)  yang menjengkelkan pemimpin Islam sejati itu malah dipelihara, dan bersama-sama dengan ormas yang mengaku Islam. Kojur sungguh (celaka betul)!
Lebih kojur/celaka lagi, tidak hanya memelihara orang pintar yang keblinger, tapi malah  menyiapkan bibit-bibit supaya jadi orang pintar keblinger. Sampai puluhan tahun menyekolahkan dosen-dosen IAIN, UIN, STAIN dan sebagainya yaitu perguruan tinggi Islam se negara ini supaya belajar agama Islam ke negeri-negeri kafir barat. Lha itu kan seperti  orang sekolah biar dapat faham tatacara menyembelih sapi supaya hasilnya halal, tapi  sekolahnya ke perusahaan daging babi. Lha nanti kalau pulang kan ya paling kurang menganggap tidak apa-apa daging sapi dicampur babi. Atau malah semua itu entah sapi apa babi semua halal. Ya hasilnya, jadi orang-orang aneh, pendapatnya sampai menganggap dari agama apa saja ya akan masuk surga. (menganggap semua orang akan masuk surga) itu lebih jelek ketimbang menghalalkan semua daging entah sapi entah babi. Karena yang dibatalkan hanya bab haram. Lha kalau menganggap semua orang akan masuk surga itu membatalkan semua isi Qur’an dan semua isi Hadits. Dibatalkan semua. Apa tidak kurang ajar sungguh itu.
Makanya kalau akan mengerti mana saja berkeliarannya orang-orang keblinger, ya tinggal melihat ke perguruan-perguruan tinggi Islam. Mblader (tersebarlah) pokoke, jika hanya cari orang pintar keblinger. Lha orang tidak hanya dipelihara tapi  dipersiapkan bersungguh-sungguh. Makanya sampai ada buku ditulis oleh  Hartono Ahmad Jaiz, berjudul Ada Pemurtadan di IAIN.

Terus, memelihara orang-orang keblinger itu dipakai untuk apa?

Ya Dipakai untuk memurtadkan orang Islam ini, biar tidak iman lagi. Biar meyakini kalau menungsa ini semua akan masuk surga, biarpun jadi penyeru ajaran syetan. Ya Itulah puncak ajaran syetan, yang nama pluralism agama, inklusifisme, liberaisme, dan multikulturalisme yang digembar-gemborkan oleh para antek syetan. Itu yang dicetak di tingkat akademis. Lha yang di kampong-kampung sudah ada yang “bertugas” supaya membengkokkan Islam ini agar merata (bengkoknya) di masyarakat. Supaya Islam ini tidak dapat tegak. Kalau Islam ini tegak di masyarakat, nanti dikhawatirkan, antek-antek syetan tidak dapat makan.

Bayangkan, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu itu kan khalifah, pemimpin agama dan negara lagi pula dia itu alim agama karena dia adalah shahabat Nabi shallalahu‘alaihi wasallam, itu saja dia merasa jengkel menghadapi menungsa dua itu: orang alim yang nyimpang dan orang bodoh yang ahli ibadah.
Lha bagaimana lagi zaman sekarang yang seperti dialami anak yang mengerti agama tapi dia itu anaknya orang kecil lagi melarat itu tadi. Apa tidak ngenes/ menyedihkan? Padahal  zaman sekarang orang bodoh itu lebih banyak, lagi pula orang pintar yang keblinger itu ya lebih banyak. Lha bagaimana, orang yang pintar-pintar ada di organisasi tertentu malah mereka rapat terus memutuskan hukum, bahwa lokalisasi perlontean/ pelacuran itu boleh sebab ada dasarnya, sebab legal, jadi akitivitasnya (zina) para lonte di tempat perlontean itu tidak boleh diganggu gugat sebab resmi. Terus orang alim lainnya yang gede juga malah sama mengadakan upacara natalan Kristen, terus partai PKB malah mengadakan upacara perayaan tahun baru Cina yang agamanya kemusyrikan Kong Hu Chu, malah penyelenggaraan perayaan oleh partainya orang NU itu ada di kantor pusat PKB. Jadi Perayaan agama kemusyrikan, tapi diselenggarakan oleh partainya orang NU yakni PKB lagi pula ada di kantor pusat PKB. Itu tidak cocok babar blas (sama sekali) dengan ayat-ayat Allah Ta’ala.
Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman kepadanya:

] قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ[

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,” (al-Mumtahanah: 4)

Orang-orang pintar lainnya sampai titelnya professor doctor bahkan jadi guru besar di perguruan tinggi Islam malah merusak agama dengan menyebarkan keyakinan batil. Mereka menganggap orang-orang agama selain Islam alias kafir itu ya akan masuk surga. Padahal  Allah sudah berfirman:

 {إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ } [البينة: 6]

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS Al-Bayyinah/ 98 : 6).

Dalam Shahih Muslim diriwayatkan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

{ وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ أَوْ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِاَلَّذِي أُرْسِلْت بِهِ إلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ }

“Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, tidak ada seorangpun dari umat manusia yang mendengar kerasulanku, baik ia seorang Yahudi maupun Nasrani lalu mati dalam keadaan belum beriman kepada ajaran yang kubawa melainkan ia pasti termasuk penduduk Neraka.” (HR Muslim).

Itu tuntunan Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah jelas,  selain orang Islam itu mesti akan jadi penghuni neraka selama-lamanya, tidak hanya masuk neraka, tapi  penduduk tetap neraka sak jeg jumbleg/ selama-lamanya. Lha kok berani-beraninya orang mengaku Islam dan bahkan titelnya professor doktor lagi pula mengajar di Perguruan Tinggi Islam malah menyebarkan faham kemusyrikan baru yang sering disebut orang dengan Sepilis (sekulerisme, pluralisme agama dan liberalisme) ditambahi lagi inklusivisme dan multikulturalisme. Semua itu sejatinya hanya ajaran kemusyrikan baru yang dicekokkan kepada orang Islam. Makanya harus berhati-hati, Jangan sampai terseret kepada kemusyrikan baru dengan nama-nama atau istilah-istilah lain, sehingga orang Islam tidak mengerti kalau itu sejatinya kemusyrikan baru.

Masih ditambah lagi, dalam keadaan pemurtadan dan penyesatan seperti itu, datanglah agama syiah yang bermuatan dendam kepada Islam sampai ke ubun-ubun. Hingga negeri syiah di Iran resmi melarang adanya masjid-masjid ahlussunnah atau sunni. Lihat Video Republik Iran Resmi Melarang Pendirian Masjid Sunni di Teheran https://www.nahimunkar.org/video-republik-iran-resmi-melarang-pendirian-masjid-sunni-di-teheran/

Karena penggalangan dan intensifikasi kader-kader pemurtadan dan penyesatan di Indonesia telah matang, maka masuknya syiah pembenci Islam itu disambut baik oleh para antek kafirin itu, baik yang duduk di ormas-ormas Islam, perguruan tinggi Islam maupun di sembarang tempat, baik resmi maupun tidak. Bahkan di MUI yang merupakan wadah kumpulan ulama pun mereka duduk atau masuk. Apalagi di partai-partai lebih-lebih yang sekuler. Pada pemilu 2014, caleg yang non Muslim dikabarkan 871 orang, terbanyak di PDIP. Partai beratribut warna merah berlogo kepala banteng ini calegnya yang Islam dikabarkan adalah kebanyakan dari sepilis (sekuler, pluralis agama, dan liberal alias kemusyrikan baru itu tadi) dan syiah. 183 caleg PDIP non muslim, caleg muslim banyak dari JIL dan syiah, tulis voaislam.com.

Lha sekarang kalau seperti anaknya orang kecil lagi melarat tadi ketika di desanya atau kampungnya sudah dipepetkan oleh orang bodoh-bodoh di masjid-masjid dan lingkungannya, terus kalau kuliah  di perguruan tinggi Islam ya dicekoki faham kemusyrikan baru oleh guru-guru/dosen atau bahkan guru besarnya, terus apa tidak semplok/ sakit sungguh boyoknya, pinggangnya.
Ya seperti begitu itu kira-kira jaman yang sudah mulai ada tanda tanda kalau memegangi agama dengan teguh itu seperti menggenggam bara api.

Kalau sampai orang yang seperti anak ini tadi malah akhirnya ikut-ikutan orang banyak dan ikut guru besar yang keblinger tadi, maka jadilah sama bodohnya. Makanya harus menyadari, pancen/ memang kebodohan dan kesesatan itu sangat berbahaya. Kalau itu disandang orang, adalah sudah ada contohnya. Pintar tapi  keblinger adalah Yahudi, bodoh lagi sesat adalah Nasrani. Makanya tiap shalat diwajibkan berdo’a supaya dihindarkan dari jalan orang Yahudi dan Nasrani, yaitu mesti membaca al-fatihah yang ujung ayatnya:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦)

  1. Tunjukilah kami jalan yang lurus,

 [صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)

  1. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah: 6-7).

Dalam kitab Tafsir Jalalain yang biasa diajarkan di pesanren-pesantren NU, lafal maghdub itu adalah orang-orang Yahudi, dan dhaalliin itu orang-orang Nasrani. Ini teksnya:

غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهِمْوَهُمْ الْيَهُود وَلَاوَغَيْر الضَّالِّينَوَهُمْ النَّصَارَى

bukan (jalan) mereka yang dimurkai – yaitu orang-orang Yahudi– dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat—yaitu orang-orang Nasrani. (Tafsir Jalalain QS Al-Fatihah: 7).

Al-Quran sudah menuntun seperti itu. Tapi   sekarang gejala yang banyak justru mereka bercermin pada jalannya Yahudi dan Nasrani, seperti yang sudah dibahas ini tadi. Yakni pintar tapi  keblinger dan bodoh lagi sesat. Makanya marilah kita sama berhati-hati, belajar sungguh, dan memohon kepada Allah Ta’ala Yang Maha Memberi Kanugrahan Hidayah dan Taufiq, supaya selamat dari sembarang kebodohan dan kesesatan. Amiin ya Rabbal ‘alamiin.

By: Hartono Ahmad Jaiz. Jakarta, Kamis 14 Rabi’ul akhir 1435H/ 13 Februari 2014.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 637 kali, 1 untuk hari ini)