.

OPINI | 17 January 2014 | 22:03

… faktanya tidak ada yang mereka (Jokowi-Ahok) lakukan untuk benar-benar mengatasi banjir.

Banjir hari ini mengingatkan kita pada banjir beberapa hari lalu. Baru surut beberapa hari sudah banjir lagi hanya karena hujan sebentar saja. Mengingat banjir yang lalu maka kita juga mengingat alasan pembelaan diri Jokowi Ahok pada banjir yang lalu.

Pertama, Ahok mengatakan tidak banjirnya Pluit saat itu adalah bukti bahwa normalisasi Waduk Pluit telah memberi bukti kinerja mereka dalam penanganan banjir.

Kedua, Ahok di Metro TV dengan memamerkan peta terdampak banjir tahun 2013 dan 2014 mengatakan bahwa karena genangan air jauh lebih besar terjadi pada 2013 dibanding 2014 maka hal tersebut adalah bukti penanganan banjir yang dilakukan Jokowi-Ahok sudah berhasil.

Mari kita bahas satu per satu.

Waduk Pluit

Benarkah Waduk Pluit sudah layak digunakan sebagai salah satu sarana pencegah banjir? Faktanya dari luas waduk 80 hektar pengerjaan baru pada seluas 10 hektar, dan pada kedalaman 1 meter dari kedalaman total 10 meter. Dengan pengerukan yang sangat minim ini apakah waduk Pluit sudah mampu menahan banjir? Mustahil dan tidak masuk akal.

Faktanya saat hujan yang lalu daerah tidak banjir sebab sejak banjir besar tahun 2002 telah berswadaya mengadakan pompa sendiri, sehingga dapat dipastikan selama tidak ada peristiwa yang abnormal maka daerah Pluit akan aman dari banjir dan kalaupun ada genangan akan cepat surut, dan itupun daerah lain yang bukan Pluit seperti daerah tanah merah tetap tergenang parah sampai sekarang setiap hujan.

Lagipula hari ini ternyata Pluit banjir lagi dan baru kering setelah pintu air dibuka, itupun perlu waktu beberapa jam. Dilihat dari fakta ini dan logika yang digunakan Ahok bahwa waduk pluit berkorelasi dengan keringnya pluit pada banjir sebelumnya maka dengan banjirnya pluit hari ini telah membuktikan pengerukan waduk pluit memang jauh dari optimal. Toh bagaimana mungkin memfokuskan perbaikan waduk pluit kepada pembangunan taman dapat mencegah banjir? absurd dan omong kosong.

Banjir 2013 vs. 2014

Setelah hujan kritikan karena ternyata tahun 2014 Jakarta masih mengalami banjir besar, akhirnya Ahok muncul di MetroTV dan menunjukkan dua peta Jakarta yang masing-masing terdapat genangan air pada banjir tahun 2013 dan banjir 2014. Sekilas mata memang terdapat penurunan signifikan pada banjir 2014, akan tetapi apakah hal ini membuktikan hasil kerja mereka berdua?

Sekali-kali tidak, bahkan menunjukkan usaha Ahok untuk membohongi publik. Bagaimana tidak, jelas sekali banjir 2013 jauh lebih besar dan masif daripada banjir 2014 karena tahun lalu terjadi peristiwa yang disebabkan oleh kelalaian Jokowi dan Ahok yang tidak memeriksa tanggul-tanggul. Akibatnya fatal, ada bagian pada tanggul latuharhary yang sudah keropos jebol pada saat menerima limpahan air hujan sehingga air mengalir ke jalan raya, terutama di Jakarta Pusat sampai ke Jakarta Barat.

Akibat ikutan dari jebolnya tanggul sangat mengerikan sebab limpahan air yang begitu deras menyebabkan pembuangan ekses air ke laut tidak lancar karena pompa air mengalami kepanasan akibat menerima air yang begitu besar dalam waktu singkat sehingga air mengendap di darat dan tidak bisa dibuang ke laut.

Oleh karena air limpahan latuharhary tidak bisa dibuang ke laut maka air mengendap di jalan-jalan protokol Jakarta, termasuk Jakarta Pusat, Barat dan Utara dalam waktu yang cukup lama. Inilah penyebab tampak air yang besar pada gambar peta Jakarta tahun 2013 dan titik-titik air yang lebih kecil pada peta banjir 2014.

Kinerja Jokowi-Ahok

Sekarang kita akan menilai apa saja yang sudah dikerjakan Jokowi-Ahok dalam mengatasi banjir Jakarta untuk menilai benarkah kebijakan mereka telah tepat guna dalam masalah banjir.

1. Rekayasa cuaca yang menghabiskan puluhan miliar tapi ternyata tidak efektif.

2. Normalisasi waduk pluit baru mengeruk pada kedalaman 1 meter dari 10 meter dan pada wilayah 10 hektar dari 80 hektar. Normalisasi juga hanya memfokuskan diri pada pembuatan taman, tentu tidak mungkin sebuah taman dapat mengurangi banjir.

3. Pengerukan sungai-sungai dilakukan setengah hati, misalnya kali pakin yang sempat mengalir sekarang banyak endapan sehingga selalu penuh di kala hujan turun. Atau kali mati pademangan yang dijanjikan Jokowi akan dikeruk tapi tidak dilakukan sampai hari ini.

4. Pembangunan sumur biopori ternyata sudah lama berhenti dan ditinggalkan.

5. Pembangunan Deep Tunnel dan Giant Sea Wall tidak jadi dilakukan karena hanya proyek mimpi.

6. Meminta pemerintah pusat ikut bertanggung jawab padahal sudah jelas kewajiban mengatasi masalah-masalah di DKI termasuk banjir adalah tanggung jawab Pemprov DKI sedang pemerintah pusat hanya bersifat mendukung.

Melihat beberapa pekerjaan yang dikerjakan Jokowi-Ahok sehubungan dengan usaha mengatasi banjir tampaknya sulit dipercaya klaim mereka bahwa kebijakan mereka memiliki dampak pada berkurangnya titik banjir, sebab memang faktanya tidak ada yang mereka lakukan untuk benar-benar mengatasi banjir./ Hendra Boen

http://birokrasi.kompasiana.com/2014/01/17/kebohongan-ahok-dalam-banjir-2014-628599.html

(nahimunkar.com)

(Dibaca 6.875 kali, 1 untuk hari ini)