Selvi (6,5 tahun) tak lagi mampu berjalan normal setelah disuntik vaksin MR atau Rubella.


Selvi, menurut Marliani (ibunya), disuntik di sekolahnya tanpa izin darinya. Selvi disuntik petugas Puskesmas Gunung Samarinda tanggal 6 Agustus 2018 di sekolahnya, setelah Walikota Rizal meminta penundaan. (klikbalikpapan.co)

Vaksin Rubella (MR) sudah divaksinasikan sebelum dimintakan sertifikat halal ke MUI, hingga dua kali dibantah MUI, 2017 dan 2018. Di sela2 itu ada pejabat yang menyebut bahwa itu sudah halal.

Kasus itu berarti mengandung sejumlah masalah:

1. Sudah divaksinkan ke mana2 untuk anak2 sekolah.

2. Padahal belum dimintakan sertifikat halal.

3. Disebut halal padahal belum, lalu dibantah MUI.

4. Diadakan pertemuan, pihak kesehatan dengan MUI, hasilnya vaksinasi MR ditunda dulu bagi Umat Islam. (Kenyataannya sudah divaksinkan ke mana-mana dan sudah banyak korbannya, ada yang meninggal, ada yang lumpuh. Sedang penundaan itu hanya untuk Umat Islam. Lha kalau ada sedikit menghargai Umat Isalam, mustinya penundaan itu ya keseluruhannya, kan mayoritas penduduk Indonesia ini Muslim. Soal penundaan itu pun tidak begitu disosialisasikan, karena memang hanya karena pihak kesehatan seperti konangan/ ketahuan dan terdesak serta tidak dapat berkelit lagi. Sedangkan pelaksanaan vaksinasi MR itu sampai memaksa, hingga ada ancaman bagi yang tidak mau divaksin, seperti yang terjadi di Banten, dikabarkan diancam denda bagi yang tidak mau ikut vaksin sebesar 700 m. Silakan simak link ini: https://www.nahimunkar.org/duh-rubella/).

5. Penundaan vaksin MR hanya untuk Umat Islam (dan sosialisasinya pun belum tentu digencarkan itu) ternyata masalah sebenarnya bukan hanya masalah haramnya vaksin itu bagi Umat Islam, tetapi terbukti vaksin MR itu mengakibatkan adanya korban pula bagi non Muslim. Hingga keluarga non Islam di Papua menuntut ganti rugi Rp 1 miliar plus ini itu akibat anaknya meninggal setelah divaksin MR belum lama ini.

Vaksin MR di Papua. (Teras)

Keluarga almarhumah Agustina Logo menuntut Pemkab Jayawijaya Rp 1 miliar dan babi (wam) 100 ekor atas meninggalnya Agustina Logo setelah mendapat vaksin MR di SD Umpagalo, Distrik Kurulu, belum lama ini. (klikbalikpapan.co – Sabtu, 25 Agustus 2018 Jam: 05:57:22 WIB)

6. Setelah pihak kesehatan tidak mampu berkelit lagi, lalu vaksin MR (yang telah divaksinkan ke mana-mana dalam dua tahun ini) baru kemudian diteliti MUI, hasilnya vaksin MR mengandung jejak babi dan organ manusia yaitu human deploit cell (bahan dari organ manusia), maka hukumnya haram, tidak boleh digunakan. Diberitakan, Kekhawatiran umat Islam Indonesia bahwa vaksin Measles Rubella (MR) mengandung babi akhirnya terbukti. Bahkan ternyata, vaksin ini tak hanya mengandung babi, tapi juga mengandung human deploit cell (bahan dari organ manusia).

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Barat (Kalbar) HM Basri Har mengatakan, vaksin MR dipastikan positif mengandung babi dan organ manusia, setelah dilakukan pemeriksaan oleh Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI),

Vaksin MR diproduksi oleh Serum Institute of India (SII) dan didistribusikan di Indonesia oleh PT Biofarma.

”LPPOM MUI sudah melakukan pemeriksaan. Sementara ini ditemukan ada unsur babi dan organ manusia. Hasilnya seperti itu, kami kontak terus dengan MUI Pusat,” ungkapnya, Minggu (19/8/2018) sore, seperti dikutip dari tribunnews.com.  https://www.nahimunkar.org/nah-terbukti-vaksin-rubella-positif-kandung-babi-padahal-pejabat-kesehatan-sudah-berbohong-bilang-halal-hingga-dibantah-mui/

7. Lalu ada rapat, MUI tidak berani menghalalkan vaksin MR tapi membolehkannya dengan alasan terpaksa, maka boleh selama belum ditemukan vaksin yang halal lagi suci. Kalau sudah ditemukan, maka tidak boleh digunakan lagi. Majelis Ulama Indonesia menerbitkan fatwa yang menyatakan vaksin Rubella-Measles berhukum “haram” karena mengandung jejak babi. Namun demikian MUI membolehkan penggunaannya karena alasan keterpaksaan.

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa Nomor 33 Tahun 2018 tentang penggunaan vaksin measless dan rubella (MR) untuk imunisasi.

MUI menyatakan, pada dasarnya vaksin yang diimpor dari Serum Institute of India itu haram karena mengandung babi.

Namun demikian, dalam fatwa itu juga MUI menyatakan penggunaan produk vaksin itu dibolehkan hingga ditemukan vaksin yang halal.

“Dalam proses produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi, (Tetapi) penggunaan vaksin MR produk dari Serum Institute of India, pada saat ini, dibolehkan (mubah),” ” kata Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin dalam keterangan tertulisnya.

“Kebolehan penggunaan vaksin MR ini tidak berlaku jika ditemukan adanya vaksin yang halal dan suci,” ucap Hasanuddin.

Selain kondisi keterpaksaan, MUI juga membolehkan penggunaan vaksin ini karena belum ada alternatif vaksin yang halal dan suci serta adanya keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi vaksin MR.

Dalam fatwanya MUI merekomendasikan pemerintah wajib menjamin ketersediaan vaksin halal untuk kepentingan imunisasi bagi masyarakat.

Kandungan babi buat orang tua enggan vaksinasi anak

Sementara itu, meski dibolehkan namun terbitnya fatwa MUI ini tetap memicu keresahan di kalangan orang tua. Jejak kandungan babi menjadi isu utama yang membuat sebagian orang tua ragu untuk memvaksinasi anak mereka. https://www.nahimunkar.org/nah-terbukti-vaksin-rubella-positif-kandung-babi-padahal-pejabat-kesehatan-sudah-berbohong-bilang-halal-hingga-dibantah-mui/

8. Akibatnya sebagian Umat Islam dikabarkan enggan anak2nya divaksin MR.

9. Keengganannya itu menyangkut keyakinan, karena hukumnya tadi haram. Jadi negara wajib menghormati karena keyakinan itu dilindungi konstitusi.

Korban-korban setelah divaksin, keharaman vaksin MR, dan kaidah dalam Islam.

Korban2 setelah divaksin MR banyak, yangg jelas diberitakan 13 anak, ada yang meninggal, ada yang lumpuh. https://www.nahimunkar.org/nah-terbukti-vaksin-rubella-positif-kandung-babi-padahal-pejabat-kesehatan-sudah-berbohong-bilang-halal-hingga-dibantah-mui/

Vaksinasi MR itu merupakan antisipasi sesuatu yang belum terjadi (bagi sasaran yang akan divaksin).
Menurut kaidah fiqh sesuatu yang sudah yaqin [kenyataan korban-korban akibat divaksin MR, dan MUI tidak berani menghalalkan vaksin MR karena mengandung jejak babi dan organ manusia yaitu human deploit cell (bahan dari organ manusia)] itu tidak dapat dikalahkan oleh dhann (dugaan) yaitu apa yang belum terjadi (pada anak yang jadi sasaran untuk divaksin).

Di samping itu, ada kaidah ushul fiqh, dar’ul mafaasid muqoddamun ‘ala jalbil masholih. Menolak kerusakan itu lebih didahulukan ketimbang mengambil manfaat. Kerusakannya adalah vaksin MR itu dinyatakan haram oleh MUI, dan ada sejumlah korban akibat divaksin. Kemaslahatannya, mungkin nantinya akan tidak terkena penyakit tertentu.

Nah, justru dua kerusakan itu harus lebih didahulukan. Artinya menolak divaksin itu harus lebih didahulukan, menurut kaidah tersebut.

Lantas, kalau nanti celaka bagaimana?

Lhah, orang memegangi Islam dengan teguh, konsisten, akan kena celaka karena memeganginya? Ya tidak lah. Apakah Allah Ta’ala itu zalim? Silakan baca Surat Thaha ayat 2.

طه مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ [ طه:1-2]

1. Thaahaa. [Ta Ha:1] 2. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; [Ta Ha:2]

Semoga manfaat.

(Dibaca 503 kali, 1 untuk hari ini)