Kedekatan M Natsir dengan Raja Faisal    


King Faisal dan M. Natsir/ foto eramuslim

Khidmah (pengabdian) pak Natsir (Mohammad Natsir pendidri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia/ DDII, tokoh Masyumi, red) di tanah air, itu sudah terbaca, terekam dengan jelas oleh tokoh-tokoh kelas dunia.

Demikian penjelasan Mudir Ghazwul Fikry Dewan Dakwah, ust. H.T. Romly Qomaruddien, MA dalam acara ‘Pengi’tirafan Pemikiran dan Perjuangan Bapak M. Natsir’ di gedung Dewan Dakwah, Jakarta pada Kamis (01/09 2016) sebegaimana diberitakan kiblat.net, Jum’at, 2 September 2016 10:02 .

Termasuk, kata dia, Raja Faisal yang sangat perhatian terhadap dunia Islam pada saat itu. Raja Faisal menjanjikan hadiah apa saja yang diminta kepada Pak Natsir jika sudah bebas dari rezim orde lama.


Apa yang diminta? Tak ada kepentingan pribadi. Dia hanya meminta Raja Saudi kala itu mempermudah anak-anak Indonesia yang ingin belajar ke Arab Saudi.

“Kami ingin tuan raja bisa memperhatikan anak-anak kami. Yang dimaksud anak-anak pak Natsir adalah anak idiologis, bukan anak biologis, anak Indonesia untuk bisa belajar di timur tengah khususnya di Saudi,” jelas Qamaruddien menjelaskan perkataaan M. Natsir.

Ia menegaskan bahwa pendidikan M. Natsir berteraskan tauhid, intregralitas ilmu antara aqli dan naqli (menjunjung tinggi kemerdekaan akal, tapi tidak merusak agama). “Kalau sekarang kan menjunjung tinggi akal, tetapi merusak agama. Pak Natsir tidak, ia menjunjung tinggi akal tapi tidak merusak agama,” jelasnya

Pak Natsir juga menyebutkan bahwa tiga benteng umat adalah menguatkan masjid, menguatkan kampus dan pondok pesantren itu menjadi basis kekuatan yang bisa membentengi umat. “Makanya beliau di kampus mengakar, di masyarakat mengakar,” ucapnya.

Qamaruddien menambahkan, ada kebiasaan M. Nastir yang membuat kita takjub. Dia memiliki kebiasaan salat tahajud (salat malam), yang menurutnya pandangan ibadah itu sebagai ‘pembajak jiwa’. Maka seorang aktivis Islam harus melakukan salat malam.

“Da’i, aktivis, guru, politikus, yang berkiprah untuk Islam, maka harus salat malam. Itu yang disebut pak Natsir sebagai pembajak jiwa. Maka seorang aktivis yang tidak salat malam, tidak memiliki pembajak jiwa, kata pak Natsir,” jelasnya.
Ketika M. Natsir meninggal, lanjutnya, para ulama mengatakan bahwa ia adalah seorang muallim, guru. Bahkan lawannya, Jalaluddin Rahmat menulis buku ‘Kembalinya sang Guru’. “Perdana menteri Jepang saat itu juga melayangkan surat telegram bahwa meninggalnya Pak Natsir lebih dahsyat dari dentuman bom Hiroshima dan Nagasaki,” ungkapnya.

Maka, ia berpesan kepada seluruh gerakan dakwah di Indonesia agar mempelajari sejarah para pendahulu bangsa, terlepas dari berbagai perbedaan pandangan. “Makanya Zaman Pak Natsir dulu nggak ada yang teriak-teriak antar kelompok, karena mereka mampu duduk bareng, berdialog,” pungkasnya.

Reporter: Taufiq Ishak
Editor: Hunef Ibrahim/ kiblat.net, dikutip bagian akhirnya.

—–

Artikel singkat ini untuk ikut gembira atas peluncuran buku ‘Biografi Mohammad Natsir’ di Pameran Buku Internasional (IIBF) di JCC Jakarta, panggung utama, Sabtu 07 September 2019, pukul 13.30- 15.00 WIB.

Penerbit buku Pustaka Al-Kautsar Jakarta menjelaskan, akan berbicara di acara itu penulis buku tersebut, Lukman hakim, dan didatangkan pula Salahuddin Wahid dari Jombang, cucu pendiri NU. Bagaimana cucu pendiri NU menyoroti tokoh Masyumi, M Natsir, pantas disimak pula rupanya.

 

(nahimunkar.org).

 

(Dibaca 281 kali, 1 untuk hari ini)