Posted on 15 Januari 2014 – by Nahimunkar.com

Bismillahirrahmanirrahim.

Sebagian dari kalangan yang mendukung kegiatan seremoni maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terkadang berdalil dengan nash-nash tertentu yang disebut-sebut sebagai hadits. Meski pun keotentikannya masih dipermasalahkan. Di antaranya nash-nash itu adalah:

Orang yang mengagungkan maulidku, maka dia bersamaku di surga

Orang yang menafkahkan satu dirhan untuk kepentingan maulidku, maka seperti menafkahkan sebuah gunung yang terbuat dari emas di jalan Allah.

Klaim Atas Perkataan Shahabat

Bukan hanya klaim atas perkataan nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tetapi juga kita menemukan klaim-klaim atas para shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beberapa di antaranya adalah klaim bahwa para khulafa’urrasyidin pernah menyebutkan tentang keutamaan mengadakan maulid nabi dan menafkahkan harta untuk kegiatan itu.

Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah diklaim telah menyebutkan lafadz berikut ini:

Orang yang menafkahkan satu dirham untuk kepentingan maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka dia akan menjadi temanku di dalam surga.

Umar bin Al-Khattab juga diklaim telah menyebutkan perkataan di bawah ini:

Orang yang mengagungkan maulid nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam maka dia berarti telah menghidupkan agama Islam.

Termasuk juga Utsman bin Affan, beliau juga dipakai namanya sebagai orang yang dianggap telah menyebutkan lafadz ini:

Orang yang menafkahkan satu dirham untuk bacaan maulid nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka seolah-olah dia ikut dalam Perang Badar dan Hunain.

Kalau lafadz ini, ini adalah lafadz yang diklaim sebagai perkataan Ali bin Abi Thalib:

Orang yang mengagungkan maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak akan keluar dari dunia ini kecuali denngan iman.

Semua klaim itu tentu saja susah dicari rujukannya. Sebab di semua kitab hadits yang kita kenal, sama sekali tidak pernah terdapat lafadz-lafadz di atas.

Klaim Atas Pernyataan Ulama

Ada juga lafadz yang diklaim sebagai perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i, namun setelah dicari di berbagai kitab tulisan Imam peletak dasar ilmu ushul fiqih itu, tidak ditemukan. Lafadz itu adalah:

Orang yang mengumpulkan saudaranya di saat maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, lalu menghidangkan untuk mereka makanan, serta berbuat ihsan, maka Allah akan bangkitkan dirinya di hari kiamat bersama para shiddiqin, syuhada’, shalihin dan berada dalam surga An-Na’im.

Juga ada lafadz yang diklaim sebagai perkataan Al-Imam As-Sirri As-Saqti, seperti ini:

Siapa yang mendatangi tempat dibacakannya maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka dia akan diberi taman di surga. Karena dia tidak mendatanginya kecuali karena cinta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sedangkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ”Orang yang cinta padaku maka dia akan bersamaku di surga.

Kedudukan Hadits

Jangan tanya tentang kedudukan hadits-hadits di atas, sebab kalau kita cari di berbagai kitab hadits, entah itu di kitab Shahih Bukhari, Muslim, An-Nasai, Ibnu Majah, At-Tirmizy, Abu Daud, atau kitab-kitab hadits lainnya, Kita tidak pernah mendapatkannya.

Padahal semua perkataan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pasti tercatat dalam kitab hadits yang mu’tabar. Demikian juga dengan para shahabatnya, semua ungkapan mereka pasti tercatat dengan baik.

Namun anehnya, lafadz-lafadz yang sejenisnya seperti di atas itu cukup populer di kalangan sebagian umat Islam. Bahkan dalam setiap kesempatan ceramah maulid, selalu diulang-ulang oleh para penceramahnya. Seolah-olah memang benar-benar hadits nabi.

Dari Mana Sumbernya?

Pertanyaan besarnya, bagaimana lafadz-lafadz yang diklaim sebagai hadits padahal bukan itu bisa begitu populer? Dari mana asal muasal lafadz-lafadz di atas itu? Kenapa bisa begitu populer dan banyak dipakai orang?

Jawabannya, kita harus berterus terang bahwa asalnya memang dari kitab yang sering digunakan di sebagian majelis taklim dan pesantren tradisional. Kami katakan pada sebagiannya, tidak berarti semua menggunakannya.

Tepatnya kitab itu adalah kitab Madarijush-Shu’ud. yang menjadi kitab syarah atau penjelasan dari kitab Al-Maulid An-Nabawi karya Al-Imam Al-‘Arif As-Sayyid Ja’far, atau yang lebih dikenal dengan Syeikh Al-Barzanji.

Di kalangan tertentu, kitab ini cukup populer. Penulisnya memang adalah tokoh besar, bahkan beliau tinggal di Makkah, namun asalnya dari negeri kita. Beliau adalah Syeikh Nawawi Al-Bantani.

Di dalam kitab susunan beliau itulah kita dapat menemukan lafadz-lafadz diklaim sebagai hadits nabi atau perkataan para shahabat nabi, juga perkataan para ulama lainnya.

Dan sayang sekali, semua lafadz itu tidak satu pun yang dilengkapi sumber rujukan, perawi, apalagi alur sanad. Sehingga para kritikus hadits tidak bisa melacaknya di kitab-kitab rijalul hadits, atau di kitab lainnya.

Sementara lafadz-lafadz itu terlanjur dikutip oleh para kiyai dan ulama di negeri kita. Bahkan akhirnya lafadz itu menjadi lafadz langganan setiap kali mereka harus berhadapan dengan ‘lawan’ yang anti maulid. Sayangnya, lafadz itu akan menjadi otokritik kalau berhadapan dengan ‘lawan’ yang mengerti ilmu hadits dan kritiknya. Mungkin lafadz itu bisa diterima di kalangan awam yang tidak terlalu kritis dalam masalah kritik sanad hadits.

Kedudukannya Bukan Hadits

Sebagai kesimpulan, apa yang diklaim sebagai hadits dalam kitab tersebut, oleh para ahli hadits memang harus ditegaskan bukan sebagai hadits. Tanpa harus mengurangi rasa hormat kita kepada sosok Syeikh Nawawi Bantani yang memang telah banyak berjasa di bidang dakwah agama.

Tidak kurang, ulama sekelas Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub MA yang menegaskan hal itu. Beliau tentu saja adalah sosok yang paling berhak untuk mengatakan kedudukan suatu lafadz yang dianggap hadits.

Padahal beliau termasuk warga Nahdhiyyin, jebolan pesantren Tebuireng Jombang yang didirikan oleh Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari, pendiri NU dan juga murid Syeikh Nawawi Bantani.

Tapi inilah ciri intelektualitas Islam, tidak mengapa pendapat atau tulisan seorang ulama dikritisi oleh mereka yang memang ahli di bidangnya, tapi tanpa harus memaki atau mencaci, apalagi menghina. Hormat dan takdzim tetap harus dilakukan, tapi kebenaran juga harus disampaikan.

Dari ‘Ali ibn Abi Tholib Radhiallahu’anhu, Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَكْذِبُوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ

“Janganlah kalian berbohong dengan mengatasnamakan diriku. Karena sesungguhnya barangsiapa yang berbohong dengan mengatasnamakan aku, maka dia akan masuk neraka” (HR. Bukhari no. 106; Muslim no. 1; Ahmad no. 1292; Tirmidzi no. 2660; Ibnu Majah no. 31; Nasa’i no. 5880; Hakim no. 2614; Abi Y’la no. 627; dll)

Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu, Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَعَمَّدَ عَلَيَّ كَذِبًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa sengaja berbohong dengan mengatasnamakan diriku, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka” (HR. Muslim no. 2; Bukhari no. 108; Nasa’i no. 5882)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa sengaja berbohong dengan mengatasnamakan diriku, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka” (HR.Bukhari no. 110; Muslim no. 3; Ahmad no. 9316)

, sebuah kaidah yang di sebutkan ulama yakni ”hukum asal ibadah itu terlarang hingga ada dalil yg memerintahkanya”.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
(Al-Ahzab: 21).

“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.
(Ali Imran: 31).

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.”

 (An-Nur: 63).

Imam Abu Hanifah (Imam Mazhab Hanafi)

Beliau adalah Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit yang dilahirkan pada tahun 80 Hijriyah. Beliau berkata,

1. “Apabila hadits itu shahih, maka hadits itu adalah madzhabku.” (Ibnu Abidin di dalam Al- Hasyiyah 1/63)

2. “Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya.” (Ibnu Abdil Barr dalam Al-Intiqa’u fi Fadha ‘ilits Tsalatsatil A’immatil Fuqaha’i, hal. 145) Dalam riwayat yang lain dikatakan, “Adalah haram bagi orang yang tidak mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku.” Di dalam sebuah riwayat ditambahkan, “Sesungguhnya kami adalah manusia yang mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya di esok hari.”

3. “Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah ta’ala dan kabar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah perkataanku.” (Al-Fulani di dalam Al- lqazh, hal. 50)

☛ Imam Malik (Imam Mazhab Maliki)

Beliau adalah Malik bin Anas, dilahirkan di Kota Madinah pada tahun 93 Hijriyah. Beliau berkata,

1. “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang kadang salah dan kadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah, maka ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan Sunnah, maka tinggalkanlah.” (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami’, 2/32)

2. “Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.” (Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227)

3. Ibnu Wahab berkata, “Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang hukum menyela-nyelan jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, ‘Tidak ada hal itu pada manusia’. Maka aku meninggalkannya hingga manusia berkurang, kemudian aku berkata kepadanya, ‘Kami mempunyai sebuah sunnah di dalam hal itu’. Maka Imam Malik berkata, ‘Apakah itu?’ Aku berkata, ‘Al Laits bin Saad dan Ibnu Lahi’ah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al ¬Ma’afiri dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah memberikan hadist kepada kami, ia berkata, ”Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menggosok antara jari-jemari beliau dengan kelingkingnya.” Maka Imam Malik berkata, ‘Sesungguhnya hadist ini adalah hasan, aku mendengarnya baru kali ini.’ Kemudian aku mendengar beliau ditanya lagi tentang hal ini, lalu beliau (Imam Malik) pun memerintahkan untuk menyela-nyela jari-jari.” (Mukaddimah Al-Jarhu wat Ta’dil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33)

☛ Imam Asy-Syafi’i (Imam Mazhab Syafi’i)

Beliau adalah Muhammad bin idris Asy-Syafi’i, dilahirkan di Ghazzah pada tahun 150 H. Beliau rahimahullah berkata,

1. “Tidak ada seorang pun, kecuali akan luput darinya satu Sunnah Rasulullah. Seringkali aku ucapkan satu ucapan dan merumuskan sebuah kaidah namun mungkin bertentangan dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itulah pendapatku” (Tarikhu Damsyiq karya Ibnu Asakir,15/1/3)

2. “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya, hanya karena mengikuti perkataan seseorang.”
(Ibnul Qayyim, 2/361, dan Al-Fulani, hal.68)

3. ”Jika kalian mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berkatalah dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan.” (Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam,3/47/1)

4. ”Apabila telah shahih sebuah hadist, maka dia adalah madzhabku. ” (An-Nawawi di dalam AI-Majmu’, Asy-Sya’rani,10/57)

5. “Kamu (Imam Ahmad) lebih tahu daripadaku tentang hadist dan para periwayatnya. Apabila hadist itu shahih, maka ajarkanlah ia kepadaku apapun ia adanya, baik ia dari Kufah, Bashrah maupun dari Syam, sehingga apabila ia shahih, aku akan bermadzhab dengannya.” (Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj bisy-Syafi’I, 8/1)

6. “Setiap masalah yang jika di dalamnya terdapat hadits shahih dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam menurut para pakar hadits, namun bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku rujuk di dalam hidupku dan setelah aku mati.” (Al-Hilyah 9/107, Al-Harawi, 47/1)

7. ”Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadist Nabi yang bertentangan dengannya adalah hadits yang shahih, maka ketahuilah, bahwa pendapatku tidaklah berguna.” (Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash Al-Mu’addab)

8. “Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam terdapat hadist shahih yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadits nabi adalah lebih utama. Olah karena itu, janganlah kamu taklid mengikutiku.” (Ibnu Asakir, 15/9/2)

9. “Setiap hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka hal itu adalah pendapatku walaupun kalian belum mendengarnya dariku” (Ibnu Abi Hatim, 93-94)

☛ Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Mazhab Hambali)

Beliau Adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal yang dilahirkan pada tahun 164 Hijriyah di Baghdad, Irak. Beliau berkata,

1. “Janganlah engkau taqlid kepadaku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, Tapi ambillah dari mana mereka mengambil.” (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-I’lam, 2/302)

2. “Pendapat Auza’i, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan hujjah itu hanyalah terdapat di dalam atsar-atsar (hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-wr1)” (Ibnul Abdil Barr di dalam Al-Jami`, 2/149)

3. “Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi jurang kehancuran. ” (Ibnul Jauzi, 182).

Demikianlah ucapan para Imam Mazhab. Masihkah kita taqlid buta kepada mereka, atau ittiba’ kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

Abu Alya Al-Marwah via fp nahimunkar.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 773 kali, 1 untuk hari ini)