Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Huuuu, dulu bilang, 3,8 miliar USD itu angka kecil. Deviden Freport per tahun 1 miliar USD. Tiga sampai empat tahun, modal beli saham freeport kelar, selanjutnya freeport bisa kasih untung negara.

Sementara 6 % riba harus dibayar Inalum untuk bayar bunga Global Bond. Lu itung sendiri, dua tahun kali 6 % Kali 3,8 miliar USD. Bisa ditebak berapa beban Inalum, Klo Inalum Ga kuat nanti minta suntik APBN. Atau, akhirnya Inalum dijual lagi dengan modus penjualan saham KS (Krakatau steel). Pejabat beli murah, setelah itu harga pasar memberi keuntungan berlimpah. Ruar biasah sodara.

Yang bikin mules itu, perdebatan beli saham Freeport (baca PI Rio Tinto) belum kelar, belum hilang kontroversi, ibarat galian kuburan tanahnya masih merah. Eh ini, rakyat disuguhi dagelan yang menyesakkan dada. *Deviden freeport tidak dibagi, karena freeport merugi.* Terus, buat apa bayar mahal beli saham perusahaan yang merugi ?

Ayolah, kalian terbuka saja. *Divestasi freeport itu Modus menggarong uang rakyat,* muter-muter, nantinya melego BUMN atau ditalangi APBN karena BUMN ada saham penyertaan negara. *Padahal, itu cari duit bancakan untuk modal Pilpres.*

Modus boleh beda, tapi tujuan tetap sama: garong uang rakyat. Dulu pake modus bail out (kasus century), sebelumnya lagi modusnya keluarkan surat sakti R & D (kasus BLBI), sekarang modusnya pake jurus ‘divestasi saham’. Apa hebatnya, negara yang memeras uang rakyat untuk kepentingan segelintir elit dan melayani kepentingan para penjajah asing dan aseng ?

Sudah dikasih audit BPK Freport merugikan negara 185 T, kok masih ngotot dibeli ? Katanya untung Deviden 1 miliar USD per tahun, ngotot beli, kenapa hingga 2020 Deviden freeport tak bisa dibagi ?

Alih-alih menagih kerugian uang negara 185 T, eh Freport malah dikasih rezeki Nomplok. Dikasih IUPK sampai 2041. Rio Tinto selamat, dari dakwaan publik atas kerusakan hukum lingkungan akibat penambangan Grassberg.

Rakyat dipaksa bertepuk tangan, atas ulah beli rongsokan PI Rio Tinto, dengan harga super mahal, dengan konsekuensi mengambil alih tanggung jawab kerusakan lingkungan. Ini negara dikelola mac-am apa sich ? Itu duit rakyat ? Nantinya rakyat yg tanggung dari APBN ? APBN itu pajak rakyat !

Siapa yang garong modus divestasi freeport ? Jawabnya : siapa yang berkuasa saat ini. Siapa yang mengkhianati kedaulatan bangsa dan negara ? Jawabnya : siapa yang berkuasa saat ini. Siapa yang butuh biaya politik melalui modus freeport ? Jawabnya : siapa yang berkuasa saat ini.

Ini kasus paling telanjang, bohongi rakyat secara kasat mata. Sebelumnya, berkoar akan dapat duit 1 miliar USD per tahun. Belum mingkem omongan pejabat, sekarang meminta permakluman karena freeport rugi defiden tidak dibagi hingga 2020.

Siapa yang jamin 2020 defiden freeport dibagi ? Memangnya rezim memiliki otoritas menentukan keputusan ? Kepemilikan PI Rio Tinto tidak mengubah apapun. Jika di konversi, perlu Rifht Issue, dan memang freeport bodoh ? Serahkan kekuasaan ke Inalum ?

Padahal ini aksi korporasi biasa, kok pake duit BUMN. Beli buntung tanggung resiko rongsokan grassberg. Freeport yang ketawa ketiwi, kucurin duit fee untuk gizi Pilpres, dapat untuk beliung. Duit yg dikasih juga boleh ngasih, jual barang rongsokan lebih mahal, selisihnya untuk biaya fee para pemburu singgasana kekuasaan.

Ini pemboduhan rakyat. Rezim yang melanggengkan penjajahan berdalih kerjasama, harus segera diakhiri. [MO/ge]

Sumber : mediaoposisi.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 896 kali, 1 untuk hari ini)