Di antara perkara yang bisa melembutkam hati dan menjinakkan spirit kemudaan menurut saya- adalah duduk bersama para orang tua, baik keluarga maupun bukan. Terlebih kalau sampai ngaji kitab bareng, dengan bahasa yang disesuaikan dengan kapasitas merakyat. Hati anak muda bisa saja keras disebabkan minimnya porsi duduk bersama para tetua, terlebih jika kebanyakan berselancar di media sosial. Hal ini kerap tidak disadari.

Saya alhamdulillah telah meninggalkan aplikasi android bernama WhatsApp. Dan menemukan ketenangan yang lebih. Yang saya heran adalah, salah satu teman pernah menilai bahwa saya ini ‘hebat’. Lho kenapa? Karena berhasil meninggalkan WhatsApp. Saya heran sejadi-jadinya. Tapi mungkin ketakjuban teman tersebut disebabkan betapa majornya manusia modern sekarang berkegantungan terhadap aplikasi itu. Dikit-dikit pegang HP, cek notifikasi.

Dan malah bagi saya, tingkah semacam itu adalah disaster (musibah). Dan musibah lagi jika diam-diam kita melakukan hal stupid bahkan crazy di aplikasi itu.

Sebagian orang merasa takkan mampu meninggalkan WA, dengan alasan hajat atau darurat. Sebagian mengesankan seolah the show will not go on kalau tidak ada aplikasi itu di HP. Padahal, dalam beberapa kasus, keterlambatan datang ngaji, atau kerja, atau kegagalan fokus pada tugas utama, disebabkan media sosial, atau lebih spesifik: chatting di WA.

Ini pendapat saya berdasarkan pengamatan pribadi terhadap diri sendiri, dan juga makhluk lain selain saya.

Yang boleh kita sadari kadang-kadang: membaca beranda Facebook malah menambah porsi sesak dalam hidup dan menyia-nyiakan banyak waktu. Karena era sekarang tidak seperti era dahulu awal Facebookan, saat banyak teman rajin copas tulisan bermanfaat. Sekarang rajin menilai manhaj orang lain malah atau kasus terupdate yang menambah point keputusasaan terhadap kemajuan umat dan kebaikan tanah air.

Saya dulu mengkritik ahli copas tulisan ilmiah bukan karena apa, melainkan karena ingin rekan-rekan berusaha juga membuat tulisan sendiri yang ada nafas ilmiahnya. Sekarang memang masih ada copasan by some people. Tapi kok tetap terasa sekadar copas?

Sekarang, ada juga Instagram. Copasan semakin bisa disuburkan. Tapi sadarkah kita, bahwa semakin mudah info ilmiah, walau semakin dapat maklumat, tapi semakin mudah juga kita lupa dan semakin besar malah kemungkinan kita tidak mengamalkannya? Itulah itulah.

Saya berharap lebih diri saya lebih ke pendalaman materi melalui beberapa kajian ulama terlebih penyelaman ke beragam perut kitab warisan ulama. Tidak mengandalkan Internet sebagai pencarian utama, tetapi pencarian urutan ke sekian. konsentrasi itu vital sangat kalau kita mau sukses.

Sebagian manusia terutama yang berjiwa pemimpin, memiliki libido memperbanyak program. Dinyana bahwa dengan itu, akan jadi luar biasa. Iya. Zahirnya memang luar biasa. Tapi sadarkah bahwa libido semacam itu jika diikuti, kualitas malah akan dinomorsekiankan? Akhirnya, mereka tidak mendapatkan keuntungan kualitas dan penghayatan buat diri sendiri. Karena bayi yang lahir normal lebih baik dari yang lahir premature. Kita tentu lebih suka menanamkan tanaman yang konsisten tumbuh sampai membesar kuat dibandingkan merangkul sejumlah keperkasaan yang immature.

Hati.

Hati itu penting untuk dilembutkan. Coba ngobrol sama orang-orang tua. Tenaga muda sudah dikuras di banyak waktu, maka perlu istirahat sejenak, pembeningan dan penghangatan. Kehangatan itu seringkali bisa didapatkan pada para senior dari segi umur, yaitu para orang tua, meskipun technically bisa jadi kita lebih pintar dari mereka. Tapi basically, orang-orang tua lebih paham daripada kita. Basically.


Hasan Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 425 kali, 1 untuk hari ini)