.

 

Sering kita dapati kala saudara kita berbagi pengetahuan tentang (perlunya menghindari) amalan2 bid’ah semisal Maulid Nabi, maka ada saja dari kalangan pembela bid’ah yang mencoba untuk menyanggahnya dengan argumen2 yang sangat jauh dari ilmiyah.

Misal, dan ini cukup sering kita temui, yakni berkomentar dalam rangka pembenaran Maulid dengan menampilkan kisah orang yang tiba-tiba kakinya lumpuh karena tidak mau berdiri saat pembacaan sholawat Nabi dalam acara Maulidan.

( Sebentar sebentar, saya ketawa dulu.. )

Ok, kita akan menanggapi kisah tsb, walaupun kisah ini sebenernya sangat sangat lemah untuk bisa dikatakan sebagai argumen :

1. Kisah palsu tersebut disampaikan oleh Syaikh Shufi Alwi Al-Malikiy. Dan, kita para Ahlussunnah insyaa Allaah sudah ma’ruf, siapa tokoh yang satu ini. Seorang Syaikh Shufi yang aqidahnya banyak menyimpang, hidupnya dipenuhi khurafat serta syubhat yang tak berujung pangkal. Sehingga riwayat ini bisa jadi hanyalah igauan dia untuk menipu umat manusia.

2. Taruhlah, sekali lagi taruhlah, bahwa riwayat ini shahih, maka tidaklah serta merta menjadi dalil legitimasi (pembenaran) atas bid’ahnya perayaan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, dalil Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah. Bukan “qiila wa qoola” (katanya-katanya). Bukan hasil mimpi, rekaan imajinasi, apalagi khurafat yang sama sekali tidak ilmiah, bahkan mengarah pada perusakan aqidah dan tauhid.

3. Para generasi terbaik umat ini, mulai dari Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, hingga para Ulama yang mengikuti jejak mereka, tak ada satupun yang merayakan Maulid Nabi. Toh keadaan mereka baik-baik saja. Tidak mengalami kejadian ganjil ini dan itu.

4. Taruhlah kisah si orang lumpuh itu benar, maka itu semua kita yakini sebagai bentuk perbuatan jahat syaithon untuk mencelakakan manusia (dengan seizin Allah), agar dengan kejadian itu syaithon bisa semakin menyesatkan manusia karena mereka kemudian semakin yakin akan “kebenaran” Maulid, dan merasa amat takut akan “kuwalat” jika tidak ikut merayakan Maulid.

5. Itu semua menunjukkan bahwa, memang begitulah kebiasaan dan tradisi kaum awam tersebut dalam beragama; yakni tidak terbiasa bersikap ilmiah, ini ayatnya ini haditsnya. Tapi dalil mereka dalam membangun agama seringnya adalah kisah-kisah khurafat, takhayul, serta mimpi-mimpi yang disebar luaskan oleh tokoh-tokoh, kyai, serta syaikh-syaikh mereka, yang notabene sangat dikultuskan dan diiyakan saja segala ucapan dan perbuatannya.

Adapun kita Ahlussunnah, yang berpegang dengan Manhaj Salaf, alhamdulillah, kita selalu merasa cukup dengan Kitabullah dan hadits Nabi, atsar para Salaf yang sholih, serta bimbingan para Ulama yang teruji dengan ilmu, amal, iman, dan ketaqwaan. Walhamdulillaah.

[Taken and edited from Ust Ammi]

Judul asalnya: Kelucuan Ahlul Bid’ah dalam Berargumentasi

Read more : http://khansa.heck.in/kelucuan-ahlul-bidah-dalam-berargumentas.xhtml

Via: Membedah Bid’ah

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.615 kali, 1 untuk hari ini)