Kehidupan Ulama Rabbani, Syaikh Ibnu Baz (1/3)

 

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah atau lebih dikenal dengan Syaikh Ibnu Baz adalah sosok ulama Rabbani dalam arti sebenarnya. Beliau adalah teladan dalam ilmu dan amal. Ia dicintai berbagai kalangan dan lapisan masyarakat. Bahkan orang-orang yang memusuhi pemikirannya pun kagum dengannya. Dan tidak jarang berkonsultasi tentang suatu permasalahan kepada beliau.

Dalam satu kesempatan, putri beliau, Hindun binti Abdul Aziz al-Baz berkisah tentang kehidupan sang ayah. Sebelum bercerita tentang ayahnya, wanita yang bergelar doktor ilmu syariat dan dosen syariah di Universitas Imam Muhammad bin Suud ini, membuka pembicaraan dengan menyebutkan keutamaan para ulama dan pentingnya mengetahui perjalanan hidup mereka.

Siapakah Ibnu Baz?

Nama beliau adalah Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Baz. Dilahirkan di Riyadh tahun 1330 H. Ia lahir dalam keadaan yatim. Dan diasuh oleh sang ibu yang sangat perhatian padanya. Ibunya selalu menungguinya pulang dari masjid. Kemudian memberi motivasi untuk menghadiri pelajaran. Wejangan sang ibu begitu membekas pada Ibnu Baz kecil. Pernah, di suatu hujan yang amat lebat, Ibnu Baz tetap hadir di kelas. Tidak ada siswa lain selain dia.

Saat berusia 15 tahun, indera penglihatannya mulai melemah. Sampai akhirnya buta total di usia 20 tahun. Musibah yang menimpa Ibnu Baz membuat ibunya bersedih. Ia menangis tatkala ada tetangga yang datang mengunjunginya. Tetangga itu menasihati agar si ibu shalat dua rakaat. Setelah itu berdoa kepada Allah, meminta pada-Nya anugerah bashirah (ilmu) sebagai ganti penglihatan anaknya. Meminta agar Allah menjadikan putranya ulama umat ini. Semoga Allah merahmati dua wanita ini.

Mengisi Hari dengan Ilmu dan Amal

Selama beberapa tahun, Ibnu Baz terlihat selalu bersama Syaikh Muhammad bin Ibrahim alu asy-Syaikh, Grand Mufti Kerajaan Arab Saudi. Kebersamaan itu sangat berpengaruh terhadap cakrawala keilmuan Ibnu Baz. Ia belajar akidah, fikih, hadits, dan ilmu lainnya dari Syaikh Ibrahim. Sang mufti adalah guru yang paling dekat di hatinya dan paling berpengaruh pada jiwanya. Apabila bercerita tentang Syaikh Ibrahim, Syaikh Ibnu Baz hanya mampu menangis. Ia tak sanggup bercerita tentang sang guru.

Selain belajar bersama guru, Syaikh Ibnu Baz juga pandai menata waktu. Ia dikenal sebagai orang yang sangat luar biasa dalam menjaga detik demi detik guliran hari. Waktunya hanya diisi dengan ibadah, bekerja, dan berkhidmat kepada umat. Inilah rutinitas hariannya. Beliau bangun satu jam sebelum subuh. Kemudian shalat tahajjud 11 rakaat. Saat adzan subuh berkumandang, ia bangunkan seluruh penghuni rumahnya. Tidak seorang penghuni rumah pun yang luput.

Setelah menunaikan shalat subuh, ia berdzikir. Kebiasaan yang sama sekali tidak pernah ia tinggalkan. Barulah setelah itu ia memulai majelisnya hingga 3 jam kedepan. Sebuah majelis pengajian yang rutin diadakan 3 kali dalam sepekan. Seusai majelis, beliau pulang ke rumah dan beristirahat 30 menit. Kemudian berangkat ke kantornya, Lajnah al-Ifta (lembaga fatwa).

Di hari-hari lainnya, seusai subuh, Syaikh Ibnu Baz mengisi waktu dengan membaca di perpustakaan rumahnya. Kemudian istirahat sebentar sebelum berangkat ke Lajnah al-Ifta. Dalam perjalanan menuju kantor, murid-muridnya membacakan buku-buku dan makalah ilmiah. Pukul 2:30 siang, beliau pulang ke rumah dan berjumpa dengan orang-orang yang ingin menemuinya. Beliau makan siang bersama mereka, kemudian shalat ashar bersama.

Setelah ashar, kembali murid-muridnya membacakannya sebuah buku, seperti Kitab al-Arba’in an-Nawawiyah, dll. Lalu ia memberikan ta’liq (komentar) terhadap buku-buku tersebut. Kemudian beliau beristirahat selama satu jam. Mungkin, inilah satu-satunya waktu istirahat beliau. Seusai menunaikan shalat maghrib, Syaikh Ibnu Baz menjawab pertanyaan lewat telepon. Ba’da isya, terkadang ada pertemuan atau muhadharah. Jika tidak, beliau dibacakan buku di perpustakaan rumahnya. Atau bertemu dengan orang-orang yang memiliki keperluan, lalu makan malam bersama mereka. Syaikh sangat serius memperhatikan orang yang meminta bantuan kepadanya. Beliau tidak masuk ke kamarnya kecuali pukul 11 malam. Terkadang lebih.

Inilah rutinitas harian Syaikh Ibnu Baz. Setiap hari sepanjang tahun. Hingga beliau wafat.

Rutinitas Tanpa Mengenal Libur

Syaikh Ibnu Baz bekerja selama 60 tahun. Dalam rentang waktu itu, beliau belum pernah mengambil cuti. Beliau tetap bekerja walaupun saat itu hari libur. Bahkan, di hari-hari libur, kadang beliau lebih sibuk.

Beliau bukanlah sosok high profile, walaupun ia seorang pejabat negara. Beliau juga tidak suka ketenaran dan mencari-cari kemuliaan. Bagi orang-orang yang ingin terkenal, tinggi, dan terpandang di hadapan khalayak, beliau mengomentari orang-orang demikian dengan canda, ‘Siapa yang ingin tinggi dipandang orang, naik saja ke atas loteng. Itu cukup insya Allah’.

Hari-harinya hanya ia isi dengan perjuangan dan memenuhi maslahat kaum muslimin.

Safar

Dalam perjalanan safar, Syaikh tidak mengisi waktunya dengan tidur dan ngobrol tak berarti. Saat menempuh perjalanan dengan mobil atau dengan pesawat, beliau meminta dibcakan makalah ilmiah atau buku-buku. Jika tidak beliau membaca Alquran dari hafalannya. Dan beliau juga bersemangat mendengar kabar kaum muslimin.

Syaikh Abdurrahman ad-Dayil menceritakan:

Dulu kami pernah serombongan bersafar dengan al-Allamah asy-Syaikh Ibnu Baz untuk berceramah di suatu daerah antara Jedah dan Madinah. Lalu Syaikh meminta salah seorang di antara kami membaca untuk beliau. Orang-orang mengatakan, “Syaikh, bagaimana kalau sekali ini saja kita tidak membaca? Kita merenungkan tentang ciptaan-ciptaan Allah. Dan menikmati perjalanan”.

Syaikh menjawab, “Ya Allah berilah kami petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Syaikh Ibrahim (salah seorang anggota safar pen.) akan membaca. Dan engkau merenungkan ciptaan-ciptaan Allah. Setelah Syaikh Ibrahim selesai membaca, aku akan mengulanginya untukmu. Dan gantian Syaikh Ibrahim yang merenungkan ciptaan-ciptaan Allah.”

Bersungguh-Sungguh Dalam Setiap Kesempatan

Meskipun Syaikh Ibnu Baz sibuk, banyak orang-orang yang datang hendak bertemu, dan telpon yang tak berhenti berdering, beliau tetap meluangkan waktu melayani pertanyaan. Syaikh Muhammad Musa pernah menghitung, setelah maghrib Syaikh Ibnu Baz menjawab 60 pertanyaan. Sedangkan setelah subuh, beliau melayani setidaknya 40 pertanyaan.

Waktu beliau sangat berkah. Beliau pernah meminta dibacakan sebuah buku di pesawat dari Thaif menuju Riyadh. Terbacalah 60 halaman kitab I’lamul Muwaqqi’in. Padahal saat itu beliau dalam kondisi capek dan ditambah usia yang sudah lanjut. Permintaan membaca buku biasa dilakukan saat kondisi beliau baik. Dan mendengarkan bacaan itu membuat beliau merasa nyaman. Kemudian mampu melanjutkan aktivitasnya.

Sumber: http://mobile.twasul.info/401172/

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Read more https://kisahmuslim.com/5490-kehidupan-ulama-rabbani-syaikh-ibnu-baz-13.html#more-5490

***

Kehidupan Ulama Rabbani, Syaikh Ibnu Baz (2/3)

Potongan-potongan kisah kehidupan Ibnu Baz adalah cerminan kehidupan salaf. Terkadang kita bersedih mendengar orang-orang yang tidak mengetahui kehidupan Ibnu Baz, kemudian berucap buruk tentang beliau. Namun di sisi lain, kita juga tak sepenuhnya menyalahkan mereka. Kadang-kadang kita yang mengaku meneladani mereka menampilkan hal-hal yang jauh dari keteladanan mereka. menampilkan fatwa-fatwa mereka dengan cara yang tidak bersahabat. Berbeda dengan cara beliau ketika menyampaikan. Sehingga orang-orang awam pun menuduh Ibnu Baz seperti kita.

Lemah Lembut dan Lapang Dada

Syaikh Ibnu Baz merupakan sosok yang jauh dari sifat dengki dan hasad. Beliau tidak pernah menilai rendah seorang pun. Di hatinya, setiap muslim itu baik. Ketika ia mengetahui ada seseorang yang menyerukan suatu penyimpangan, atau jatuh pada kekeliruan, beliau mengajak orang tersebut pada hidayah dan jalan kebaikan. Beliau nasihati dengan nasihat yang tulus. Nasihat yang dibangun berdasarkan mau’izhah hasanah. Kadang nasihat itu juga berbentu tulisan. Beliau kirimi surat orang tersebut.

Syaikh Abdul Aziz as-Sadhan pernah bertanya kepada Syaikh Ibnu Baz, “Syaikh, kami melihat Anda dicintai semua lapisan masyarakat; yang muda dan tua, yang kaya dan yang miskin, apa rahasianya? Syaikh tidak menjawab pertanyaanku karena kerendahan hatinya”, kata Syaikh Abdul Aziz as-Sadhan.

Kemudian aku ulangi pertanyaan itu. Beliau menjawab, “Aku tidak membawa rasa benci (tidak suka) pada seorang pun dalam hatiku. Ketika aku mengetahui ada perselisihan di antara dua orang, aku bersegera memperbaiki hubungan keduanya”.

Membantu Masyarakat

Syaikh Ibnu Baz sangat perhatian dan mengambil aksi nyata dalam memenuhi hajat orang-orang yang berkebutuhan. Tentu sesuai dengan kemampuan beliau. Pernah suatu hari wanita Filipina mengirim surat kepadanya. Wanita itu mengaku sebagai seorang janda yang mengurus anak-anaknya yang yatim. Ia tidak punya harta untuk mengurus kebutuhan makan dan minum mereka. Orang-orang menyarankan agar ia mengirim surat kepada Syaikh Ibnu Baz untuk meminta bantuan.

Setelah dibacakan keluhan perempuan tersebut, Syaikh meminta kepada bendahara agar memotong gajinya sebanyak 10.000 Riyal. Lalu diberikan untuk memenuhi keperluan wanita itu dan anak-anaknya.

Kisah lainnya. Ada seorang wanita di selatan Sudan. Ia mengadukan derita ditimpa musibah banjir yang menahun. Banjir itu menyebabkan mereka mengungsi ke perbukitan tanpa ketersediaan makan dan minum. Wanita itu berkata, “Kemudian ada orang yang menolong kami. Ia datang bersama seseorang yang membawa gandum, air, dan makanan. Mereka juga memberi pakaian dan selimut untuk tidur. Kami juga diberi buku-buku tentang akidah yang benar dan buku panduan shalat. Kemudian kami bertanya siapakah yang meminta mereka datang ke sini. Mereka menjawab Syaikh Ibnu Baz. Dialah yang meminta mereka mengurus semua ini. Dan kami tidak menghubungi siapun untuk dimintai pertolongan kecuali beliau”, kata wanita tersebut.

Selain menolong orang-orang miskin, Syaikh Ibnu Baz juga sangat perhatian terhadap mereka yang butuh bantuan non materi. Karena seriusnya perhatian beliau, hingga para pejabat negara yang lain merasa kasihan. Mereka mengatakan, “Jangan Anda terlalu sibukkan diri Anda dengan hal-hal seperti itu”. “Saya hanya menolong. Kalau mereka mendapat jalan keluar, Alhamdulillah. Jika bantuanku tidak berhasil, maka kita telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan”, jawab beliau.

Bantuan non materi yang beliau berikan adalah berupa izin tinggal, kewarga-negaraan, pengadaan bangunan kantor, dan mengeluarkan seseorang dari penjara. Beliau pernah menghubungi Raja Abdullah rahimahullah, yang ketika itu masih menjabat putra mahkota, agar menyampaikan kepada Raja Fahd rahimahullah, untuk menghubungi kepala negara Somalia. Beliau meminta agar 10 orang da’i di Somalia dibebaskan dari hukuman mati yang akan dilangsungkan esok hari. Alhamdulillah, eksekusi terhadap 10 orang tersebut dibatalkan. Dan dua tahun kemudian mereka dibebaskan dari penjara.

Beliau juga pernah menghubungi Raja Yordania, menjelaskan tentang kedudukan Syaikh al-Albani yang tinggal di sana. Raja pun menerima nasihat beliau.

Bapak Orang-Orang Miskin

Syaikh Ibnu Baz adalah seorang yang tawadhu. Beliau mencitai fakir dan miskin. Tidak ada rasa sungkan bagi mufti agung kerajaan ini untuk duduk-duduk bersama orang tak punya. Pernah seorang utusan datang dan mengatakan, “Seandainya Anda menyediakan majelis khusus dan majelisnya orang-orang umum”.

Mengetahui ucapan tersebut Syaikh Ibnu Baz berkata, “Kasihan orang ini. Ia tidak merasakan nikmatnya duduk bersama orang-orang fakir dan miskin. Siapa yang ingin duduk (di majelis), silahkan duduk. Siapa yang tidak mau, maka tidak ada yang memaksanya.”

Pernah juga ada yang berucap, “Syaikh, seandainya Anda letakkan telepon (dari melayani pertanyaan masyarakat) dan memberi perhatian kepada para pejabat yang berkunjung. Karena pertanyaan orang-orang tiada henti. Nanti ada yang menggantikanmu menjawab pertanyaan”.

“Siapa yang memerlukan, maka aku letakkan telingaku di telepon. Kudengarkan aduannya. Meletakkan telepon (tidak lagi menjawab pertanyaan karena ada pengganti), ini bukanlah cara yang tepat. Orang-orang memandang, pertanyaan-pertanyaan mereka adalah sesuatu yang sangat penting bagi mereka”, jawab Syaikh.

Syaikh adalah seorang yang sangat lemah lembut. Banyak orang-orang datang dari berbagai penjuru untuk menemuinya. Di antara mereka ada yang menginap di rumahnya selama satu bulan. Bahkan ada yang bertahun-tahun. Hingga urusannya selesai. Beliau sama sekali tidak pernah marah pada mereka. Malah selalu berbuat baik.

Beliau rendah hati dengan anak-anak kecil. Bersenda gurau dengan mereka. Bermain dan bertanya sesuai dengan umur anak-anak itu. Terhadap anak yang masih kecil, beliau bertanya, “Siapa Rabbmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu?” Jika si anak tak bisa menjawab, maka beliau dik-tekan padanya.

Orang-orang mengenalnya sebagai penebus hutang. Banyak orang yang beliau bebaskan dari hutang. Sampai-sampai sebelum wafat, ia menebus dan membaskan banyak orang dari hutang. Ia pernah memerintahkan sekretarisnya mencatat, dirinya menanggung hutang seseorang berjumlah 700 ribu Riyal. Sekretarisnya menanggapi, “Semoga Allah melipat-gandakan balasan. Tidak ada lagi harta yang tersisa untuk dihisab”.

Mendengar ucapan sekretarisnya, beliau menanggapi, “Wahai anakku, jangan khawatir tentang dunia. Aku telah berumur 87 tahun. Dan kulihat semua yang dari Rabbku adalah kebaikan. Ada orang yang wafat dengan hisab 100 juta. Ada orang yang wafat tidak ada lagi harta tersisa untuk dihisab. Hisab adalah sesuatu yang berat”.

Anak-Anak Dalam Kehidupan Ibnu Baz

Syaikh Ibnu Baz meninggalkan kesan yang istimewa bagi anak-anaknya. Jika duduk bersama putra dan putrinya, beliau penuh kasih dan akrab. Ia bertanya tentang masalah-masalah tauhid. Masalah nahwu (gramatika bahasa Arab) dan juga i’rabnya.

Kesan istimewa yang dimilikinya adalah kezuhudan, rahimahullah. Dia memegang banyak jabatan: ia seorang menteri dan memimpin banyak dewan fikih. Sekretarisnya mengatakan, “Syaikh tidak pernah bertanya tentang gajinya. Berapa nilainya. Dan kapan gajian. Beliau tidak pernah berbicara tentang kepentingan bisnis. Tapi infaknya adalah infak seorang yang tak takut miskin. Beliau benci bicara tentang urusan yang murni kepentingan dunia. Tentang perlengkapan rumah dan properti”.

Salah seorang anggota keluarganya mengatakan, “Rumah ini menjadi sempit karena banyaknya tamu”. “Allahul musta’an.. dunia “bau”. Yang seperti inilah yang berkah”, jawab beliau.

Read more https://kisahmuslim.com/5494-kehidupan-ulama-rabbani-syaikh-ibnu-baz-23.html

***

Kehidupan Ulama Rabbani, Syaikh Ibnu Baz (3/3)

Salah satu ujian terberat orang yang berilmu adalah bujuk rayu ketenaran. Mengharap penghormatan. Dan merasa lebih dari yang lain. Para salaf sangat benci ketenaran dan menghindarinya. Kepribadian ini kita jumapi juga pada diri Syaikh Ibnu Baz.

Membenci Pujian

Al-alamah Ibnu Baz membenci pujian dan sanjungan. Ia tidak suka orang-orang membacakan syair pujian untuknya. Ia tegur orang yang membacakan syair padanya. Ada juga yang mengirim surat untuknya dibuka dengan puja-puji. Ia katakana, “Tinggalkan (tak usah baca) bagian pengantarnya. Langsung saja baca inti surat itu. Aku tidak suka mendengar pujian”. Air muka beliau berubah kala mendengar pujian. Sering beliau berucap ketika mendengarnya, “Allahul musta’an (Allah tempat meminta pertolongan). Allahu yatub ‘alaini jami’an (semoga Allah menerima taubat kita semua). Wa yusta’miluna wa iyyakum fima yurdhihi (semoga Allah menunjuki saya dan Anda semua pada apa yang diridhai Allah)”.

Pernah ada seorang kaya datang ke majelis Syaikh Ibnu Baz. Orang tersebut berbicara tentang nikmat yang ia punya. Ia bercerita bahwa dirinya adalah pebisnis. Propertinya senilai 45juta Riyal. Syaikh langsung mengomentari, “Engkau sudah memiliki 45 juta, apalagi yang kau tunggu? Jual itu dan sumbangkan untuk kebaikan. Jika tidak, berikan saja padaku. Aku akan menyalurkannya pada kegiatan yang baik”. Dan orang tersebut pun diam.

Kedermawanan Syaikh Ibnu Baz tidak hanya pada harta dan hal-hal yang bersifat materi. Beliau juga dermawan pada waktunya. Waktunya dipergunakan untuk kebaikan umat. Siapapun yang mengucapkan salam menyapanya, akan beliau undang makan di rumah. Tidak ada kekhawatiran dan prasangka buruk dengan orang tersebut. Beliau memerintahkan pegawai di rumahnya agar membeli sesuatu dengan kualitas terbaik dari pasar: buah, sayuran, makanan, dan kurma. Sehingga meja makannya dipenuhi hidangan terbaik untuk orang-orang yang ia undang makan.

Pergaulan Dengan Masyarakat

Semua orang yang hadir di majelis Ibnu Baz, pasti beliau undang untuk makan bersama. Ia bukanlah orang yang biasa menikmati makanannya seorang diri. Kecuali saat berbuka puasa, beliau makan sebentar kemudian melanjutkan kegiatan.

Tidak pernah tersirat perasaan sempit dan berat di hatinya dengan kunjungan orang-orang. Kapanpun dan berapapun jumlah mereka tidak masalah. Dalam satu kesempatan menjelang buka puasa Ramadhan, hampir 50 orang datang ke jamuannya. Beliau sambut tamu-tamu itu dengan hangat. Tidak ada rasa sempit karena kehadiran mereka.

Kadang gajinya habis karena kedermawanannya. Bahkan beliau sampai berhutang karena banyaknya tamu yang datang untuk dijamu. Namun beliau tidak pernah merasa berat dan menggerutu.

Dalam sebuah rubrik Ramadhan di sebuah surat kabar, Prof. Yunahar Ilyas, ketua pimpinan pusat Muhammadiyah dan wakil ketua umum MUI pusat, juga pernah mengisahkan kekagumannya dengan cara Syaikh Ibnu Baz menjamu tamunya. Beliau lihat sosok ulama dan pejabat tinggi negara yang begitu rendah hati dan membaur dengan masyarakat umum.

Bersama Keluarga

Hindun binti Abdul Aziz al-Baz bercerita tentang sosok ayahnya di tengah-tengah keluarganya:

Dengan kesibukan dan padatnya rutinitas, Syaikh Ibnu Baz tidak melupakan keluarganya. Ia duduk bersama keluarga dengan penuh cinta. Menjawabi pertanyaan mereka dengan lapang dada.

Beliau orang yang sangat adil terhadap istri-istri dan anak-anaknya dalam jadwal menginap. Dan senantiasa memenuhi kebutuhan mereka. Tidak pernah sama sekali beliau meninggikan suara di tengah-tengah kami. Tidak pernah. Ia juga tidak pernah marah kecuali jika ada anak-anaknya yang tidak sempurna dalam penunaian shalat. Atau mengakhirkan dari waktunya. Dan hal-hal lain terkait permasalahan akhirat.

Apabila beliau bersafar ke Mekah atau Thaif, tidak lupa beliau menelpon keluarganya. Memberi kabar kepada mereka. Bertanya tentang keadaan semua anggota keluarga hingga ke cucu-cucunya. Beliau adalah orang yang baik dan sangat penyayang, semoga Allah menyayanginya.

Salah seorang saudaranya yang paling ia perhatikan adalah Muhammad rahimahullah. Ia sering ngobrol dengannya, mereka dekat, dan ayah suka mengunjunginya.

Hal yang menarik dan mungkin bisa kita tiru di rumah, Syaikh Ibnu Baz membuat majelis pengajian khusus untuk anggota keluarga. Untuk anak-anak perempuan ada pengajian dua kali sebulan. Demikian juga untuk anak laki-laki. Anak-anaknya membaca, kemudian beliau memberi penjelasan. Kadang beliau mendengar pendapat-pendapat mereka. Keadaan ini terus berlangsung sampai akhirnya beliau sangat tersibukkan dengan tugasnya. Lalu jadwal tersebut tidak lagi terjadwal runut. Kegiatan pengajian di rumah biasanya dimulai setelah ayah pulang dari masjid seusai maghrib, kemudian shalat sunah di rumah. Sambil menikmati kopi, beliau memulai pengajian.

Beliau menyampaikan nasihat-nasihat yang melembutkan hati. Dan terkadang dengan penyampaian tidak secara langsung. Misalnya, beliau pernah menasihati salah seorang putrinya, “Orang-orang mengatakan, tidak ada paduan yang lebih enak daripada makan kurma sambil minum kopi. Engkau, anakku, bagaimana pendapatmu?” Anaknya menjawab dengan contoh serupa, perpaduan makanan dan minuman. Lalu beliau menyanggahnya, “Tidak. Bukan itu yang kumaksud. Tidak ada perpaduan yang lebih baik kecuali berpadunya iman dan amal shaleh”.

Sampai hal seperti ini pun beliau perhatikan. Beliau biasakan anak-anaknya dengan paradigma akhirat. Syaikh sering mengingatkan agar anak-anaknya memadukan iman dan amal shaleh. Karena dua hal itu sebab sukses dan berhasilnya seseorang di akhirat kelak.

Beliau juga pernah bertanya pada putrinya yang sedang duduk di bangku SMA. Ia berkata, “Adakah faidah dari pelajaran atau buku yang mau kau bacakan untukku?” Saat itu putrinya sedang memegang buku Fisika. Lalu ia membacakan kepada ayah kami muqaddimah dari buku itu, “Dari mataharilah kehidupan kita. Kalau bukan karena matahari, tidak akan tumbuh tanaman. Dan tidak akan turun hujan”.

Ayah bertanya, “Apakah kalimat itu benar-benar tertulis dalam buku?” Kemudian ia perintahkan anaknya untuk mengambil kertas, dan mengatakan, “Tulislah! Sesungguhnya matahari diciptakan oleh Allah. Dialah yang menundukkan matahari untuk hamba dan negeri-negeri. Ia merupakan di antara makhluk Allah. Tidak boleh menisbatkan pada matahari dan selainnya sebagai sebab tumbuhnya tanaman dan turunnya hujan. Ini adalah kesyirikan”.  Kemudian beliau membaca ayat:

وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ وَالنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya).” (QS:An-Nahl | Ayat: 12).

Kemudian ia menyurati kepala sekolah madrasah perempuan agar memperhatikan kurikulum. Dan menunjuk seorang yang berilmu untuk mengoreksi buku-buku. Beberapa waktu berlalu, buku-buku pun mengalami perubahan. Dan penerbit mengutip kalimat Syaikh Ibnu Baz sebagai pengantar.

Menghafal dan Mengulangi Pelajaran

Syaikh Ibnu Baz adalah seorang pakar dalam ilmu hadits. Beliau menghafal kutubus sittah (enam buku utama yang memuat hadits-hadit Nabi): Shahih al-BukhariShahih MuslimSunan an-Nasa’iSunan Abu DawudSunan at-Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah. Tidak hanya menghafal haditsnya, beliau juga menghafal periwayat-periwayatnya dan ilal (sebab yang tersembunyi yang merusakkan kualitas hadist).

Masya AllahShahih al-Bukhari saja terdiri dari ratusan hadits. Dalam kekurangannya beliau bisa menghafal itu semua. Ditambah kitab-kitab hadits selain Shahih al-Bukhari beserta nama-nama periwayatnya. Oleh karena itu, sebelum menjadi Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, pernah bertemu dan mencium kening Syaikh Ibnu Baz. Ia menceritakan kekagumannya akan hafalan Syaikh Ibnu Baz di tengah kekurangannya (buta).

Salah seorang pelajar hadits pernah menyebutkan sanad sebuah hadits bahwa hadits tersebut ada dalam Sunan ad-Daruquthni. Lalu Syaikh berkomentar, “Menurutku, ini bukanlah rijal-nya ad-Daruquthni”. Muridnya pun mengoreksi, “Iya Syaikh, ini ternyata rijal-nya ad-Darimi. Bukan ad-Daruquthni”. Ini menunjukkan detilnya hafalan beliau.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan Syaikh Abdullah al-Jibrin rahimahumallah pernah mengatakan, “Syaikh Ibnu Baz melebihi kami dalam hadits. Beliau lebih mengetahui rijal-rijalnya dan ilal-ilalnya. Juga shahih dan dhaifnya.

Wafatnya Sang Ulama Rabbani

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah wafat pada tahun 1420 H. Jenazah beliau dishalatkan di Masjid al-Haram. Hampir satu juta orang hadir menyalatkan jenazahnya. Kaum muslimin sangat bersedih dengan kepergian beliau. Semoga Allah merahmati dan mengampuninya. Dan menempatkannya di kedudukan yang tinggi. Serta membalas jasa-jasanya dengan balasan kebaikan.

Video prosesi shalat jenazah dan pemakaman Syaikh Ibnu Baz rahimahullah

Sumber:
– http://mobile.twasul.info/401172/

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Read more https://kisahmuslim.com/5497-kehidupan-ulama-rabbani-syaikh-ibnu-baz-33.html

(nahimunkar.org)

(Dibaca 95 kali, 1 untuk hari ini)