Ilustrasi : Korban Tewas Penembakan Masjid Selandia Baru(internasional.kompas.com)


Oleh : Dr. Slamet Muliono*

Allah berkuasa membuka atau menutup hati manusia dalam merespon kebenaran. Orang-orang beriman senantiasa membuka diri dan senang ketika mendengar berita kebenaran, sebaliknya Allah justru menutup pintu hati orang-orang yang memiliki kebencian terhadap kebenaran. Allah memberi ganjaran kepada orang-orang yang menerima kebenaran. Sebaliknya, Allah secara terbuka menginformasikan bentuk siksaan terhadap orang yang ragu dan membenci kebenaran. Siksaan yang pedih dan menyakitkan itu sepadan dengan kebencian yang mendalam dalam menolak kebenaran.

Kebencian Para Penolak Kebenaran 

Orang-orang kafir menolak kebenaran yang dibawa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Penolakan itu disebabkan oleh dua hal, ketidaktahuan dan kedengkian. Ketidaktahuan itu akan sirna dan berubah mengakui kebenaran ketika informasi itu sampai kepadanya. Namun sebaliknya, ketika ada kedengkian, maka informasi itu justru semakin menambah kualitas kebencian sehingga menggerakkan dirinya untuk mencegah kebenaran itu sampai kepada orang lain. Hal ini disampaikan Allah melalui firman-Nya yang berbunyi :

 أَمۡ يَحۡسُدُونَ ٱلنَّاسَ عَلَىٰ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۖ فَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ ءَالَ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَءَاتَيۡنَٰهُم مُّلۡكًا عَظِيمٗا

Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang telah diberikan Allah kepadanya? Sungguh, Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepada mereka kerajaan (kekuasaan) yang besar. (QS. An-Nisa’: 54)

Allah menunjukkan adanya kedengkian merupakan pokok dan pangkal penolakan terhadap hidayah yang muncul. Kisah keberhasilan Ibrahim yang mendapatkan kekuasaan yang besar merupakan contoh setelah mengalami penolakan yang luar biasa dari raja Namrud. Namrud begitu gigih menolak kebenaran yang dibawa Ibrahim, tetapi Allah memberikan karunia kepadanya, hingga Allah meruntuhkan Namrud dan memuliakan Ibrahim dan menobatkannya  sebagai tokoh besar. Sedemikian besar jasa Ibrahim hingga beliau terkenal dan dijadikan panutan kaum Yahudi dan Nasrani.

Bahkan Allah menggambarkan kedengkian melahirkan sejumlah upaya penghadangan agar kebenaran tidak sampai pada orang lain. Penghadangan terhadap kebenaran dilakukan dimulai dengan cara yang halus hingga cara yang kasar dan tak beradab. Cara yang halus dilakukan dengan mendatangi kaum muslimin agar meninggalkan ajaran Islam dan kembali kepada ajaran nenek moyang. Adapun cara yang tak beradab mulai dari mencaci dan memaki untuk menghinakannya hingga membunuh untuk memberi pelajaran bagi orang-orang yang mencoba untuk mengikutinya. Allah menarasikan cara-cara yang keji itu sebagaimana firman-Nya :

فَمِنۡهُم مَّنۡ ءَامَنَ بِهِۦ وَمِنۡهُم مَّن صَدَّ عَنۡهُۚ وَكَفَىٰ بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا

Maka di antara mereka (yang dengki itu), ada yang beriman kepadanya dan ada pula yang menghalangi (manusia beriman) kepadanya. Cukuplah (bagi mereka) neraka Jahanam yang menyala-nyala apinya. (QS. : An-Nisa’ : 55)

Apa yang terjadi di New Zealand, dimana seorang teroris bernama Brenton Terrant melakukan pembunuhan secara kejam dengan mendatangi masjid dan menembak kaum muslimin. Dia begitu tenang membunuh kaum muslimin yang sedang menuaikan shalat jum’at. Dalam tragedi itu 50 an kaum muslimin meninggal dunia. Dunia langsung mereaksi dan mengutuk aksi brutal itu.

Ketika dunia mengutuk aksi itu, ternyata masih ada saja pembelanya. Bukannya berempati terhadap korban tetapi seorang senator bernama Fraser Anning justru menyalahkan umat Islam. Dia ingin menunjukkan bahwa aksi tembak itu dipicu oleh adanya imigram muslim radikal ke negara Selandia Baru. Sehingga dia seolah membenarkan aksi Brenton Terrant itu. Inilah cara pandang orang kafir terhadap kaum muslimin. Dengan kata lain, orang-orang kafir yang menghalangi manusia dari jalan Allah itu begitu mudah membunuh orang-orang yang meniti di jalan Islam, dan penghalang jalan Islam itu dibela orang sesamanya.

Perilaku dan sikap orang kafir memiliki kecenderungan untuk menghalangi manusia agar tidak mengikuti petunjuk agama Islam. Maka pantas apabila Allah mengancam orang yang menghalangi kebenaran ini dengan ancaman berupa siksaan api neraka. Mereka ditempatkan di neraka Jahannam dan disiksa dengan siksaan yang amat menghinakan dan menyakitkan. Hal ini termaktub sebagaimana di dalam firman-Nya :

 إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا سَوۡفَ نُصۡلِيهِمۡ نَارٗا كُلَّمَا نَضِجَتۡ جُلُودُهُم بَدَّلۡنَٰهُمۡ جُلُودًا غَيۡرَهَا لِيَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمٗا

Sungguh, orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab. Sungguh, Allah Maha-perkasa, Mahabijaksana. (QS. An-Nisa’ : 56)

Disinilah Allah menunjukkan keadilan-Nya dengan membalas siapapun yang membenci Islam dan membuat makar. Orang yang dengki dan dengan sadar merencanakan untuk menghalangi manusia dalam menjalankan kebenaran, maka Allah menyiksanya dengan siksaan yang menyakitkan yakni dengan menguliti kulitnya. Setelah menguliti bukannya berhenti dan selesai hukumannya, tetapi memulihkan kembali kulitnya, dan kemudian mengulitinya kembali. Hukuman seperti ini akan dialami oleh mereka yang tertanam kebencian di dalam dadanya, dan ingin menghadang kaum muslimin agar terhalang dari hidayah Allah. Inilah bentuk penghinaan Allah terhadap para pembenci dan penghasut Islam.

*Penulis adalah Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya & Direktur PUSKIP (Pusat Kajian Islam dan Peradaban)

Surabaya, 26 Maret 2019

(nahimunkar.org)

(Dibaca 687 kali, 1 untuk hari ini)