خطر الطائفة النصيرية

الشيخ أمين بن عبد الله الشقاوي

Syaikh  Amin bin Abdullah asy-Syaqawi

.

Kejahatan Kelompok Nushairiyah?

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada RasulAllah. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya, dan aku juga bersaksi bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusanNya. Amma ba’du:

Sesungguhnya musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir tak henti-hentinya mereka membikin tipu daya serta rencana busuk siang dan malam guna menghabisi Islam dan para pemeluknya.

Diantara salah satu rencana busuk tersebut ialah menumbuhkan aliran-aliran sesat di negeri-negeri kaum muslimin, hingga akhirnya melemahkan barisan kaum muslimin dan dapat menguasai kekayaannya serta menjauhkan mereka dari ajaran agama serta tatanan etika yang sudah dipegangi. Hal itu tidaklah aneh karena jauh-jauh hari sudah disinggung oleh Allah ta’ala melalui firmanNya:

{وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا} [البقرة: 217]

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup”.  (QS al-Baqarah: 217).

Dan diantara firqah sempalan bikinan para penjajah ini yang mereka tanam di negeri-negeri Islam adalah firqoh Nusairiyah, inilah firqoh Bathiniyah yang paling busuk.

Maka pada pada kesempatan kali saya akan menyebutkan beberapa keyakinan mereka, misi, awal perkembangannya serta bahaya mereka terhadap Islam dan kaum muslimin, sebagai peringatan dan penambah pengetahuan kita.

Sejarah singkat firqoh ini:

Nushairiyah adalah paham yang mengikuti Muhammad bin Nushair  an-Numairi, dan dinamakan  Nushairiyah dengan nama ini penisbatan padanya.

Mereka adalah kelompok Syi’ah yang paling ekstrim. Dimana mereka sampai pada tingkatan menuhankan Ali bin Abi Thalib, dan kelompok ini telah keluar dari pemahaman dua belas imam yang diyakini oleh Rafidhah.

Perkembangannya:

Tatkala al-Hasan al-Askari meninggal yang diklaim oleh kalangan Rafidhah sebagai imamnya yang ke sebelas, maka berkumpul orang-orang yang berhaluan keras dari kelompok yang menisbatkan dirinya pada Rafidhah, lantas mereka membikin berita dusta kalau imamnya ini mempunyai seorang anak yang bersembunyi di bangunan bawah tanah didalam rumahnya Samara, yang kelak akan keluar sebagai imam setelahnya. Kemudian sekelompok orang Syi’ah, yang tiap orangnya mengklaim bahwa imam ini yang sembunyi di bangunan bawah tanah, menurut keyakinan mereka, akan menjadi perantara dengan Syi’ah.

Dan diantara salah satu yang berada dalam kelompok ekstrim ini adalah Muhammad bin Nushair yang dinamakan pengikut setelahnya dengan Nushairiyah, penisbatan padanya. Maka semenjak itu awal perkembangan mereka.

Nama-nama lain kelompok ini:

Pada awal pertumbuhannya mereka menamakan dirinya dengan Numairiyah, selanjutnya mereka mengganti dan menamakan dirinya Nushairiyah, yaitu semenjak ditinggal mati oleh syaikh pertamanya mereka. Dan mereka juga menamakan dirinya dengan orang-orang yang beriman. Sedang di saat Prancis menjajah negeri Syam, pada kurun itu mereka menamakan dirinya dengan Uluwiyin.

Markas dan tempatnya:

Sekarang Nushairiyah bertempat di pegunungan Ladzaqiyah dan sekitarnya, Hams di Suriah, Iskandariyah, Thurtus, Adnah atau Athanah, masuk dalam kawasan Turki sekarang ini, dan di Kurdistan serta negeri-negeri lainnya.

Pecahan mereka:

Golongan Nushairiyah terbagi menjadi empat kelompok:

  1. Al-Haidariyah. Nisbat kepada Haidar salah satu julukan Ali bin Abi Thalib.
  2. asy-Syimaliyah. Diambil dari keyakinan mereka yang mengatakan kalau Ali tinggal di matahari. Di namakan pula mereka dengan kelompok Syamsiyah.
  3. al-Kulaziyah atau al-Qomariyah. Karena keyakinan mereka bahwa Ali tinggal di dalam bulan.
  4. al-Ghaibiyah. Karena keyakinan mereka yang mengatakan bahwa Allah dulu nampak kemudian menghilang. Adapun pada zaman ini maka berada pada zaman Ghaibiyah. Dan mereka menetapkan  bahwa al-Ghaib adalah Allah yang tidak lain dia adalah Ali.

Maka jawaban untuk ini semua adalah firman Allah tabaraka wa ta’ala:

 

{كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا } [الكهف: 5]

 “Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta”.  (QS al-Kahfi: 5).

Dan dalam hal ini tidak ada perbedaan mencolok antara kelompok-kelompok pecahan ini dalam pokok aqidah bathiniyahnya, seperti menuhankan Ali, penitisan ruh, serta menitisnya tuhan ke tubuh makhluk. Perbedaan mereka hanya pada kediaman Ali, sebagian mereka menjadikan kediamannya di bulan dan sebagian lain berada di matahari.

Tokoh pembesar kelompok ini:

Yang pertama ialah pendiri kelompok Nushairiyah ini yaitu Muhammad bin Nushair an-Numairi. Yang kemudian diteruskan pimpinan madhzhab ini oleh Muhammad bin Jundub. Selanjutnya dipegang oleh al-Husain bin Hamdan al-Khushaibi yang merupakan syaikh terbesar, yang pernah ada di kalangan Nushairiyah.

Pokok aqidah mereka:

Kalau bisa disimpulkan, pokok aqidah mereka terbagi menjadi beberapa hal, diantaranya:

  1. Menurut keyakinan mereka Ali bin Abi Thalib adalah tuhan yang sekarang tinggal di awan. Halilintar adalah suaranya, sedang kilat adalah tawanya. Dengan keyakinan seperti ini mereka mengagungkan awan. Bahkan ada diantara mereka yang meyakini kalau Ali sekarang tinggal di bulan atau di matahari -sebagaimana telah lewat-.
  2. Menitisnya arwah yang merupakan aqidah pokok dikalangan mereka. Maka orang-orang yang tidak mau menuhankan Ali, mereka akan dilahirkan kembali setelah kematiannya, menurut klaim mereka, dengan rupa onta dan keledai. Adapun orang yang beriman, yaitu mereka yang mau menyembah Ali, maka mereka akan menitis selama tujuh kali kemudian setelah itu baru mengambil tempat tinggalnya yang berada diantara bintang-bintang, sedang orang yang menyimpang di kalangan mereka maka akan terlahir kembali sampai dirinya suci atau terhapus kejelekannya.
  3. Mengingkari adanya hari kebangkitan, hari kiamat, adanya surga dan neraka, dan pernyataan akan kekalnya dunia, sebagaimana keyakinan orang-orang zindik dari kelompok Dahriyah.

Ibadah serta rukun Islam mereka:

Pertama: Syahadatnya mereka adalah isyarat yang terkumpul pada huruf ‘ain, mim, dan sin. Yang merupakan singkatan dari nama tiga orang yaitu Ali, Muhammad, dan Salman. Dan ini lebih mirip dengan aqidah trinitasnya orang-orang Nashrani.

Kedua: Sholat lima waktu di sisi mereka adalah ungkapan dari lima nama, yaitu: Ali, Hasan, Husain, Muhammad dan Fathimah.

Dan hanya dengan menyebut nama lima orang ini, menurut mereka, itu sudah mencukupi dari mandi janabah, wudhu dan perkara-perkara lain dari syarat-syarat dan kewajiban sholat.

Ketiga: Zakat, mereka lambangkan dengan kepribadiannya Salman.

Keempat: Puasa, menurut mereka adalah menjaga rahasia yang berkaitan dengan tiga puluh orang laki-laki dikalangan mereka, yang disamakan dengan hari-hari Ramadhan, dan tiga puluh wanita, yang semisal dengan malam-malam Ramadhan.

Kelima: Jihad di sisi mereka adalah memberi laknat terhadap musuh. Mereka mengatakan: ‘Bahwa dedengkotnya Iblis itu adalah Umar bin Khatab, kemudian berikutnya adalah Abu Bakar, lalu Utsman radhiyallahu ‘ajmain…. Dan lain sebagainya dari keyakinan-keyakinan sesat mereka.

Kejelekan mereka:

Nushairiyah ini adalah orang-orang yang menghalalkan khamr dan zina, mereka mempunyai malam khusus yang mereka jadikan untuk acara campur baur bersama laki dan perempuan.

Mereka begitu mengelu-elukan Abdurahman bin Muljam pembunuh Amirul mukminin Ali Bin Abi Thalib. Dan mendo’akannya, karena keyakinan mereka bahwa hal tersebut sama dengan mengakhiri masa transisi Ali dari tabiat manusia menjadi tuhan. Sehingga mereka menjelekkan orang-orang yang melaknat Ibnu Muljam tersebut.

Nushairiyah dalam sejarah:

Sejarah mereka banyak dipenuhi dengan makar dan tipu daya terhadap kaum muslimin, dan mereka seringkali bersama barisan musuh-musuh Islam untuk melawan kaum muslimin, sebagaimana yang terjadi pada masa penjajahan Tartar manakala mereka menyerbu negeri-negeri Islam. Mereka sama seperti disinggung oleh Allah dalam firmanNya:

{لَا يَرْقُبُونَ فِي مُؤْمِنٍ إِلًّا وَلَا ذِمَّةً} [التوبة: 10]

“Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian”.  (QS at-Taubah: 10).

Sungguh kita melihat, mendengar dan membaca melalui media masa apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita ahlus sunnah di negeri Syam, dari mulai dibunuh oleh mereka, di penjara, disiksa, dirobek kehormatannya, merobek-robek al-Qur’an, menghancurkan masjid, yang semua itu dilakukan oleh penguasa Nushariyah sang pendendam.

Adanya pembantaian kaum muslimin di penjara Tadmar dan Hamah serta lainnya, yang ada di negeri Syam, lebih dari puluhan ribu yang terbunuh dari kaum muslimin, maka itu sebagai bukti terbesar akan kejahatan mereka yang sangat bengis dan sadis, serta dengkinya mereka terhadap Islam dan kaum muslimin.

Dan para ulama Islam telah bersepakat akan kafirnya kelompok Nushairiyah ini, bahwasannya tidak boleh menikah atau menikahkan dengan mereka, haram sembelihan mereka, dan mayat mereka tidak boleh dikubur di pekuburan kaum muslimin.[1]

Bahkan dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Mereka itu lebih kafir dari pada Yahudi dan Nashrani, bahkan kekafiran mereka melebihi kekafirannya kaum musyrikin. Dan bahaya mereka terhadap umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam itu lebih besar dari pada kerusakan yang di timbulkan oleh orang-orang kafir yang menyerang negeri Islam, semacam Tatar dan bangsa Eropa serta yang lainnya.

Sesungguhnya mereka menampakan terhadap orang-orang bodoh di kalangan kaum muslimin dengan bermadzhab Syi’ah dan mencintai ahli bait, namun, pada kenyataanya mereka adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, Rasul, dan KitabNya, tidak pula beriman kepada perintah, larangan, ganjaran, siksa, surga dan neraka. Mereka juga tidak beriman kepada seorangpun dari kalangan Rasul sebelum nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula beriman dengan satu pun agama dari agama-agama terdahulu.

Mereka sebagaimana dikatakan oleh para ulama: “Luarnya bermadzhab Rafidhah akan tetapi dalamnya adalah murni kafir. Maka tidak halal bagi seorang pun dari kalangan kaum muslimin untuk menyembunyikan berita dan identitas mereka yang dia ketahui. Namun, hendaknya dia beberkan serta buka aibnya sehingga kaum muslimin mengetahui tentang hakekat mereka sebenarnya.

 Dan tidak boleh bagi seorang untuk diam untuk mengerjakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan RasulNya. Demikian pula tidak boleh bagi seseorang untuk mencegah orang yang membongkar aib mereka, sesuai perintah Allah dan RasulNya. Karena sesungguhnya ini merupakan pintu terbesar untuk mengerjakan amar ma’fur dan nahi mungkar, berjihad di jalan Allah serta tolong menolong dalam kebaikan demi membongkar kejelekan mereka dan sebisa mungkin memberi petunjuk kepada mereka. Karena di dalamnya mengandung pahala dan ganjaran yang sangat besar, yang tidak diketahui selain oleh Allah ta’ala, sebagaimana diperintahkan oleh Allah ta’ala dalam firmanNya:

{كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ} [آل عمران: 110]

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar”. (QS al-Imran: 110).

Pada kesempatan lain beliau (Ibnu Taimiyyah) mengatakan: “Adapun kelompok yang terkutuk ini mampu menguasai sebagian besar dari negeri-negeri Syam. Dan mereka masyhur dan dikenal serta menampakan dengan madzhab ini.

Telah terbukti bagi siapa saja yang pernah bergaul bersama mereka sehingga mudah diketahui oleh orang-orang Islam yang berakal serta para ulamanya, serta dapat diketahui oleh kebanyakan orang pada zaman ini.

Karena pada awalnya keberadaan mereka tersembunyi tidak banyak diketahui oleh kebanyakan orang yaitu tatkala negeri-negeri tersebut dikuasai oleh bangsa Eropa, mereka tersingkir hanya berada di pinggiran tepi pantai. Dan manakala datang masa Islam, baru setelah itu mereka menampakan jati diri serta kesesatannya. Sedang kejahatan mereka sangat banyak sekali”. [2]

Akhirnya kita tutup dengan mengucapkan segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad, pada keluaraga beliau serta para sahabatnya.

 

Terjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah

Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

 2013 – 1434

Islamhouse.com

(nahimunkar.com)

 


[1] . Al-Mujiz fil Adyan wal Madhzahib al-Mu’ashirah karya Syaikh Nashir al-Qafari dan Syaikh Nashir al-A’ql hal: 136-140.

[2] . Majmu Fatawa 35/147-148.

(Dibaca 2.590 kali, 1 untuk hari ini)