Ilustrasi Oleh: okeZone.com

  • DATA TAK ADA DI KOMPUTER ; Kloter 11 Solo Tertunda Sehari, kepanikan dan perasaan tak menentu sempat mewarnai jemaah haji kelompok terbang (kloter) 11 asal Purworejo dan Magelang. Sebab proses pemulangannya terganjal di Makkah karena kloter SOC 11 (Debarkasi Solo) tak tercantum di computer. (Kedaulatan Rakyat – ‎17/11/2011 08:37:06 SOLO (KR) –
  • Kedatangan Kloter 11 Solo Molor 26 Jam
  • Keterlambatan masih terus berlangsung dalam proses pemulangan jamaah haji Debarkasi Solo. Hal ini dialami kelompok terbang (kloter) 11 mengalami keterlambatan sampai 26 jam. Kloter yang sebagian besar membawa jamaah haji Purworejo seharusnya tiba di Tanah Air 15 Nopember pukul 13.15, namun realisasinya molor menjadi 16 Nopember pukul 14.30 WIB. (KRjogja.com)
  • Sampai berita ini diturunkan, Rabu (16/11/2011), sejauh ini Kloter (kelompok terbang) debarkasi Solo adalah yang paling buruk keterlambatannya. Di hari pertama pemulangan, Kloter 2 Solo bahkan sudah terlambat sampai delapan jam. Kloter 8 delay sembilan jam, jamaah Kloter 9 sampai diungsikan ke hotel transit karena keterlambatannya lebih dari 12 jam. (detiknews).

Inilah berita-beritanya:

***

Kedatangan Kloter 11 Solo Molor 26 Jam

yan | 14 jam yang lalu

SOLO (KRjogja.com) – Keterlambatan masih terus berlangsung dalam proses pemulangan jamaah haji Debarkasi Solo. Hal ini dialami kelompok terbang (kloter) 11 mengalami keterlambatan sampai 26 jam. Kloter yang sebagian besar membawa jamaah haji Purworejo seharusnya tiba di Tanah Air 15 Nopember pukul 13.15, namun realisasinya molor menjadi 16 Nopember pukul 14.30 WIB.

Sementara kloter 12 (Magelang/Temanggung) dan 13 (Temanggung/Kendal) justru tiba lebih awal dari kloter 11. Meski mengalami keterlambatan, hari kedatangan kedua kloter tersebut masih sesuai rencana yakni Selasa (15/11).

“Kloter kami kacau. Beruntung kami bersama ketua rombongan dan ketua regu bisa berupaya mendekati seluruh jamaah untuk bersabar,” jelas Drs H Nuryasin, ketua kloter 11.

Kepanikan dan perasaan tidak menentu sempat mewarnai jamaah haji kelompok terbang (kloter) 11. Karena ketika akan meninggalkan maktab di Makkah, lanjut Nuryasin, secara mengejutkan disebutkan kloter SOC 11 tidak bisa berangkat karena tidak masuk dalam daftar komputer. Spontan jamaah haji menjadi panik dan ricuh.

Saat itu juga Nuryasin bersama ketua rombongan dan ketua regu saling berupaya menenangkan seluruh jamaah.

“Kami juga terus melakukan nego. Kami sempat dibuat kaget karena no penerbangan yang semula 6503 sempat dirobah menjadi 6603, namun tidak bisa karena itu milik Batam.” Konsulat jenderal RI di Jeddah akhirnya melayangkan surat kepada ketua kloter 11 yang berisi permohonan maaf atas keterlambatan pemberangkatan kepulangan, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan jamaah haji.

Dalam surat yang ditandatangani Dr H Syairoji Dimyahti, atas nama Kepala Perwakilan RI Staf Teknik Haji I/Kepala PPIH diArab menyebutkan keterlambatan pemberangkatan kepulangan kloter 11 adanya kendala teknis yang dialami penerbangan Garuda Indonesia.(Qom) (KRjogja.com)

http://krjogja.com/new/read/108182/kedatangan-kloter-11-purworejo-molor-26-jam.kr

***

Rabu, 16 November 2011 pukul 13:19:00

Kloter 11 Solo Tolak ke Bandara

Firkah Fansuri, Dessy Susilawati

Sebanyak 362 jamaah Indonesia tertahan 15 jam di dalam pesawat Garuda.

JEDDAH – Kekacauan jadwal penerbangan pulang ke Tanah Air menghantui jamaah haji Indonesia. Kelompok Terbang (Kloter) 11 Debarkasi Solo, Jawa Tengah, misalnya, sampai Selasa (15/11) siang masih bertahan di Makkah karena khawatir pesawatnya ikut mengalami delay atau tertunda penerbangannya dalam waktu cukup lama. Padahal, mereka dijadwalkan terbang pada Senin (14/11) siang Waktu Arab Saudi (WAS) dari Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.

Kepala Urusan Haji dan Umrah PT Garuda Indonesia Hady Syahrean mengaku, telah meminta muasasah atau Misi Haji untuk mengirimkan mereka ke Jeddah agar bisa segera diterbangkan. Namun, hingga Senin (14/11) malam misi haji di Makkah dan muasasah tidak juga mengirim jamaah tersebut. “Mereka meminta kepada kita untuk jaminan kepastian pesawat. Dan, kita katakan bahwa pesawat tersedia dan siap untuk terbang,” katanya di Jeddah, Selasa (15/11).

Hady tidak mengetahui pasti alasan muasasah atau Misi Haji Kloter 11 Solo tidak segera mengirim jamaahnya untuk pulang. “Padahal, jamaah Kloter 12 Solo saja sudah dikirim ke Jeddah,” ungkapnya.

Garuda, menurut Hady, bahkan mengeluarkan surat jaminan sampai enam kali kepada Kantor Misi Haji di Makkah yang menyatakan bahwa pesawat untuk Kloter 11 Solo sudah tersedia. Namun, setelah menunggu lebih dari 12 jam tak juga dikirim akhirnya Garuda memberangkatkan lebih dahulu Kloter 12 Solo.

Hingga tiga hari pemulangan haji yang dilakukan Garuda, kloter asal Solo memang termasuk yang sering mengalami gangguan yang berakibat pada penundaaan penerbangan. Dua hari sebelumnya, Kloter 9 Solo juga jadwalnya diubah satu hari berikutnya atau delay sekitar 14 jam karena ada masalah kepadatan lalu lintas penerbangan di Bandara King Abdul Azis.

Jamaah haji Kloter 9 yang sudah berada di bandara itu akhirnya dikembalikan ke hotel dan keberangkatannya digeser ke jadwal Kloter 10 Solo. Sedangkan Kloter 8 Solo harus terlambat sampai sembilan jam juga karena masalah di bandara.

Tersandera di pesawat

Sementara itu, pesawat Garuda GA 981 yang membawa 362 orang jamaah haji Debarkasi Jakarta mengalami delay yang diperkirakan akan mencapai 15 jam. Mereka harus menunggu terbang cukup lama kendati sudah berada di dalam pesawat.

Awalnya, pesawat tersebut dijadwalkan terbang pukul 19.00 WAS. Jamaah kemudian dipersilakan masuk ke dalam pesawat (boarding). “Ketika jamaah sudah di dalam pesawat, penerbangan tidak juga dilakukan. Kami sudah hampir empat jam di dalam pesawat,” ungkap Direktur PT Ramani Travel, Djajang Sudrajat, yang saat ditelepon sedang berada di dalam pesawat Garuda tersebut.

Kemudian, Garuda mengumumkan bahwa pesawat delay dan akan berangkat pukul 24.00 WAS. “Tapi, kenyataannya jamaah masih di dalam pesawat hingga pukul 03.45. Pesawat mengalami delay karena tidak mengantongi izin melintas di udara,” kata Wakil Ketua Umum Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh) itu.

Berikutnya, Garuda memberitahukan pesawat akan berangkat pukul 07.00. “Jadi, kami akan delay hampir 15 jam,” sesal Djajang. Dalam kondisi tersebut, satu jamaah sakit karena merasa tersiksa di dalam pesawat. Ia kemudian dibawa turun dari pesawat.

Tak hanya itu, Garuda pun tidak memberikan standar kompensasi delay yang sesuai. Garuda hanya memberikan nasi boks dan uang 200 riyal atau sekitar Rp 500 ribu per orang. Padahal, seharusnya Garuda memberikan fasilitas hotel bintang empat, makan, laundry, serta transportasi menuju bandara.

“Garuda menyandera penumpang di dalam pesawat untuk menghindari biaya akomodasi di Jeddah. Katanya, Garuda kompensasi delay bintang empat, tapi kenyataannya lebih rendah dari hotel kelas melati,” ujar Djajang. ed: asep nur zaman. republika.co.id:

***

Mengurai Penyebab Pesawat Jamaah Haji di Jeddah Delay

Laporan dari Arab Saudi

Jeddah – Dari tahun ke tahun, penerbangan pulang jamaah haji asal Indonesia kerap ditandai delay atau keterlambatan. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, mulai dari kondisi di bandara sampai kedisiplinan jamaah.

Dari pantauan detikcom di bandara internasional King Abdulaziz, Jeddah, potensi keterlambatan itu sangat mudah diprediksi. Imbas paling nyata adalah delay satu penerbangan akan mempengaruhi penerbangan berikutnya.

Sampai berita ini diturunkan, Rabu (16/11/2011), sejauh ini Kloter (kelompok terbang) embarkasi Solo adalah yang paling buruk keterlambatannya. Di hari pertama pemulangan, Kloter 2 Solo bahkan sudah terlambat sampai delapan jam. Kloter 8 delay sembilan jam, jamaah Kloter 9 sampai diungsikan ke hotel transit karena keterlambatannya lebih dari 12 jam.

Solo adalah embarkasi dengan kloter terbanyak yakni 90, dengan jumlah jamaah lebih dari 31 ribu. Ujungpandang menyusul di urutan kedua dengan 86 kloter.

Semakin sering terjadi delay, biasanya akan menimbulkan efek domino, karena pesawat dipakai bolak-balik. Contoh, jika pesawat dari Jeddah terlambat, otomatis jadwal kembalinya pun terlambat. Khusus untuk Solo, maskapai Garuda Indonesia menyiapkan empat pesawat plus satu untuk stand by.

Kondisi di bandara King Abdulaziz merupakan salah satu penyebab keterlambatan. Paling gampang adalah, selama musim haji lalu lintas penerbangan sangat sibuk, sedangkan airport di Jeddah hanya mengoperasikan satu terminal, yakni East Terminal. Baru tahun ini dibuka West Terminal, dan Garuda memperoleh privilege untuk menyewa gate khusus di situ, sehingga diharapkan bisa mengurangi masalah delay.

Sebelumnya, selama di East Terminal, dengan jadwal yang sangat padat dari seluruh penerbangan internasional, kerap terjadi penumpukan calon penumpang, karena jumlah gate tidak sebanding dengan frekuensi penerbangan dan jamaah.

Masalahnya, fasilitas di West Terminal pun masih minim. Terminal ini baru dioperasikan dan banyak kekurangan, seperti fasilitas toilet yang tidak memadai, ruang tunggu di plaza yang open air–hanya dinaungi tenda-tenda besar– sehingga jamaah yang menunggu lama harus rela diterpa angin cukup kencang bercampur debu.

Jumlah gate yang tersedia juga hanya dua, satu untuk laki-laki, satu untuk perempuan. Meja imigrasi, dari delapan yang tersedia hanya empat yang dioperasikan. Alhasil, antrean calon penumpang untuk masuk gate sampai boarding lebih lama.

Kendala lain, calon penumpang masih harus diangkut bus dari waiting room menuju badan pesawat, yang jaraknya 1-2 kilometer. Masalahnya, otoritas bandara maksimal hanya bisa mengoperasikan empat unit bus dengan kapasitas masing-masing 50 orang, sehingga untuk mengangkut satu kloter bisa dua kali bolak-balik. Sudah sampai sini saja sudah terbayang berapa banyak waktu yang dibutuhkan satu kloter dari mulai masuk terminal sampai ke dalam pesawat.

Landasan juga sibuk, sehingga pesawat kerap membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa parkir setelah landing, atau masuk antrean sebelum take-off.

“Boleh dibilang, hampir setiap jam kami komplain ke pihak airport. Tadinya kita cuma dikasih dua gate, dua desk imigrasi. Di hari pertama sempat mati listrik kali, jaringan komputer mati hingga dua jam. Juga fasilitas pengeras suara tidak jalan, sehingga kami harus melakukan pemanggilan ke jamaah secara manual, dengan alat sendiri,” papar Kepala Dinas Urusan Haji dan Umroh PT Garuda Indonesia, Hady Syahrean.

Yang juga menjadi kendala adalah kinerja petugas bandara setempat, yang kerap lambat dan suka “semaunya sendiri”, sehingga bisa juga memperlambat proses boarding.

Dari sisi penumpang, kedisiplinan adalah faktor besar yang sering menyebabkan keterlambatan. Masalah umum yang ditemui di lapangan adalah, jamaah membawa barang-barang yang tidak diperbolehkan, atau jumlahnya melebihi kapasitas.

Kasus yang paling sering terjadi adalah jamaah “menyelundupkan” air zamzam di koper bagasi atau tas tenteng. Benda-benda tajam seperti gunting, pisau cukur, gunting kuku dan sejenisnya masih sering dibawa pulang. Setiap mesin pendeteksi metal berbunyi, petugas bandara sering tidak mau tahu, dan penumpang harus membongkar tas-tasnya, dan itu berarti memakan waktu lagi, sedangkan jumlah jamaah dalam satu kloter bisa sampai 400-an orang.

Garuda menyebutkan, tingkat OTP (On Time Performance) kepulangan di tahun-tahun sebelumnya cuma sekitar 40 persen. Tahun ini, dengan adanya West Terminal, meskipun tetap ada beberapa kendala, mereka berharap ada perbaikan menjadi 60-70 persen.

Tahun ini Garuda mengangkut 113.361 jamaah haji asal Indonesia, yang dibagi ke dalam 299 kloter dari sembilan embarkasi. Pemulangan jamaah akan berlangsung sampai 10 Desember.
(a2s/irw) Rabu, 16/11/2011 21:11 WIB Andi Abdullah Sururi – detikNews

(nahimunkar.com)

(Dibaca 597 kali, 1 untuk hari ini)