Kekejaman PKI: Gubernur Soerjo Ditelanjangi dan Diseret 10 Km Lalu Disembelih oleh PKI



Di jaman sekarang ini, kita tidak boleh melupakan sejarah…karena dengan sejarah kita bisa waspada dan mengetahui akan apa yang sudah dan akan terjadi karena adanya sejarah, cerita kelam di saat arek-arek pejuang Indonesia berperang dengan penjajah, ternyata di dalam intern negeri kita pernah berperang.

PKI (Partai Komunis Indonesia) 1948 membawa masa kelam Indonesia dimana sejumlah pembantaian terjadi, pergerakan terjadi di daerah dengan kejam, mengutip dari berbagai sumber begini cerita kelam Gubernur Suryo Diseret 10 Km Lalu Disembelih oleh PKI.

Namanya diabadikan menjadi jalan protokol di Kota Surabaya, semoga Rakyat Jatim khususnya Surabaya tidak melupakannya.

TRAGEDI GUBERNUR SOERJO

Ditelanjangi, diseret lebih dari 10 KM lalu di sembelih.


Jika singgah di kota Ngawi, Jawa Timur, luangkan waktu sejenak berziarah ke kecamatan Kedunggalar, disana ada sebuah patung monumen yg akan selalu merintih pedih tak terperi. Patung yang menyimpan lara karena Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan Muso telah menusukkan duri dalam sejarah bangsa ini, duri yang telah menewaskan pahlawan pertempuran Surabaya 1945, bernama Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, gubernur pertama Jawa Timur dari tahun 1945 hingga tahun 1948.

Maladi Yusuf, tokoh gerombolan Front Demokratik Rakyat (FDR) PKI, pada 10 November 1948, telah menyiksa Soerjo dengan begitu binal. Hari itu tepat diperingati sebagai Hari Pahlawan di Yogyakarta yang dihadiri para pejabat pemerintah, salah satunya adalah Gubernur Soerjo.

Setelah menghadiri peringatan hari pahlawan pada tanggal 10 November, Gubernur Soerjo pamit undur diri untuk pergi ke Madiun. Sebelum sampai di Madiun, mobil beliau dicegat anggota Bataliyon FDR, Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan Maladi Yusuf ditengah hutan peleng, Kedunggalar, Ngawi. Setelah diikat tangannya dengan tali, mobil Gubernur Soerjo dibakar.

Dalam saat yang sama, tidak hanya Gubernur Soerjo yang ikut jadi korban, dua perwira polisi yaitu Kombes pol M. Doerjat dan Kompol Soeroko turut jadi korban, mobil kedua perwira polisi itu pun juga dibakar.

Ketiga mereka kemudian ditelanjangi dan dicaci maki, ketiganya diikat, lalu diseret hingga lebih dari 5 KM dengan menggunakan kuda.

Dua perwira polisi tsb ternyata lebih dahulu meninggal ketika diseret, kemudian disembelih. Sementara Gubernur Soerjo tidak kunjung meninggal, ketika disiksa dan disembelih. Ada anggota FDR PKI yang berspekulasi, Gubernur Soerjo punya kesaktian, sehingga susah dibunuh, maka salah satu anggota FDR mengusulkan agar Gubernur Soerjo diseret lagi hingga lebih dari 10Km dan harus menyeberangi tiga sungai, agar betul-betul bisa disembelih.

Mereka terus menyeret Gubernur Soerjo melewati aliran sungai Bengawan Solo, sungai sonde, dan kali kakak. Setelah melewati tiga sungai tsb, Gubernur Soerjo disiksa dan baru kemudian beliau disembelih.

Empat hari kemudian, jenazah Gubernur Soerjo dan dua perwira polisi baru ditemukan dalam kondisi sangat mengenaskan. Jenazah itu kemudian dimakamkan di Sasono Mulyo yang terletak di Sawahan, Kabupaten Magetan.

Pemerintah lalu menggelari Gubernur Soerjo sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan. Hal itu tertuang dalam keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 294 tgl 17 November 1964.

Di desa Bangun Rejo Lor kecamatan Pitu kabupaten Ngawi, akhirnya dibangun sebuah monumen untuk mengenang jasa-jasa Gubernur Jawa Timur pertama, bersama dengan dua orang pengawalnya.

Selamat jalan pak Soerjo, semoga amal bakti mu diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.[]

 

[PORTAL-ISLAM.ID] Senin, 22 Juni 2020  SEJARAH INDONESIA

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 1.008 kali, 1 untuk hari ini)