• Kekuatan sekuler, pluralis, liberal, dan anti Islam diangkat untuk mendominasi jagad politik Indonesia. Sebuah usaha yang sangat sistematis dijalankan Harian Kompas dengan menggunakan opini media.
  • Pemilu 2014 ini, ibaratnya seperti  pisau “guilletine” yang akan digunakan memotong leher Partai-Partai Islam yang tidak akan pernah akan bisa hidup dan bangkit lagi di masa depan.
  • Tinggal yang tersisa partai-partai sekuler, nasionalis, dan liberal yang akan dapat memberikan keleluasaan kepada golongan minoritas, seperti Katolik, melakukan segala sesuatunya dengan topeng pluralisme, dan toleransi, sebelum nantinya mereka menggilas habis orang Islam.

 

JAKARTA – Harian Katolik Kompas beberapa hari menjelang kampanye pemilu 2014, membuat  headline (berita utama),  “Pilihan Publik Terhadap Partai Politik”, yang terbit tanggal 9 Januari 2014. Di mana laporan itu, seakan sudah menentukan dan menetapkan hasil pemilu 2014.

Kompas sudah mendahului hasil pemilu 2014, sekalipun pemilu belum berlangsung. Kompas yang selama ini dipandang sebagai media nasional yang berpengaruh,  sejatinya ingin merekayasa hasil pemilu sesuai dengan subjektifitasnya sebagai harian yang berlatar belakang Katolik.

Kompas sudah menentukan dan menetapkan nasib Partai-Partai Islam atau Partai Berbasis Massa Islam, sebelum pemilu 2014. Di mana Partai-Partai Islam dan Partai Berbasis Massa Islam eksistensinya akan berakhir di pemilu 2014.

Berdasarkan hasil survei Kompas itu, Partai-Partai Islam dan Berbasis Massa Islam, tidak ada yang mencapai parlemen threshold (PT), berdasarkan undang-undang, ditetapkan 3,5 persen.

Survei yang diselenggarakan Litbang Kompas itu, bulan Desember 2012, Juni 2013, dan Desember 2013, menentukan dan menetapkan posisi Partai-Partai Islam atau Partai Berbasis Islam pada posisi sebagai partai “gurem”, dan tidak akan lagi memiliki pengaruh politik apapun, pasca 2014.

Partai Bulan Bintang hanya 1,1 persen,

PKS 2,3 persen,

PPP 2,4 persen,

PAN 3,2 persen,

sedangkan PKB yang menjadi warisan Gus Dur, diberikan angka 5,1 persen oleh Litbang Kompas.

Begitulah cara Kompas menentukan dan menetapkan masa depan Partai-Partai Islam dan Partai Berbasis Massa Islam dengan sangat suram, dan tanpa masa depan. Kecuali PKB yang menjadi warisan Gus Dur, dan secara ideologi dekat dengan Kompas.

Di lapisan keduanya atau menengah, di posisikan Partai Hanura 6,6 persen, Nasdem 6,9 persen, dan Demokrat 7,2 persen.

Hanura dan Nasdem hanyalah sempalan Golkar. Orang-orang yang sudah terbuang, dan gagal menguasai Golkar, kemudian mendirikan partai baru. Seperti Hanura yang dipimpin mantan Panglima TNI, Jendral Wiranto dan Hary Tanoe. Hary Tanoe dahulunya di Nasdem, kemudian hengkang ke Hanura, dan sekarang menjadi calon wakil presiden. Hary Tanoe, seorang Kristen Sekte Yehovah, dan menggunakan sarana TV yang dimilikinya berkampanye.

Sementara itu, Nasdem yang dipimpin Surya Paloh, kelompok yang kalah dalam pertarungan menguasai Golkar, di Pekanbaru, dan kemudian mendirikan Nasdem. Pengurusnya sebagian besar para mantan Golkar. Tidak ada yang baru di dalam Nasdem. Dengan Metro TV, Surya Paloh, secara gigih ingin mencitrakan sebagai sosok yang akan membawa Indonesia baru. Semuanya hanyalah isapan jempol belaka.

Demokrat yang oleh Kompas diberi “ponten” 7,2 persen itu, memang harus digembosi dengan dramatis, bersamaan dengan tsunami korupsi yang menimpa partai itu. Partai yang lahir di era reformasi itu, gagal mengubah wajah Indonesia yang lebih bersih, dan justru membuat wajah Indonesia semakin hitam pekat, di bawah Presiden SBY. Tetapi, tidak sampai dimatikan oleh Kompas, tetap diberikan kesempatan hidup dengan “ponten” 7,2 persen.

Kompas memutuskan sebagai the “triangle powers”, yaitu PDIP, Golkar, dan Gerindra. Masing-masing oleh Kompas diberikan angka PDIP 21,8 persen, Golkar 16,5 persen, dan Gerindra 11,5. Menurut survei Kompas itu, implikasinya jagad politik Indonesia, pasca pemilu 2014, sangat ditentukan oleh tiga kekuatan politik itu, PDIP, Golkar,dan Gerindra.

Ketiganya secara ideologi, sekuler, nasionalis, dan anti Islam. Hegemoni tiga kekuatan politik yaitu PDIP, Golkar, dan Gerindra, nantinya akan menjadi pilar politik Indonesia, sesuai dengan subjektifitas politik kalangan Kompas.

Di mana kekuatan sekuler, pluralis, liberal, dan anti Islam yang mendominasi jagad politik Indonesia. Sebuah usaha yang sangat sistematis dijalankan dengan menggunakan opini media.

PDIP, Golkar, dan Gerindra, bisa menjadi representasi politik ideologi bagi kepentingan kelompok Kompas. Dengan obsesi mendongkrak terus suara PDIP, dan sejatinya yang menjadi “goalnya” adalah ingin menjadikan Jokowi sebagai presiden 2014.

PDIP dengan perolehan suara 21,8 sudah dapat mencalonkan calon presiden, tanpa dukungan partai manapun. Maka, sekarang dibuat rekayasa yang mengarahkan agar Mega mau menyerahkan tongkat estafetanya kepada Jokowi. Meskipun Jokowi masih malu-malu atau disetting seperti itu.

Namun, tujuan yang paling pokok Kompas, mengakhiri kekuatan politik Islam, dan mereka yang dipandang masih memiliki ikatan ideologi Islam. Dengan menentukan dan menetapkan angka-angka berdasarkan survei terhadap Partai-Partai Islam dan Partai Berbasis Massa Islam, tujuan utama hanyalah, “hancurkan mereka”, dan jangan diberi kesempatan “hidup mereka”, yaitu kekuatan politik Islam.

Pemilu 2014 ini, ibaratnya seperti  pisau “guilletine” yang akan digunakan memotong leher Partai-Partai Islam yang tidak akan pernah akan bisa hidup dan bangkit lagi di masa depan.

Tinggal yang tersisa partai-partai sekuler, nasionalis, dan liberal yang akan dapat memberikan keleluasaan kepada golongan minoritas, seperti Katolik, melakukan segala sesuatunya dengan topeng pluralisme, dan toleransi, sebelum nantinya mereka menggilas habis orang Islam. af/hh (voa-islam.com)  Jum’at, 19 Rabiul Awwal 1435 H / 10 Januari 2014 11:34 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.243 kali, 1 untuk hari ini)