Oleh : Dr. Slamet Mulion[1]

Saat perang Hunain, pasukan Islam memiliki jumlah yang jauh lebih besar. Sebagian dari mereka baru masuk Islam, dan merasa bangga dengan keadaan ini. Allah memberi pelajaran dimana musuh yang jumlahnya sedikit bisa membuat pasukan kaum muslimin sempat lari kocar-kacir. Setelah menyadari hal itu, Allah memberi kemenangan, sehingga kaum muslimin memperoleh ghanimah yang banyak. Ghanimah yang begitu banyak, oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diberikan kepada kaum muslimin Makkah yang baru masuk Islam, sementara kaum Anshar tidak memperoleh sama sekali. Hal ini sempat membuat kaum Anshar merasa kecewa, dan atas nasehat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kaum Anshar menyadari anggapanna terhadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Peperangan dan Ghanimah yang besar

Dalam perang Hunain itu, kaum muslimin berperang melawan kaum Hawazin yang dipimpin Malik bin Auf. Dalam peperangan itu, Malik membawa dan mengajak semua sanak keluarga dan harta bendanya. Pasukan Malik berjalan dengan 24.000 ekor unta, 40.000 kambing, 6.000 perak bersama 6.000 orang. Ada seeorang ahli perang yang berusia tua,  Dzurait bin Simmah, yang menyarankan agar Malik tidak membawa serta semua keluarganya  kecuali yang laki-laki saja yang sanggup berperang. Karena kalau kalau semuanya akan ditawan. Namun saran yang bagus itu itu diabaikan oleh Malik.

Dalam pernag itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengutus Abu Hadrot al-Aslami dengan membawa 12 ribu pasukan. Kebanyakan mereka baru masuk Islam. Untuk perang ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meminjam 100 baju besi milik Shafwan bin Umayyah. Sampai di tengah perjalanan pasukan menemukan pohon besar. Mereka mencantolkan pedang mereka guna memperoleh berkah. Dijelaskan bahwa di pohn itu, orang-orang Quraisy biasa berkurban. Mendengar permintaan itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam marah karena adanya keyakina bahwa dengan adanya dzatu anwa’ itu akan bisa memenangkan perang.

Dalam peperangan itu, Malik sudah menyusun strategi untuk naik ke bukit lebih dulu. Ketika pasukan kaum muslimin menyerangnya maka pasukan Malik memanahnya sehingga pasukan Islam berlarian kocar-kacir, sehingga nyaris kalah. Saat itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengomando dengan meminta Abbas bin Abdul Muththalib untuk berteriak memanggil pasukaan Islam untuk berkumpul dan bersatu. Dengan teriakannya, maka bersatulah kaum muslimin dan kemudian berhasil memukul kembali pasukan musuh. Dengan keberhasilan itu, maka pasukan kaum muslimin berhasil memenangkan peperangan.

Anshar Pulang Tanpa Ghanimah

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membagi harta rampasan perang demikian cepat dan terlihat kedermawanannya.  Abu Sufyan mendapatkan 100 ekor unta dan 40 perak, kemudian meminta untuk anaknyaYazid dan Muawiyah, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan masing-masing 100 ekor unta. Hakim bin Hizam memperoleh 100 ekor unta dan ditambah 100 ekor. Demikian pula Sufyan bin Uyainah mendapatkan sebanyak 100 unta. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membagi seluruh ghanimah dengan cepat sehingga habis, hingga orang-orang Anshor melihat kejadian itu, dan mereka tidak memperoleh sedikitpun.

Melihat hal itu, dalam hati kaum Anshor terbersit pikiran jelak bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam demikian cinta kepada kaumnya dan tidak lagi memperhatikan kaum Anshar. Sa’ad bin Ubadah menyampaikan hal kegudaahan kaumnya itu pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mendengar hal itu, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kepada Sa’ad untuk mengumpulkan orang-orang Anshar dan akan berbiacara dengan mereka.

Ketika Orang Anshar sudah berkumpul, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan beberapa ungkapan yang membuat hati orang-orang Anshar luluh. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan : “Aku mendengar ini dan itu, kasak kusuk karena aku mengistimewakan orang Makkah dengan membagikan ghanimah tanpa memberikan sedikitpun sisa pada kaum Anshar.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian melanjutkan : “Katakanlah bahwa saat aku datang dahulu, kamu sesat dan kemudian dapat petunjuk. Dahulu kamu dalam keadaan saling berperang dan Allah mendamaikannya.” Katakanlah dahulu aku didustakan dan kamu membenarkan, dahulu kami dimusuhi tapi kamu menerimanya. Dahulu aku gelandangan, kemudian kamu menerimanya. Andaikata ada dua jalan, kemudian Anhar memilih jalan, maka aku akan mengikuti jalan Anshar. Kamu jumpai orang-orang Makkah telah dapat dunia. Kamu pulang membawa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.”

Mendengar ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu, kaum Anshar menunduk malu dan serentak menangis. Mereka ridho terhadap ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mereka baru menyadari bahwa harta yang dibawa orang-orang Makkah bersifat duniawi, sementara kaum Anshar membawa pulang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang akan membimbing dengan petunjuk yang terbaik. Apa yang diberikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada orang-orang Makkah dalam rangka untuk melembutkan hati mereka dan untuk mendekatkan hati mereka kepada Islam. Sementara kaum Anshar telah memiliki hati yang kuat dan cinta pada Islam dan mereka akan memperoleh bimbingan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam secara langsung.

Kondisi ini menggambarkan bahwa hati-hati kaum Ashar demikian lembut dan mudah disentuh oleh kebenaran. Betapa tidak, pada saat memenangkan peperangan itu, kaum Anshar melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membagi ghanimah yang demikian melimpah, dan semuanya diberikan kepada kerabat, sanak, dan kaumnya tanpa menyisakan kepada kaum Anshar. Padahal jumlah kaum Anshar yang mengikuti peperangan itu sangat banyak, tetapi justru tidak memperoleh bagian.

Demikian lembutnya hati kaum Anshar, dimana ketika hati-hati mereka gelisah dan curiga pada tindakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang membagi ghanimah kepada kaumnya yang ada di Makkah tanpa menyisakan pada mereka. Begitu mendengar penjelasan dan nasehat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka orang-orang Anshar langsung tunduk dan menyadari kekeliruannya. Hati kaum Anshar demikian halus dalam menerima kebenaran dan tidak condong pada dunia, dan sangat bangga bisa membawa pulang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang akan mendampingi guna membimbing mereka dengan petunjuk terbaik.

Surabaya, 18 Oktober 2018

[1] Dosen UIN Sunan Ampel dan Direktur Pusat Kajian Islam dan Peradaban (PUSKIP) Surabaya

(nahimunkar.org)

(Dibaca 518 kali, 1 untuk hari ini)