Kelihatannya Shalih tapi Diam-diam Menggerus Agama Allah

  • Diam-diam mereka melanggar larangan-larangan Allah


Bila suatu kelompok mengamalkan Islam sampai puasa sunnah pun dijalankan. Bahkan juga mereka shalat malam. Bergeraknya juga di lembaga Islam, atau bahkan pelopor di kalangan Umat Islam. Suara mereka ketika ada masalah2 pun digolongkan sebagai bentuk mewakili sebagian dari Umat Islam atau bahkan dianggap paling berpengaruh. Maka penampilannya itu mengesankan sebagai pembawa Islam dan beramaliyah Islami.

Di balik itu sepak terjang mereka justru menggerus agama Allah. Bila sudah ketemu dengan gerombolan yang berseberangan dengan Islam, maka mereka yang amaliyahnya Islami sampai yang sunnat-sunnat pun dilaksanakan itu justru pro dengan yang berseberangan dengan Islam. Bahkan kalau ada apa2 yang arahnya menggerus agama Allah dilancarkan oleh gerombolan2 yang berseberangan dengan Islam, serta merta pihak yang tampilannya mengamalkan Islam itu tadi tidak segan2 mendukung penggerusan Islam. Ketika diadakan wadah atau sarana pelancaran penggerusan Islam pun mereka tidak segan2 bergabung di dalamnya. Bila ada pemilihan untuk jadi kepala dusun, desa, wilayah sampai tingkat nasional, pun mereka gabung dengan pihak yang berseberangan dengan Islam itu. Bahkan ketika ada yang menghina atau menista kitab suci Islam yakni Al-Qur’an, mereka pun membela penista Islam itu. Sampai-sampai orang non Muslim yang menista Al-Qur’an itu maju untuk pemilihan kepala daerah pun mereka dukung. Padahal jelas2 ada larangan dalam Islam, mengangkat pemimpin yang kafir.

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٥١ [ المائدة:51-51]

51. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. [Al Ma”idah:51]


Imam Alqadhi ‘Iyadh mengatakan :

أجمع العلماءُ على أنَّ الإمامة لا تنعقد لكافر، وعلى أنَّه لو طرأ عليه الكفر انعزل

Para ulama sepakat bahwa kepemimpinan tidak boleh diserahkan kepada orang kafir. Termasuk ketika ada pemimpin muslim yang melakukan kekufuran, maka dia harus dilengserkan. (Syarah Sahih Muslim, an-Nawawi, 6/315).

Al-Hafidz Ibnu Hajar bahkan lebih tegas mengatakan:

إنَّ الإمام “ينعزل بالكفر إجماعًا، فيَجِب على كلِّ مسلمٍ القيامُ في ذلك، فمَن قوي على ذلك فله الثَّواب، ومَن داهن فعليه الإثم، ومن عَجز وجبَتْ عليه الهجرةُ من تلك الأرض

Sesungguhnya pemimpin dilengserkan karena kekufuran yang dia lakukan secara ijma’, maka wajib kaum muslimin untuk melengserkannya. Siapa yang mampu melakukan itu, maka dia mendapat pahala, dan siapa yang basa-basi dengan mereka, maka dia mendapat dosa, dan siapa yang tidak mampu, wajib baginya untuk hijrah dari daerah itu. (Fathul Bari, 13/123).

Kesimpulan: Hukum umat Islam memilih pemimpin kafir adalah:HARAM.

Lihat: https://www.nahimunkar.org/bahtsul-masail-markaz-aswaja-jawa-timur-haram-pilih-pemimpin-kafir-pemilihnya-munafik-jenazahnya-haram-dishalati/

 

Bahkan sampai upacara ritual kemusyrikan ruwatan pun mereka dukung, bahkan mereka pimpin penyelenggaraannya. Na’udzubillahi min dzalik!


Ruwatan, ritual kemusyrikan untuk membuang apa yang disebut sukerto (kesialan) yang kalau tidak dilakukan ruwatan maka diyakini tidak terbebas dari ancaman raksasa Betoro Kolo. Foto/dok. Ist. Net.

Ruwatan artinya upacara membebaskan ancaman Batoro Kolo—raksasa pemakan manusia, anak Batoro Guru atau raja para dewa. Batoro Kolo adalah raksasa buruk rupa jelmaan dari sperma Batoro Guru yang berceceran di laut setelah gagal bersenggama dengan permaisurinya, Batari Uma, ketika bercumbu di langit sambil menikmati terang bulan. Makanan Batoro Kolo adalah manusia yang dilahirkan dalam kondisi tertentu, seperti kelahiran yang menurut perhitungan klenik akan mengalami menderita (sukerto), juga yang lahir dalam keadaan tunggal (ontang-anting), kembang sepasang (kembar), sendang apit pancuran (laki, perempuan, laki) dan lain-lain.

Itu kepercayaan musyrik, menyekutukan Allah yang berlandaskan cerita wayang penuh takhayyul, khurofat dan tathoyyur atau menganggap sesuatu sebagai alamat sial dan sebagainya. Biasanya ruwatan disertai dengan sesaji dan wayangan untuk menghindarkan diri agar Batoro Kolo tidak memangsa.

 


Ketua PBNU Ruwat Gibran di Solo, padahal Ruwatan Itu Ritual Syirik Akbar

Posted on 12 November 2020 by Nahimunkar.org

 

Segala amal manusia, bahkan sampai niat-niatnya pasti dicatat oleh malaikat-malaikat yang ditugaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amaliyah yang Islami tentunya dicatat untuk mendapatkan pahala. Sedangkan perbuatan yang diam-diam bersekutu dengan yang berseberangan dengan Islam demi menggerus Islam, maka dicatat pula. Di akherat akan mereka lihat balasannya. Apalagi bergabung bahkan memimpin ritual kemusyrikan, maka betapa besar catatan keburukannya, disamping betapa besr perusakannya terhadap Islam, dan penyuburnnya terhadap kemusyrikan yang justru wajib diberantas. Karena kemusyrikan itu sangat membahayakan keimanan, dan bila seseorang mati dalam keadaan musyrik (belum bertobat engan sebenar-benarnya tobat, taubatan nashuha), maka amalnya hapus, dan haram masuk surga, tempatnya di neraka.

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72)

ذَٰلِكَ هُدَى ٱللَّهِ يَهۡدِي بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ وَلَوۡ أَشۡرَكُواْ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٨٨ [سورة الأنعام,٨٨]

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS Al-An’aam/ 6: 88).


Sahabat Jabir Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan, ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lalu bertanya, “Ya Rasulallah, apa dua hal yang paling menentukan?” Beliau menjawab,

مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللهُ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ
Siapa yang mati sedangkan ia tidak menyekutukan Allah dengan apapun juga, pasti ia masuk surga. Siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, pasti masuk neraka.” (HR. Muslim)

Demikianlah, gejala yang dapat dilihat adanya kelompok manusia yang satu sisi melakukan amal2 kebaikan yang sampai yang sunnat-sunnat dikerjakan dengan tekun, tapi di sisi lain, diam-diam ketika dianggap kondusif kesempatannya, maka mereka berbuat keharaman2 yang sangat dilarang Allah Ta’ala, sampai hal-hal ritual kemusyrikan, dan hal-hal yang menggerus Islam.

Dikhawatirkan, manusia-manusia yang model keislamannya macam itu termasuk yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits.

Yaitu hadits Tsauban radhiallahu ‘anhu di mana Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

“Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih. Kemudian Allah menjadikannya debu yang berterbangan.” 

Tsauban bertanya, “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka dan jelaskanlah perihal mereka agar kami tidak menjadi seperti mereka tanpa disadari.”

Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian, tetapi mereka adalah kaum yang jika bersendirian mereka menerjang hal yang diharamkan Allah.” (Shahih. HR. Ibnu Majah).

Ada penjelasan sebagai berikut:

Sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “إذَا خَلوا بِمَحَارِمِ الله” tidak hanya berarti bahwa pelaku dalam hadits Tsauban melakukan apa yang dilarang Allah tatkala bersendirian di rumah!

Namun dapat diartikan bahwa mereka terkadang melakukan hal tersebut bersama dengan kawan-kawan dan orang yang semisal dengannya. Dengan demikian, dalam hadits Tsauban terkandung penjelasan perihal mereka bersama-sama bersembunyi dari pandangan manusia untuk melakukan apa yang dilarang Allah, bukan berarti bahwa setiap dari mereka menyendiri di rumah masing-masing menerjang larangan Allah.

Mereka itulah yang tidak akan dimaafkan, sementara yang nampak bagi kami pelaku maksiat yang dimaafkan sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah adalah seorang yang dalam keadaan sendirian melakukan kemaksiatan. [Hadits Abu Hurairah yang dimaksud adalah ini: hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ : يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Seluruh umatku diampuni kecuali al-mujaahirun (orang yang melakukan al-mujaaharah). Dan termasuk bentuk al-mujaaharah adalah seseorang berbuat dosa pada malam hari, kemudian di pagi hari Allah telah menutupi dosanya namun dia berkata, “Wahai fulan semalam aku telah melakukan dosa ini dan itu.” Allah telah menutupi dosanya di malam hari, akan tetapi di pagi hari dia membuka kembali dosa yang telah ditutup oleh Allah tersebut.” (Shahih. HR. Bukhari dan Muslim).]

Oleh karena itu, dalam hadits Abu Hurairah subjek disebutkan secara tunggal dan spesifik, di mana Allah telah menutupi aib yang dilakukannya di malam hari sebagaimana dalam kalimat “يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ“, sedangkan dalam hadits Tsauban terkandung lafadz jamak/plural mengingat dalam hadits tersebut terdapat kata “قوْم” dan “خَلَوا“.

Asy-Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani rahimahullah mengatakan, “Nampaknya kalimat “خلوا بمحارم الله” bukanlah berarti “سرّاً“(sendiri/rahasia), namun apabila terdapat kesempatan mereka melakukan apa yang dilarang oleh Allah. Dengan demikian kata “خلَوا” bukanlah berarti “سرّاً“, namun termasuk dalam bab “خلا لكِ الجو فبيضي واصفري“” (Silsilah Huda wa an-Nuur kaset nomor 225).

https://www.nahimunkar.org/penjelasan-isykal-hadits-mengenai-orang-yang-bermaksiat-tatkala-sendirian/

Gejala yang dapat dilihat, ada fenomena orang-orang yang menggolongkan diri dalam jum’iyyah yang seakan Islami. Penampilan dan amaliyah mereka juga bersimbol-simbol Islam. Bahkan sebagian tampak lebih rajin dibanding Umat Islam biasa pada umumnya, dan lebih menonjol keislamannya. Namun ketika ada masalah2 keumatan, justru kepentingan2 gerombolan2 yang berseberangan dengan Islam lah yang mereka dukung, usung, dan bela. Sampai2 penista Islam pun mereka bela. Dan ketika pnista Islam itu maju untuk pemilihan kepala wilayah pun mereka bela atau dukung.

Nah, amaliyah keislaman yang berupa ibadah dan sebagainya, ditunjukkan dalam hadits tersebut sebagai pahala: bahwa ada suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih. Kemudian Allah menjadikannya debu yang berterbangan.” 

Tsauban bertanya, “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka dan jelaskanlah perihal mereka agar kami tidak menjadi seperti mereka tanpa disadari.”

Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian, tetapi mereka adalah kaum yang jika bersendirian mereka menerjang hal yang diharamkan Allah.” (Shahih. HR. Ibnu Majah).

Rupanya kalimat “jika bersendirian mereka menerjang hal yang diharamkan Allah” dalam kasus yang kita bicarakan ini adalah seperti yang disebutkan Syaikh Al-Albani tersebut. Yaitu bersendirian di kalangan mereka beserta konco-konconya yang searus (dalam menggerus Islam dan semacamnya), mereka melancarkan program2 penggerusan Islam dan semacamnya yang jelas2 diharamkan Allah Ta’ala itu. Sehingga keshalihannya dalam beramal Islami dalam ibadah dan lain2 itu mereka rusak sendiri dengan tingkah yang sedemikian itu, hingga pada tingkat: “…membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih. Kemudian Allah menjadikannya debu yang berterbangan.” .

Betapa ruginya kalau begitu.

Kembali ke judul ‘Kelihatannya Shalih tapi Diam-diam Menggerus Agama Allah’, diam-diam di situ bukan berarti tersembunyi atau hanya sendirian, namun sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al-Albani adalah begitu ada kesempatan, maka mereka melanggar larangan2 Allah Ta’ala, bahkan bisa dilakukan bersama-sama dengan konco-konconya (itupun dalam pembahasan ini, dilakukan dengan konco-konco sealiran dan bahkan dengan pihak2 yang berseberangan dengan Islam dalam hal-hal yang diharamkan Allah bahkan menggerus agama Allah atau menghalanginya ataupun menyulitkan Umat Islam). Maka wajar sekali kalau balasan di akherat digambarkan sebagai mengusung pahala besar sebesar gunung Tihamah namun hancur lebur akibat perbuatan yang diam-diam melanggar larangan-larangan Allah Ta’ala itu.

 

Wallahu a’lam bisshawaab.

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 535 kali, 1 untuk hari ini)