Kelirukah Kelompok Murjiah, Muktazilah, dan Asy’ariyyah


  •  

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

     
     

    Kelompok Menyimpang Murjiah, Mutazilah Dan Asy’ariyyah

     
     

    Pertanyaan:

    Apa itu paham Murjiah, Muktazilah dan Asy’ariyyah? Apakah mereka termasuk dalam golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mengikuti pemahaman Nabi dan para sahabat?

     
     

    Jawaban:

    Tiga aliran atau pemahaman Murjiah, Muktazilah dan Asy’ariyyah memang ada dalam penyebutan para ulama. Terutama tiga pemahaman tersebut diulas oleh para ulama Ahlus Sunnah dalam kitab akidah yang mereka susun. Berikut sedikit penjelasan tentang tiga aliran tersebut:

     
     

    Murjiah

     
     

    Ibnu ‘Uyainah mengatakan:

     
     

    الْإِرْجَاءُ عَلَى وَجْهَيْنِ: قَوْمٌ أَرْجَوْا أَمْرَ عَلِيٍّ وَعُثْمَانَ ، فَقَدْ مَضَى أُولَئِكَ ، فَأَمَّا الْمُرْجِئَةُ الْيَوْمَ فَهُمْ قَوْمٌ يَقُولُونَ: الْإِيمَانُ قَوْلٌ بِلَا عَمِلٍ ” .

    انتهى من “تهذيب الآثار” (2/ 659)

     
     

    “Irja’ (pemahaman Murjiah) itu ada dua bentuk:

    Pertama: Mereka yang menangguhkan urusan ‘Ali dan ‘Utsman. Tipe pertama dari Murjiah sudah lewat masanya. Adapun Murjiah saat ini yang menyatakan, bahwa iman itu hanya perkataan tanpa amalan.” [Tahdzib Al-Atsar, 2: 659]

     
     

    Beberapa keyakinan menyimpang dari Murjiah:

     
     

    • Definisi iman hanyalah pembenaran dalam hati, atau pembenaran dengan hati dan lisan saja, tanpa memasukkan amalan.

    • Amalan tidak masuk dalam hakikat iman, juga bukan bagian dari iman. Jika amalan ditinggalkan seluruhnya, iman tidak akan hilang seluruhnya.

    • Pelaku maksiat tetap dikatakan sebagai seorang Mukmin yang sempurna imannya.

    • Amalan hanya masuk dalam kewajiban iman dan buahnya, amalan bukanlah masuk dalam hakikat iman.

    • Iman tidaklah bertambah dan tidak berkurang. Karena iman hanyalah pembenaran dengan hati yang tidak bisa masuk penambahan ataukah pengurangan.

    Sumber: https://islamqa.info/ar/227276

     
     

    Muktazilah

     
     

    Disebut Muktazilah merujuk pada i’tizalnya (menyingkirnya) Washil bin ‘Atha’ dan ‘Amr bin ‘Ubaid dari majelis (halaqah) Al-Hasan Al-Bashri. Ada saat itu seseorang yang mengungkapkan pada Al-Hasan Al-Bashri: “Wahai imam, telah muncul di zaman kita ini orang-orang yang mengafirkan pelaku dosa besar. Pelaku dosa besar dihukumi kafir oleh mereka. Mereka menganut paham yang sama dengan Wa’idiyyah yaitu kaum Khawarij dalam hal ini.”

     
     

    Al-Hasan Al-Bashri kemudian merenung sejenak. Sebelum Al-Hasan Al-Bashri, Washil lantas menimpali, “Aku tidaklah mengatakan, bahwa pelaku dosa besar itu Mukmin secara mutlak atau kafir secara mutlak. Pelaku dosa besar itu berada pada manzilah bayna manzilatain (di antara dua keadaan), yaitu tidak Mukmin, tidak kafir.”

     
     

    Kemudian Washil keluar, lantas Al-Hasan Al-Bashri memberikan jawaban pada murid-muridnya: “Washil telah i’tizal (menyingkir) dari kita.” Setelah itu diikuti lagi oleh ‘Amr bin ‘Ubaid. Lantas Al-Hasan Al-Bashri dan murid-muridnya menyebut mereka berdua dengan sebutan Muktazilah. [Pengantar Kitab Kibar Al-Muktazilah wa Dhalaluhum, hlm. 27]

     
     

    Penyimpangan dari Muktazilah adalah:

     
     

    • Menolak semua sifat Allah.

    • Dalam masalah takdir, Muktazilah adalah Qadariyyah, yaitu menolak takdir.

    • Punya pendapat yang hampir sama dengan Jahmiyyah, yaitu meniadakan kalau Allah dapat dilihat pada Hari Kiamat, menyatakan Alquran itu makhluk (bukan Kalamullah).

    Menganggap bahwa semua ilmu itu kembali pada akal untuk bisa menerimanya.

    Mirip dengan Khawarij, yaitu menganggap pelaku dosa besar kekal dalam Neraka, namun mereka tidak berani mencap kafir. Itulah mengapa Muktazilah disebut “Bancinya Khawarij.” [Mukhanits Al-Khawarij]

    • Orang Mukmin dianggap tidak masuk Neraka, namun cuma mendatangi saja. Karena kalau masuk Neraka, tak mungkin keluar lagi dari Neraka sama sekali.

    • Menganggap bahwa Surga dan Neraka tidak kekal (akan fana).

    Menyatakan Allah di mana-mana, di setiap tempat (Allah bi kulli makan).

    Mengingkari adanya siksa kubur. [Pengantar Kitab Kibar Al-Muktazilah wa Dhalaluhum, hlm. 30-31]

     
     

    Muktazilah punya Usul Khamsah (Lima Landasan Pokok), seperti Rukun Islam di kalangan mereka, dan lima prinsip ini disepakati oleh kaum Muktazilah. Lima prinsip itu adalah:

     
     

    1. At-Tauhid (Keesaan Allah)

    2. Al-‘Adlu (Keadilan)

    3. Manzilah bayna manzilatain (Kedudukan di antara dua kedudukan)

    4. Al-Wa’du wa Al-Wa’id (Janji dan ancaman Allah)

    5. Al-Amru bi Al-Ma’ruf wa An-Nahyu ‘an Al-Munkar (Amar makruf nahi munkar)

     
     

    Sekilas tidak ada masalah dengan lima pokok di atas. Namun mereka memaksudkan interpretasi yang sesat atas semua pokok tersebut:

     
     

    Tauhid dimaksudkan untuk meniadakan sifat-sifat Allah.

    • Al-‘Adlu dimaksudkan untuk mengingkari bahwa perbuatan hamba diciptakan oleh Allah.

    • Manzilah bayna Manzilatain maksudnya adalah bahwa pelaku dosa besar berada di antara dua kedudukan, mereka tidak disebut Mukmin, tidak pula disebut kafir.

    • Al-Wa’du wa Al-Wa’id dimaksudkan untuk menyatakan bahwa pelaku dosa besar kekal di dalam Neraka.

    • Al-Amru bi Al-Ma’ruf wa An-Nahyu ‘an Al-Munkar dimaksudkan untuk menghalalkan pemberontakan kepada penguasa zalim. [Pengantar Kitab Kibar Al-Muktazilah wa Dhalaluhum, hlm. 32-75]

     

    *** 

    Asy’ariyyah

     
     

    Asy’ariyyah adalah kelompok yang menyandarkan pemahamannya pada Abul Hasan Al-Asy’ari. Sedangkan Abul Hasan Al-Asy’ari dalam fase kehidupannya melewati beberapa tahapan.

     
     

    Pertama: Abul Hasan berpaham Muktazilah. Fase ini dijalani selama 40 tahun.

     
     

    Kedua: Abul Hasan merujuk pada pemahaman Kullabiyyah lewat pelopornya ‘Abdullah bin Sa’id bin Kullab. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Khuzaimah nukilannya bisa dilihat di Siyar A’lam An-Nubala’ [14: 380, Penerbit Muassasah Ar-Risalah]. Imam Ahmad bin Hambal yang paling santer membantah pemahaman ‘Abdullah bin Sa’id bin Kullab.

     
     

    Ketiga: Merujuk pada pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah. Namun apakah secara keseluruhan Abul Hasan mengikuti pemahaman Ahlus Sunnah, ataukah ada pemahaman Kullabiyah yang masih dianutnya? Di sini para ulama berbeda pandangan. Al-Hafizh Ibnu Katsir dan Syaikh Hafizh Al-Hakami berpendapat, bahwa Abul Hasan Al-Asy’ari sudah mengikuti pemahaman Ahlus Sunnah.

     
     

    Abul Hasan Al-Asy’ari mengatakan dalam kitabnya Al-Ibanah
    di bagian akhir:

    “Perkataan kami yang kami menjadikan bagian dari agama kami adalah berpegang pada Kitabullah dan Sunnah Nabi Muhammad . Begitu juga yang diriwayatkan dari sahabat, tabi’in dan para ulama pakar hadis. Kami berpegang teguh pada itu semua. Yang perpegang dengan akidah seperti itu pula adalah Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal, semoga Allah mencerahkan wajahnya, mengangkat derajatnya.”

     
     

    Namun Asy-‘Ariyyah saat ini punya pemahaman yang berbeda dengan Abul Hasan Al-Asy’ari yang pada fase terakhir merujuk pada pemahaman Ahlus Sunnah. Secara lengkap pemahaman Asy-‘Ariyyah ini dibahas oleh Syaikh Safar Al-Hawali, dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin memuji buku karya beliau tersebut untuk dijadikan rujukan. Silakan merujuk pada: https://islamqa.info/ar/226290.

     
     

    Asy’ariyyah saat ini punya pemahaman menyimpang:

    • Berpaham Jabariyah dalam hal takdir, bahwasanya Allah memaksa hamba untuk berbuat, tanpa punya pilihan.

    • Murjiah dalam masalah iman.

    Mu’attilah (menolak sifat) dalam masalah sifat Allah.

    • Asy’ariyyah hanya mengakui tujuh atau sebagian sifat saja. Karena sifat-sifat yang mereka tetapkan itulah yang pas menurut akal.

    • Asy’ariyyah menolak sifat Allah menetap tinggi di atas Arsy, dan menolak sifat ketinggian bagi Allah. Mereka berpendapat bahwa Allah bukan di dalam alam, bukan di luarnya, bukan di atas, bukan di bawah.

     
     

    Sampai-sampai Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menyatakan dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah (hadis no. 28), hlm. 316 (Penerbit Daruts Tsaraya):

    “Kitab yang paling bagus membantah Asy’ariyyah adalah kitab karya saudara kami Safar Al-Hawali. Karena kebanyakan orang tak memahami penyimpangan Asy’ariyyah dari madzhab salaf, melainkan dalam bahasan Asma’ dan Sifat saja. Padahal sejatinya mereka punya penyimpangan yang banyak.”

     
     

     
     

    Dari Tiga Pemahaman Di Atas, Dengan Penyimpangan Tersebut, Apakah Pantas Dimasukkan Dalam Ahlus Sunnah Wal Jamaah Yang Mengikuti Alquran Dan As-Sunnah Sesuai Dengan Pemahaman Salaf? Kita Tahu Bagaimana Memberi Penilaian Dalam Hal Ini.

     
     

    Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.

     
     

     
     

    Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

    Sumber: https://rumaysho.com/14503-kelirukah-murjiah-mutazilah-dan-asyairah.html

    https://nasihatsahabat.com/kelompok-menyimpang-murjiah-muktazilah-dan-asy-ariyyah/ 

     

    (nahimunkar.org)

(Dibaca 608 kali, 1 untuk hari ini)