Terjadi di Masjid As-Salam Cengkareng Jakarta, waktu Jum’atan (27/2 2015).

Masjid Assalam adalah bangunan yang berdiri di tanah yang secara sah dimiliki oleh Muhammadiyah dengan Nomor Sertifikat Wakaf No. 3 Tanggal 23/09/2008. Dengan legalitas ini, semestinya pengelolaan oleh Muhammadiyah tidak lagi menjadi persoalan, karena memang demikianlah yang terjadi di setiap Masjid yang dimiliki Muhammadiyah.

Sejarah awal mula sehingga terjadi kerusuhan, dimulai dua atau satu tahun silam. Tanpa diketahui siapa yang melakukan, papan nama dan logo Muhammadiyah yang terpampang di depan masjid dicoret cat hitam. Selain itu, tanpa diketahui pelakunya, terpasang spanduk berbunyi ‘Masjid Muhammadiyah tersebut adalah milik Allah’.

Menurut informasi dari PCM Cengkareng puncaknya terjadi kemarin siang saat sholat jumat, sekelompok orang dengan mengerahkan massa merebut aset milik Muhammadiyah.

Salah satu siasatnya dengan menggelar Mauludan Akbar. Akibatnya, pada saat sholat Jumat (27/2) terjadi penyerangan di dalam masjid oleh sekelompok orang berbaju hitam hitam yang menyebabkan pengurus Muhammadiyah terluka. Bahkan, pengerahan massa ke masjid menyebabkan terjadinya kerusuhan.

Ini kutipan keterangan PCM Cengkareng yg redaksi terima :

“Keadaan gawat sebelum solat dimulai, saat protokol dari takmir naik mimbar untuk mengumumkan calon Khotib dan laporan keuangan (H. Yahman), dia ditarik orang-orang yg sudah dipersiapkan oleh mereka mau dipukul, lalu pemuda kita (Maulana) mau mengamankan langsung dikeroyok oleh orang-orang mereka (berpakaian sapari hitam). Keadaan semakin kacau saat itu karena pemuda melawan tapi ditarik oleh orang itu. Melihat keadaan begitu kita tidak berani bongkar plang. Kotib yg naik hari ini, direbut oleh Khotib pihak mereka. Setelah protokol kita ditarik keluar, lalu protokol dari pihak mereka yg naik dan selanjutnya naik pula khotib yg dari phk mereka. ”

Aksi premanisme di dalam masjid sungguh memprihatinkan dan kader muhammadiyah mendesak insiden ini diproses secara hukum
(sangpencerah)

 

Inilah hasil Wawancara dengan Ketua PC Muhammadiyah Cengkareng terkait Penyerobotan Masjid As-Salam

Hasil wawancara via phone dengan H.Romli (Ketua PCM Cengkareng) oleh sangpencerah.com :

  1. Sekitar tahun 1975, ada 8 orang mendirikan Yayasan As-Salam. 5 orang diantaranya adalah pengurus PCM Cengkareng,
    2. Dalam kesepakatan, jika Yayasan As-Salam bubar maka akan diserahkan ke Muhammadiyah,
    3. Selama 30-an tahun, tata cara ibadah di masjid As-Salam sesuai tuntunan Muhammadiyah,
    4. Warga di sekitar masjid juga ikut ibadah sesuai pengelolaan Muhammadiyah,
    5. Tahun 2008, telah disepakati Yayasan As-Salam dibubarkan,
    6. Setelah dibubarkan, Masjid pengelolaannya diserahkan oleh lembaga wakaf Muhammadiyah dan berdiri Ranting Muhammadiyah Cengkareng Barat Satu,
    7. Sertifikat masjid legal sudah milik Muhammadiyah, dicatat di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jakarta Barat,
    8. Sekitar 2 tahun lalu, ada pihak yg mencoba memprovokasi dengan mencoret-coret plang Muhammadiyah,
    9. Kemudian dipasang plang “Masjid ini milik Allah”, bukan golongan tertentu,
    10. Oknum tersebut memprovokasi warga sekitar untuk merebut kepengurusan masjid As salam,
    11. Puncaknya sebelum sholat jum’at kemarin, terjadi kericuhan akibat protokol takmir masjid dimimbar dipaksa turun oleh oknum berseragam hitam.
    12. Saat ini kasus ini diambil alih PDM Jakarta Barat untuk mengurusi lewat jalur hukum

/ http://buletinislam.com 01/03/2015

***

Komnas HAM Mengusut Penyerobotan Masjid Assalam Secara Paksa

 Masjid Diserbu 2

JAKARTA – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menerima pengaduan dari Pimpinan cabang Muhammadiyah Cengkareng tentang pengambilalihan Masjid Jami Assalam di kawasan Cengkareng Barat, Jakarta Barat sekitar dua pekan lalu. Hal tersebut disampaikan oleh Komisioner Komnas HAM, Meneger Nasution.

Ia mengatakan, pihak pimpinan cabang Muhammadiyah Cengkareng merasa bahwa masjid Jami Assalam telah diambilalih oleh sekelompok orang secara paksa dengan mengganti kepengurusan masjid, daftar imam masjid serta mencopot plang masjid.

Kejadian ini telah dilaporkan ke pihak kepolisian. Namun tidak mendapat respon lebih lanjut. Sehingga pihak pimpinan cabang Muhammdiyah Cengkareng meminta bantuan Komnas HAM dalam menyelesaikan permasalahan ini.

“Maka dalam pandangan Komnas HAM ini sesungguhnya menjadi catatan Komnas HAM kasus-kasus intoleransi. Karena dilarang mengamalkan keagamaan. Ada yang diteror dan diancam. Kelompok pimpinan cabang Muhammdiyah ini merasa karena mereka yang punya hak dari awal. Maka Komnas HAM akan mendorong negara agar kemudian menyelesaikan masalah. Jangan justru menjadi bagian dari masalah,” ujar Meneger Nasution saat ditemui di Kantor Komnas HAM Jakarta, Jumat (27/2/2015).

Menurutnya, jika masalah ini tidak segera diselesaikan maka akan menimbulkan peluang konflik horizontal yang besar. Hal ini dikarenakan, masjid sudah beroperasi lebih dari 10 tahun. Sehingga tindakan preventif perlu segera dilakukan.

Untuk itu, pada minggu depan Komnas HAM akan memanggil jajaran Pemerintah Kota Jakarta Barat , camat, lurah, RW, RT hingga pihak kepolisian Cengkareng untuk meminta klarifikasi dan mendorong jajaran pemerintah untuk bersifat profesional dalam menyelesaikan kasus pengambilalihan masjid tersebut.

Ia meminta agar semua pihak menahan diri agar permasalahan ini tidak memicu konflik.  Ia menambahkan, pihak pimpinan cabang Muhammadiyah tidak mempermasalahkan jika masjid digunakan oleh warga sekitar.

“Saat ini statusnya masih beroperasi. Justru informasi terakhir warga sudah masuk ke  dalam. Tolong semua menahan diri. Kita bisa bayangkan kalo sudah diambilalih gitu,” katanya. (adm/sp) http://tabligh.or.id

(nahimunkar.com)

(Dibaca 8.350 kali, 1 untuk hari ini)