• Subversi terhadap Islam berupa pelecehan syari’at melalui berbagai pernyataan-pernyataan para tokohnya. Sedangkan subversi politik misalnya sebagaimana bisa dilihat pada sikap kelompok liberal ini yang di tahun 2005 mendukung kenaikan harga BBM.
  •  Dari pemahaman liberal, Islam hendak direduksi menjadi seuntai ritual minus kewajiban melakukan nahimunkar, berjihad, dan sebagainya.
  • Buktinya, menurut Artawijaya, mereka tidak begitu peduli, bahkan tidak berpartisipasi aktif ketika umat Islam memberangus paham sesat yang juga berkembang, seperti Ahmadiyah dan sebagainya.
  • Pemahaman liberal yang diusung Ulil dan kawan-kawan bukan baru dimulai pada masa Nurcholish Madjid masih aktif menjajakan paham tadi, tetapi juga bisa ditemui pada sikap keberagamaan Raden Ajeng Kartini, setidaknya di dalam memaknai konsep ilahiah di antaranyamelalui sejumlah materi surat-menyurat antara Kartini dengan Stella, wanita keturunan Yahudi aktivis feminisme radikal yang mukim di Amsterdam, Belanda.
  • Kartini antara lain mengatakan: “Ya Tuhanku, adakalanya aku berharap, alangkah baiknya jika tidak ada agama itu,…”

PAHAM LIBERAL yang sejatinya hanya diusung segelintir orang, namun bisa menjalar luas berkat dukungan beberapa hal. Antara lain, pendanaan dari lembaga asing seperti the Asia Foundation; juga dukungan media sekuler melalui aksi propaganda dan stigmatisasi terhadap Islam.

Hal itu dikatakan Artawijaya pada forum Madrasah Dhuha yang rutin berlangsung di AQL (Ar-Rahman Qur’anic Learning), ahad pagi, 21 Oktober 2012, di jalan Tebet Utara I no. 40, Jakarta Selatan.

Pada kesempatan tersebut penulis buku #Indonesia Tanpa Liberal: Membongkar Misi Asing dalam Subversif Politik dan Agama ini juga mengatakan bahwa kelompok liberal perusak agama ini juga pelaku tindakan subversi.

Subversi terhadap Islam berupa pelecehan syari’at melalui berbagai pernyataan-pernyataan para tokohnya. Sedangkan subversi politik misalnya sebagaimana bisa dilihat pada sikap kelompok liberal ini yang di tahun 2005 mendukung kenaikan harga BBM.

Kelompok liberal ini selain mempropagandakan bahwa semua agama itu sama, juga mengatakan bahwa Tuhan itu satu, hanya penyebutannya saja yang berbeda. Orang Islam menyebut Allah, Yahudi menyebut Yahwe, Kristen dan Katolik menyebutnya Yesus. Sedangkan peganut Hindu menyebut tuhannya dengan sebutan Sang Hyang Widi.

Pemahaman itu jelas bertentangan dengan konsep tauhid dalam Islam yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah.

Dari pemahaman liberal, Islam hendak direduksi menjadi seuntai ritual minus kewajiban melakukan nahimunkar, berjihad, dan sebagainya.

Kekhawatiran Artawijaya tehadap berkembangnya paham liberal di tengah-tengah masyarakat muslim Indonesia, ternyata juga dibarengi dengan rasa khawatirnya terhadap perkembangan berbagai majlis yang suka konvoi yang memberi kesan seolah-olah Islam (versi mereka) hanya berada di wilayah ritual, minus nahimunkar.

Buktinya, menurut Artawijaya, mereka tidak begitu peduli, bahkan tidak berpartisipasi aktif ketika umat Islam memberangus paham sesat yang juga berkembang, seperti Ahmadiyah dan sebagainya.

Artawijaya juga mengatakan, pemahaman liberal yang diusung Ulil dan kawan-kawan bukan baru dimulai pada masa Nurcholish Madjid masih aktif menjajakan paham tadi, tetapi juga bisa ditemui pada sikap keberagamaan Raden Ajeng Kartini, setidaknya di dalam memaknai konsep ilahiah. Hal tersebut sebagaimana bisa dirasakan melalui sejumlah materi surat-menyurat antara Kartini dengan Stella.

Stella adalah nama panggilan dari Estella H. Zeehandelaar, wanita keturunan Yahudi aktivis feminisme radikal yang mukim di Amsterdam, Belanda.

Dalam salah satu suratnya kepada Stella bertanggal 06 November 1899, Kartini antara lain mengatakan: “Ya Tuhanku, adakalanya aku berharap, alangkah baiknya jika tidak ada agama itu, sebenarnya yang harus mempersatukan semua hamba Allah… orang yang seibu sebapak berlawanan karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang berkasih-kasihan dengan amat sangatnya, dengan amat sedihnya bercerai-berai. Karena berlainan tempat menyeru Tuhan, Tuhan yang itu juga, berdirilah tembok yang membatasi hati yang berkasih-kasihan. Benarkah agama itu restu bagi Manusia? Tanyaku kerap kali kepada diriku sendiri dengan bimbang hati…”

Menurut hemat Atawijaya, perkembangan paham liberal memang memprihatinkan. Ketika ditanya bagaimana menghambat lajunya perkembangan paham liberal, Artawijaya cenderung menganjurkan kepada setiap keluarga untuk menanamkan nilai agama dan mempraktekkannya sejak dini. Dengan cara yang benar.

Karena, faktanya para pengusung paham liberal seperti Ulil, Nurcholis Madjid dan sebagainya, justru berasal dari keluarga yang paham agama, yaitu keluarga yang sejak dini mengenalkan agama kepada anak-anaknya. Artinya, para pengasong kesesatan berfikir itu justru datang dari keluarga agamis. (haji/tede/nahimunkar.com)

(Dibaca 574 kali, 1 untuk hari ini)