Kembalikan Acara Akad Nikah Sesuai Tuntunan Islam

  • Masa’ agama malah niruin sinetron sih?

     

Suatu hari, ketika ada acara akad nikah, saya bengong keheranan. Lha wong anak perempuan kok ‘berdeklamasi’ bersuara dengan berpose seperti sungkem minta ke orang tuanya perempun dan laki-laki (yang akan jadi walinya, karena memang orang tua kandung) untuk dinikahkan dengan lelaki bernama Fulan.

Ha? Kenapa jadi begini? Pikir saya. Kan ketika anak perempuan itu dilamar oleh calon suaminya, justru dia sudah ditanya (oleh orang tuanya atau wakil yang diserahi untuk bertanya), mau atau tidak? Setelah menyatakan mau, lha kok ketika menjelang akad nikah malah si anak perempuan calon pengantin minta orang tuanya sendiri yang jadi wali itu untuk menikahkan dirinya dengan lelaki Fulan yang telah melamarnya tersebut?

Bukankah itu maknanya malahan seolah mengabsahkan pacaran? Seakan seperti ungkapan: “Bapakku, aku putrimu ini sudah pacaran dengan lelaki bernama Fulan. Sekarang nikahkan dong Pak, putrimu ini dengan pacarku, si fulan itu…”

Melihat kenyataan zaman sekarang ini, saya dalam keadaan bengong terheran-heran itu, tiba2 orang KUA yang tentunya sudah berpengalaman menikahkan orang, bertanya ke saya yang lagi bengong: ‘Antum dulu nikah pakai beginian, ga’? ‘

Ya ga’ lah, jawab saya. Lha Bapak, pakai ginian (tetek bengek clekunik seperti tersebut)?

Dijawab: ya ga’ lah.

Sampai di rumah, saya bertanya ke keluarga saya mengenai hal yang membengongkan saya itu tadi.

Dijawab, oh itu sepertinya niru sinetron… kalau acara pernikahan pakai OC ( Organizing Committee, struktur kepanitiaan event yang dilangsungkan) ya sering begitu.

Jawaban itu menjadikan saya tertegun. Karena akad nikah itu merupakan ritual- ibadah yang sudah ada tuntunannya dalam Islam. Ada syarat – dan rukunnya (hal yang wajib dilakukan) yang sudah ditentukan dalam Islam. Ya mestinya dikembalikan saja ke tuntunan yang sudah baku dalam Islam. Tidak usah neko-neko macem2. Apalagi akibatnya, orang akan menyebutnya niruin sinetron.

Masa’ agama malah niruin sinetron sih?

Padahal sudah sejak lama, justru para ulama sudah menyuarakan ‘Jangan sampai sinetron menampilkan adegan acara akad nikah. Karena akad nikah itu ibadah, untuk nenjadikan sahnya lelaki dan perempuan menjadi suami istri dengan syarat2 dan rukun (hal yang wajib dilakukan) yang telah ditentukan dalam Islam. Maka jangan sampai dibikin sebagai mainan, jadi tontonan hiburan, sinetron.

Setelah ternyata justru acara akad nikah sungguhan malah seperti niruin sinetron, maka betapa keblinegrnya ini. Maka sekali lagi, kembalikanlah acara akad nikah sesuai tetacara Islam. Tidak usah macem2, neko-neko, yang akibatnya menjadikan sesuatu yang telah diatur oleh Islam, lalu dibikin-bikin semaunya oleh manusia-menusia yang sama sekali tidak berhak untuk menambah-nambahi tatacara agama. Sebelum diberi stempel ‘perlu menghargai muatan lokal atau budya lokal’, maka mari kita cepat2 bersihkan itu. Biar tidak jadi gawe dan ndrawasi!

Via fp

Hajaiz

8 menit  · 

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 405 kali, 1 untuk hari ini)