Kembalikan Nadiem ke Ojek Online !!


KEMBALIKAN NADIEM KE OJEK ONLINE!!

 

Hari ini muncul foto kebersamaan Nadiem dan Megawati di media berita. Kemunculan foto ini, memantik spekulasi ditengah isu resufle kabinet pemerintahan Jokowi. 

 

Kalau ditanya kementrian apa yang selalu menimbulkan kehebohan, jawabannya pasti Kemendikbud. 

 

Belum jelasnya urusan kegiatan belajar mengajar di tingkat sekolah dan perguran tinggi, kementrian ini malah membuat pemberitaan mengenai hilangnya mata pelajaran Pancasila dan beredarnya nama-nama tokoh komunis dalam buku sejarah Indonesia yang dikeluarkan Kemendikbud. 

 

Publik dan pecinta Pancasila protes atas hilangnya mapel Pancasila, seiring tindak lanjut pelaksanaan PP no. 57 tahun 2021 yang dikeluarkan pemerintah. Belum selesai perdebatan disitu, kembali Nadiem menjadi tokoh pemberitaan miring atas lenyapnya nama2 tokoh nasional yang berganti dengan tokoh2 komunis dibuku sejarah yang dikeluarkan oleh kemendikbud. 

 

Sekedar napak tilas..

 

Menjelang akhir tahun lalu, Megawati telah meminta Nadiem meluruskan sejarah pemberontakan 65 oleh PKI. Permintaan Megawati ini seperti terlaksana dengan keluarnya kamus sejarah yang malah menuliskan lengkap tokoh2 komunis dan kisah heroik mereka dalam perkembangan sejarah Indonesia. 

 

Di sisi lain, malah menghilangkan keberadaan tokoh-tokoh nasional dan agamis yang menjadi tonggak perlawanan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kubu NU termasuk pihak yang meradang, karena hilangnya nama pendiri NU KH. Hasyim Asyari dalam kamus sejarah tersebut. 

 

Beredarnya foto Nadiem bersama Megawati, seperti sebuah isyarat bahwa Nadiem meminta suaka pada Mega atas kehebohan yang terjadi. Dalam dialog imajinernya, mungkin bengini..

 

“Ibu, saya sudah laksanakan apa yang ibu minta. Untuk itu tolong ibu membantu saya untuk menyelesaikan masalah masa depan jabatan saya dipemerintahan saat ini..”

 

Ini percakapan imajiner ya, bukan percakapan sebenarnya. Percakapan yang dikira-kira begitulah kemungkinan kejadiannya, saat mereka bertemu. 

 

Nadiem meminta perlindungan pada Mega, karena menganggap Mega masih memegang kuasa pada diri Jokowi. Bukankah Jokowi adalah petugas partai, seperti apa kata Mega dahulu? Dengan titel petugas partai, maka Nadiem menganggap penting menemui Mega menanggapi kehebohan yang membuat namanya tersudut dan mengantisipasi isu resufle yang memuat namanya sebagai salah satu kandidat terkuat yang akan diganti. 

 

Lagipula, hubungan Nadiem dan Mega memang sangat baik. Terbukti permintaan Mega atas pelurusan sejarah 65, telah Nadiem lakukan dalam peluncuran buku kamus sejarah Indonesia dimana nama tokoh-tokoh komunis sangat lengkap diulas kisahnya. 

 

Entah dosa apa negeri ini sampai bisa menghilangkan jasa-jasa pahlawannya dan menganggap perilaku demikian hanya keteledoran yang tidak disengaja. Padahal, dalam merumuskan sebuah buku pastinya ada kajian dan juga diskusi untuk menentukan bagaimana penentuan tokoh-tokoh sejarahnya dan bagaimana dampak yang diinginkan. 

 

Dengan memunculkan nama tokoh-tokoh komunis secara lengkap dan menghilangkan beberapa nama tokoh2 nasional dan agamis, saya pikir jelas kemana arah perumusan kamus sejarah tersebut. 

 

Ada penumpang gelap di kemendikbud yang ingin menjalankan misi terselubungnya. Dampak yang ditimbulkan andai kamus sejarah ini tidak dicekal, mungkin bukan saat ini. Namun 5-10 tahun mendatang, generasi penerus kita gak akan lagi menganggap KH. Hasyim Asyari itu tokoh yang dihormati atau tokoh2 nasional lainnya. Dan sebaliknya, mereka akan lebih mengenal tokoh-tokoh komunis dengan narasi kemunculan pertama mereka dan kisah heroik yang dibangun. 

 

Ini bahayanya, 10 tahun mendatang komunis bisa bukan lagi paham yang dianggap terlarang. Jika doktrin sudah masuk, maka perlahan kebijakan akan mengubah prosesnya setahap demi setahap. 

 

Kenapa ada yang marah dan kenapa ada yang bertanya apa maksud kemendikbud, mungkin bisa paham apa dampak kedepannya andai masalah ini tidak diselesaikan. 

 

Dan buat Nadiem, selesai sajalah karirmu di pemerintahan. 

 

Mengurus kemendikbud tidak sama dengan mengurus ojek online, dimana setiap kebijakan aplikator adalah mutlak dan harus dipatuhi para mitranya. 

 

Di kemendikbud, kebijakan salah akan berhadapan dengan rakyat. Mau dapat perlindungan Mega atau Ksatria Baja Hitam sekalipun, gak akan membuat nama Nadiem terselematkan. 

 

Ganti Nadiem, kembalikan dia ke ojek online. Itu lebih baik buat harga dirinya. 

 

(By Setiawan  Budi)

portal-islam.id, Kamis, 22 April 2021 CATATAN

(nahimunkar.org)

(Dibaca 204 kali, 1 untuk hari ini)